Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy Sang Penggagas Ilmu Nahwu

ilmu nahwu

Ilmu nahwu merupakan ilmu yang menjadi salah satu komponen dalam mempelajari bahasa Arab. Perlu diketahui bahwa ilmu ini digagas oleh seorang tokoh terkemuka, yakni Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy. Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy merupakan penggagas ilmu nahwu dan pakar tata bahasa Arab dari Bani Kinanah. Ia dijuluki sebagai bapak bahasa Arab karena yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab.

Biografi Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy

Nama lengkapnya ialah Dzalam ibn Amru ibn Sufyan ibn Jandal ibn Yu’mar ibn Dua’liy. Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy biasa dipanggil dengan nama kuniah (panggilan) Abu Aswad. Ia dikenal nama Dua’liy karena dinisbatkan kepada kabilah Dual dari Bani Kinanah. Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy lahir pada tahun 603 M di Basrah dan wafat di Basrah juga 69 H.

Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy dilahirkan pada zaman Jahiliah yakni setahun sebelum Hijrah, dia masuk Islam di akhir masa kenabian. Namun tidak pernah bertemu langsung dengan nabi Muhammad saw. Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy merupakan seorang tabi’in, murid sekaligus sahabat khalifah ke empat, yaitu Ali ibn Abi Thalib. Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy dikaruniai dua anak laki-laki yaitu Atha’ dan Harb serta dua anak perempuan.

Dia memiliki ciri-ciri fisik yaitu bagian depan kepalanya botak. Adapun pendapat lain yang mengatakan bahwa Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy turut serta dalam perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib. Dia termasuk pembesar kelompok pendukung Ali dan orang yang paling sempurna akal serta pendapatnya di antara mereka.  Adapun pendapat dari Ahmad Al-Ijli yang mengatakan bahwa Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy adalah seseorang yang terpercaya (tsiqah).

Baca Juga  Menguatkan Toleransi Melalui Purifikasi Muhammad Abduh

Sang Pengaggas Titik pada Huruf Hijaiyah

Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy adalah orang yang pertama kali meletakkan titik pada huruf hijaiyah dan seorang hakim di Bashrah. Kemudian menjadi gubernur di sana yang di angkat oleh Ali bin Abi Thalib. Dalam mempelajari ilmu-ilmu yang di milikinya. Beliau berguru pada Ali bin Abi Thalib dan belajar ilmu nahwu dari gurunya itu.

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib telah menyuruh meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu ketika mendengar kecerdasan yang dimiliki Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy. Al Waqidi berkata, “Lalu Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy menunjukkan kepadanya apa yang telah ditulisnya.” Ali bin Abu Thalib berkata, “Alangkah baiknya nahwu yang kamu tulis ini.”  Dan diriwayatkan pula bahwa dari situlah ilmu nahwu disebut ‘nahwu’ yaitu di ambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib adalah yang pertama kali mencetus kodifikasi ilmu bahasa Arab dan menyusun bab inna wa akhawatuha, idhafah, imalah, ta’ajub, istifham dan sebagainya. Kemudian memerintahkan Abul Aswad Ad-Dualiy untuk mengembangkannya sambil berkata: انح هذا النحو “unhu hadzan nahwu” (Ikutilah yang semisal ini!).

Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy diperintahkan untuk mengembangkan bahasa Arab oleh Ali bin Abi thalib karena pada masa itu Islam telah berkembang ke berbagai negara dan orang asing (ajam/non arab). Tetapi banyak yang salah dalam berbahasa Arab dan kesulitan memahami Al-Quran, serta masuknya orang-orang ajam ke negeri-negeri Islam lalu mencampur bahasa mereka.

Motivasinya dalam Mengembangkan Bahasa Arab

Di kisahkan Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy semakin semangat mengembangkan bahasa Arab adalah pada suatu malam ia berjalan dengan putrinya. Kemudian putrinya berkata: ما اجمل السماء “maa ajmalus samaa’i” (Apa yang paling indah langit?). Kemudian Abul Aswad Ad-Dua’liy berkata: نجومها “nujumuha” (bintang-bintangnya), kemudian putrinya berkata, “Aku bermaksud mengungkapkan ketakjuban (kekaguman)”. Maka Abul Aswad Ad-Dua’liy berkata membenarkan, katakanlah: ما اجمل السماء “maa ajmalas samaa’a” (betapa indahnya langit).

Baca Juga  Antara Inzal dan Tanzil: Mengambil Hikmah Nuzul Al-Qur’an

Dari kejadian ini dapat disimpulkan bahwa huruf hijaiyahnya (Arab) sama, akan tetapi cara membaca (harakatnya) berbeda, sehingga artinya pun berbeda. Adapun pendapat Al-Mubarrad yang mengatakan bahwa Al-Mazini menceritakan kepadanya sebab yang melatarbelakangi diletakkannya ilmu nahwu adalah karena Bintu Abu Al Aswad (anak perempuan Abu Al Aswad) berkata kepadanya:

‘Maa asyaddu Al Harri (alangkah panasnya) Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy lalu berkata, Al-Hasyba Ar-Ramadha’ (awan hitam yang sangat panas)’ anak perempuan Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy berkata, ‘aku takjub karena terlalu panasnya’. Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy berkata, ‘Ataukah orang-orang telah biasa mengucapkannya ?’. Kemudian Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy mengabarkan hal itu kepada Ali bin Abu Thalib. Lalu dia memberikan dasar-dasar nahwu kepadanya dan dia meneruskannya.

Ada lagi riwayat yang menyebutkan, bahwa sejarah perumusan tanda-tanda yang dikerjakan oleh Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy tersebut terjadi pada permulaan Bani Umayyah di masa kepemimpinan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (41-60 H/661-683 M). Ziyad ibn Abihi, seorang gubernur Basrah (55 H), telah meminta kepada Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy untuk menciptakan syakal yang berfungsi membuktikan adanya huruf hidup.

Karya-Karyanya

Adapun karya-karya Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy adalah beliau merupakan yang pertama kali meletakkan titik pada huruf hijaiyah. Orang pertama yang mengumpulkan mushaf dan mengarang ilmu nahwu dan peletak dasar kaidah-kaidah nahwu atas rekomendasi dari Ali bin Abi Thalib.

Beliau juga telah berjasa dalam membuat harakat Al-Qur’an yaitu sistem penempatan “titik-titik” tinta berwarna merah. Kemudian berfungsi sebagai syakal-syakal yang menunjukkan unsur-unsur kata Arab yang tidak terwakili oleh huruf-huruf. Penempatan titik-titik tersebut adalah:

1. Tanda fathah dengan satu titik diatas huruf (a).

2. Tanda kasrah dengan satu titik di bawah huruf (i).

Baca Juga  Tafsir Faid Al Rahman vs Era 5.0

3. Tanda dhammah dengan satu titik di sebelah kiri huruf (u).

4. Tanda tanwin dengan dua titik (an-in-un).

Untuk membedakan titik-titik tadi dari tulisan pokoknya (biasanya berwarna hitam), maka titik-titik itu diberi warna (biasanya warna merah). Al-Jahizh berkata, “Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy adalah pemuka dalam tingkat sosial manusia. Dia termasuk kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, pendukung Ali, dan orang yang  bakhil.

Muhammad bin Salam Al Jumahi berkata, “Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy adalah orang yang pertama kali meletakkan bab Fa’il, Maf’ul,  Huruf  Rafa’, Nashab, Jar, dan Jazm. Yahya bin Ya’mar lalu belajar tentangnya.”

Kajian Ilmu Nahwu

Sedangkan dalam riwayat al-Zubaidi, dijelaskan bahwa Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy dan Nashr ibn Ashim al-Laitsi. Abdurrahman ibn Hurmuz telah menyusun materi nahwu dalam beberapa bab yaitu: Awamil al-Rafa, al-Nashb, al-Khafad, al-Jazm, bab al-Fa‟il, maful bihi, at-Taajjub dan al-Mudhaf. Nashr ibn Ashim al-Laitsi menambahkan penyusunan ilmu nahwu yaitu: ar-Rafa’, an-Nashb, al-Jar, at- Tanwin, dan al-I’rab.

Upaya Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy dalam penyempurnaan penulisan (rasm) mushaf berjalan secara bertahap. Awalnya syakal (nuqthah) dan disempurnkan lagi oleh kedua murid Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy yaitu: Nashr ibn Ashim al-Laitsi (707 M) dan Yahya ibn Yamur al-Udwan al-Laitsi (w 708 M). Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy meninggal karena wabah ganas yang terjadi pada tahun 69 H (670-an M) dalam usia 85 tahun.