Muhammad Abdul Mannan berpendapat bahwa ilmu ekonomi Islam dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang diilhami nilai-nilai Islam. Maksudnya adalah bahwa ilmu ekonomi Islam tidak hanya mempelajari individu sosial melainkan juga manusia dengan bakat religius manusia itu sendiri. Hal ini di sebabkan banyaknya kebutuhan dan kurangnya saran, maka timbullah masalah ekonomi Islam. Mannan juga mengatakan bahwa ekonomi Islam merupakan bagian dari suatu tata kehidupan lengkap, berdasarkan empat bagian nyata dari pengetahuan, yaitu: Al-Qur’an, as-sunnah, Ijma dan Qiyas. Muhammad Abdul Mannan adalah salah satu tokoh ekonomi muslim yang ikut mengatur konsep konsumsi supaya perilaku konsumen muslim terhindar dari pengaruh konsumsi ekonomi barat (kapitalis).
Konsep Konsumsi Dalam Pandangan Muhammad Abdul Mannan
Menurut Muhammad Abdul Mannan konsumsi merupakan bagian yang sangat penting dalam kajian ekonomi. Konsumsi tidak hanya sekedar bagaimana menggunakan hasil produksi saja. Konsumsi islami harus dapat menciptakan sebuah distribusi pendapatan dan kekayaan (ekonomi) yang adil.
Dalam Islam, pada hakikatnya konsumsi adalah suatu bentuk perilaku ekonomi yang asasi dalam kehidupan manusia. Setiap makhluk hidup pasti melakukan aktivitas konsumsi termasuk manusia. Pengertian konsumsi dalam ilmu ekonomi tidak sama dengan istilah konsumsi dalam kehidupan sehari-hari yang diartikan dengan perilaku makan dan minum. Dalam ilmu ekonomi konsumsi adalah setiap perilaku seseorang untuk menggunakan dan memanfaatkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Muhammad Abdul Mannan mengkritik pola konsumsi modern yang sangat mengagung-agungkan matrealis. Menurutnya semakin tinggi jenjang peradaban, masyarakat semakin terkalahkan oleh kebutuhan fisiologik karena faktor-faktor psikologis. Keangkuhan, dorongan-dorongan untuk pamer merupakan faktor yang dominan dalam menentukan bentuk konkrit dari kebutuhan fisiologik. Peradaban modern dari Barat menghancurkan segala bentuk kesederhanaan dari kebutuhan konsumsi masyarakat. Peradaban mereka membuat semakin banyak dan bermacam-macam kebutuhan dalam mencapai kesejahteraan. Dalam peradaban materialistik Barat kesejahteraan diukur berdasarkan sifat kebutuhan yang diusahakannya untuk dapat terpenuhi kepuasan khusus.
Prinsip konsumsi seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Menurut ekonomi Islam, dalam memenuhi keperluan hidup manusia, terdapat perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan didefinisikan sebagai segala keperluan dasar manusia untuk hidup. Sementara keinginan didefinisikan sebagai kemauan manusia. Etika konsumsi Islam berusaha mengurangi kebutuhan material manusia.
Keadaan Ekonomi dan Pola Konsumsi Saat Ini
Penyebaran covid-19 tercatat sangat cepat dan masif di Indonesia. Pandemi covid-19 ini bukan hanya menyerang kesehatan, namun juga ekonomi secara global, tak terkecuali Indonesia. Kalangan pengusaha menilai covid-19 telah membawa dampak negatif besar terhadap perekonomian Indonesia. Pasalnya, covid-19 telah mengganggu mata rantai produksi industri sehingga perputaran bisnis menjadi tidak lancar, sementara kewajiban para pengusaha tetap harus berjalan. Akibatnya banyak karyawan yang terpaksa hilang pekerjaannya karena terkena PHK dan nilai rupiah terus melemah tajam.
Akibat penyebaran Covid-19 pola konsumsi masyarakat secara otomatis akan berubah. Masyarakat akan cenderung untuk tidak melakukan kegiatan perjalanan dan lebih cenderung meningkatkan konsumsi pada barang-barang kebutuhan pokok yang dianggap penting sebagai antipasi terjadinya pembatasan pergerakan manusia. Secara keseluruhan, tingkat konsumsi akan cenderung turun karena harga yang terdistorsi akibat mahalnya biaya transportasi dan logistik barang. Sektor transportasi dan pergudangan juga mengalami penurunan yang paling besar dikarenakan pemerintah melarang perjalanan keluar negeri, hal ini menyebabkan banyak maskapai yang membatalkan penerbangannya dan mengalami kerugian.
Dampak dari pandemi pada kehidupan individu dan masyarakat pada bidang pangan juga akan terjadi. Ketersediaan dan akses pangan masyarakat menjadi penting sehingga pemerintahpun terus berusaha membantu bukan saja dalam bantuan materi seperti uang saja tetapi juga dalam bantuan pangan. Penyelesaian masalah covid-19 ini terutama pada dampak sosial tidak bisa hanya diserahkan pada pemerintah akan tetapi setiap keluarga harus berusaha untuk mengatasi masalah terutama dalam masalah pangan. Karena jika pangan tersedia tidak akan terjadi kelaparan dan masalah sosial lanjutan. Dan beberapa upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk menangani penyebaran virus covid-19 ini diantaranya adalah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara bertahap di wilayah-wilayah yang terindikasi mempercepat penyebaran virus covid-19. Penerapan PSBB setidaknya memberikan dampak yang signifikan bagi kegiatan masyarakat.
Banyak sekali hikmah yang bisa didapatkan dari virus corona ini. Yang pertama, begitu lemahnya manusia dihadapan Allah SWT. Terkadang manusia itu lebih merasa hebat dengan ilmu, kekayaan, dan kekuasaan yang dimiliki. Kedua, Kita harus lebih menjaga kebersihan diri dari lingkungan sekitar dan memakan makanan yang halal dan thayyib.
Terdapat relevensi antara pola konsumsi menurut Muhammad Abdul Mannan dengan pola konsumsi masyarakat saat ini. Kesadaran masyarakat, mengenai kebersihan diri dan lingkungan meningkat tajam dan masyarakat juga lebih memilih untuk menyimpan uang mereka dari pada untuk membelanjakannya untuk hal-hal atau barang-barang yang tidak bermanfaat di masa pandemi ini; yang mana hal ini membebaskan kita dari yang namanya pemborosan dan lebih mendekatkan kita ke kesederhanaan. Hal ini jelas sama dengan yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa konsumsi dikendalikan oleh prinsip, yaitu keadilan, kebersihan, kesederhanaan, kemurahan hati dan moralitas.
Di masa pandemi seperti ini kita harus bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, kita harus bisa menabung dan belajar tidak boros. Bukan hanya di saat pandemi saja tapi harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya untuk apa? Tujuannya untuk melatih kita supaya tidak menjadi orang yang boros dan juga untuk lebih mendekatkan kita ke dalam hidup yang sederhana. Karena Allah lebih suka manusia yang sederhana daripada menjadi manusia yang berlebih-lebihan. Hal ini seperti pemikiran abdul mannan dalam konteks menabung.
Editor: An-Najmi Fikri R
























Leave a Reply