Manusia adalah makhluk yang berfikir, atau dalam istilah Arab dikenal dengan al-insan hayawan nathiq. Ketika manusia berfikir, ia mampu memproduksi pengetahuan untuk kepentingan kehidupan. Daya cipta lahir dari proses berfikirnya. Tak hanya itu, potensi berfikir menjadi pembeda antara dirinya dengan makhluk lain. Potensi berfikir sekaligus menjadi pendorong untuk membangun peradaban sebagaimana tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan kata-kata yang mewakili makna berfikir. Penyebutan ayat ini meneguhkan kenyataan bahwa al-Qur’an sangat memperhatikan hal ini untuk mendorong manusia dalam berfikir. Salah satu kata yang mewakilinya adalah al-fikr dengan beragam derivasi katanya.
Makna Berfikir
Kata al-fikr sering disepandankan dengan kata berfikir (bahasa Indonesia) atau think atau thinking. Dalam KBBI (2022) kata berpikir berarti menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Seseorang yang berpikir berarti ia menggunakan akal untuk membuat keputusan juga menguatkan ingatan pada objek yang diingat sebelumnya. Dalam Kamus Psikologi sebagaimana dilansir pada https://psychologydictionary.org/ disebutkan bahwa berfikir (thinking) merupakan perilaku mental di mana ide, gambar, simbolisasi kognitif, atau komponen hipotetis pemikiran lainnya dialami atau dimanipulasi. Pengertian ini, berpikir termasuk membayangkan, mengingat, memecahkan masalah, asosiasi bebas, melamun, pembentukan konsep, dan berbagai prosedur lainnya. Dalam pengertian ini berfikir menjadi banyak aktivitasnya dalam ruang kognisi manusia.
Kata al-fikr dalam bahasa Arab berasal dari kata fakara dengan susunan huruf fa, kaf, dan ra. Kemudian dalam Lisan al-Arab, Ibnu Manzur mendefinisikan berfikir dengan tindakan memikirkan sesuatu dan perenungan adalah bagian dari pemikiran. Di antara mereka juga ada yang mengatakan intelektual dan kontemplasi. Al-Fayrouzabadi mendefinisikannya dengan pemikiran dan tindakan melihat sesuatu seperti ide.
Al-Raghib Al-Isfahani mendefinisikannya dengan ide atau kekuatan yang membawa pengetahuan kepada yang diketahui. Perenungan adalah proses dari kekuatan tersebut menurut pandangan akal manusia dan bukan hewan.
***
Al-Fikr dalam pandangan Sajid Sabri Nu’man pada Mafhum al-‘Ilm fi al-Fikr al-Islami adalah proses mental dan intelektual yang dilakukan oleh pikiran manusia, yang membuatnya mampu membentuk bentuk khas dunia tempat seseorang hidup. Karenanya ia menjadi sadar akan hal itu dan mampu menghadapinya secara lebih efektif, untuk mencapai tujuan, rencana, dan keinginan.
Apa yang ingin dicapai, dan didefinisikan sebagai cara di mana jiwa manusia bergerak di antara berbagai bidang realitas dan segala sesuatu yang logis dan masuk akal bagi pikiran manusia, untuk merenungkan dan mengungkapkan yang masuk akal. Dapat didefinisikan sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan pikiran dalam pengetahuan untuk mengungkapkan tentang yang tidak diketahui, dan juga didefinisikan sebagai proses di mana kebenaran disampaikan ke otak melalui penggunaan berbagai indera, dan bekerja untuk menghubungkannya dengan informasi sebelumnya untuk menafsirkannya atau mengeluarkan penilaian terhadapnya.
Lafal Bermakna Berfikir dalam al-Qur’an
Izzan (2013) dalam Ulumul Qur’an menyebutkan bahwa terdapat 18 ayat yang membicarakan tentang berfikir. Ragam ayat ini adalah Al-Mudaṡṡir ayat 18, Al-Araf ayat 176 dan 184, Yūnus ayat 24, Al-An’am ayat 50, Saba’ ayat 46, Az-Zumar ayat 42, Al-Jatsiyah ayat 13, An-Nahl ayat 11, 44, dan 69, Ar-Rūm ayat 8 dan 21, Ar-Ra’d ayat 3, Al-Baqarah ayat 219 dan 266, Ali Imran ayat 191, dan al-Hasyr ayat 21. Dalam ayat-ayat ini terdapat beberapa kata yang mewakilinya seperti tadabbara, faqaha, tafakkara, dan ‘alima.
Penelusuran terhadap beberapa ayat di atas ditemukan beberapa kata yang mewakili makna berpikir.
| No | Surah | Kata | Makna |
| 1 | Al-Mudaṡṡir ayat 18 | فَكَّرَ | memikirkan |
| 2 | Al-Araf ayat 176 dan 184 | يَتَفَكَّرُوْنَ | mereka berpikir |
| 3 | Yūnus ayat 24 | يَتَفَكَّرُوْنَ | kaum yang berpikir. |
| 4 | Al-An’am ayat 50 | تَتَفَكَّرُوْنَ | kamu tidak memikirkan |
| 5 | Saba’ ayat 46 | تَتَفَكَّرُوْاۗ | Kamu memikirkan |
| 6 | Al-Jatsiyah ayat 13 | يَّتَفَكَّرُوْنَ | kaum yang berpikir |
| 7 | An-Nahl ayat 11, 44, dan 69, | يَّتَفَكَّرُوْنَ | orang yang berpikir |
| 8 | Ar-Rūm ayat 8 dan 21 | يَّتَفَكَّرُوْنَ | kaum yang berpikir |
| 9 | Ar-Ra’d ayat 3 | يَّتَفَكَّرُوْنَ | kaum yang berpikir |
| 10 | Al-Baqarah ayat 219 dan 266 | تَتَفَكَّرُوْنَۙ | kamu berpikir |
| 11 | Ali Imran ayat 191, | تَتَفَكَّرُوْنَ | kamu memikirkan |
| 12 | al-Hasyr ayat 21 | يَتَفَكَّرُوْنَ | mereka berpikir |
Dari dua belas ayat di atas, berfikir diwakili dengan kata tafakkara dengan beragam derivasinya. Kebanyakan bentuk lafalnya berupa fi’il terbukti dengan bentuk mudhari’ pada lafal yatafakkarun, tatafakkarun, dan tatafakkaru. Sementara dalam bentuk fi’il madhi hanya 1 kata yaitu fakkara. Pemaparan dalam bentuk fi’il menunjukkan bahwa berfikir merupakan proses, bukan menyatakan langsung kata benda. Sebab, kata kerja atau fi’il biasanya merujuk pada sebuah proses dalam perbuatan atau peristiwa yang terjadi.
***
Selain itu, kata al-fikr pada ayat di atas banyak menjadi bentukan tafakur dengan lafal dasar tafakkara. Kata ini diartikan sebagai perihal merenung, memikirkan, atau menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh; atau mengheningkan cipta. Banyaknya sebutan kata kerja bagi tafakur ini menunjukkan bahwa al-Qur’an mendorong manusia untuk memikirkan dan merenungkan apa yang ada di dunia ini sebagai wujud dari kekuasaan Allah Swt. Berfikir melalai tafakur ini tidak semata-mata jalinan pengetahuan satu objek pada objek lain. Akan tetapi, mengaitkan proses ini pada kekuasaan-Nya. Wallahu A’lam.
Editor: An-Najmi

























Leave a Reply