Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tembang Macapat dalam Kehidupan Masyarakat Islam Jawa

Macapat
Gambar: surabaya.kompas.com

Macapat merupakan satra Jawa yang berbentuk tembang atau nyanyian. Selain di Jawa, tembang ini muncul di beberapa daerah lain. Macapat sendiri muncul pada era kerajaan Majapahit sejak Hindu-Budha berkembang di Jawa.

Tembang Macapat dan Wali Songo

Menurut beberapa sumber tembang ini dikenalkan oleh sebagian dari kaum bangsawan, dan Wali Songo sebagai metode dakwah Islam. Munculnya tembang macapat sendiri berawal dari kasunanan Surakarta untuk kepentingan acara Keraton sehingga dapat berkembang di sana.

Masyarakat Jawa sendiri adalah masyarakat yang masih memperhatikan dan mempertahankan kebudayaan para leluhurnya. Salah satunya adalah tembang macapat ini. Budaya ini merupakan warisan kebudayaan Jawa yang memuat konsep-konsep mengenai apa yang hidup di dalam pikiran yang bernilai, berharga dan penting di dalam hidup masyarakat Jawa.

Karena kecintaan masyarakat Jawa dengan kesenian, membuat para Wali Songo menggunakan seni sebagai alat dakwah. Hal ini membuat Islam dapat diterima di tengah tengah masyarakat Jawa sehingga Wali Songo dapat mengislamkan Nusantara. Pada awalnya Wali Songo sangat sulit memperkenalkan Islam di Jawa. Karena besarnya pengaruh Hindu Budha. Namun karena agama Hindu-Budha mengenal istilah kasta yang menyebabkan tidak semua orang bisa mempelajarinya.

Karena hanya orang yang berasal dari kalangan atas saja yang diperbolehkan sehingga masyarakat awam tidak diperkenankan mempelajarinya. Sebab perbedaan kasta tersebut, hal itu membuat masyarakat awam merasa tidak adil. Dan hal tersebut menjadikan celah untuk Wali Songo menyebarkan Islam pada kaum awam. Namun juga tidak sedikit yang menentang karena pengaruh kentalnya agama Hindu Budha dan kepercayaan terhadap nenek moyang.

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Baqarah Ayat 222-223 (1): Ketentuan Hukum Tentang Haid

Meluluhkan Kaum Awam Melalui Seni

Pada akhirnya Wali Songo membuat strategi yang akan bisa meluluhkan kaum awam dan hal tersebut berupa kesenian yang dapat diterima. Karena pada dasarnya kesenian tersebut muncul sejak Islam belum berkembang di Nusantara. Diharapkan melalui tembang macapat yang disiarkan oleh Wali Songgo, agama Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat Jawa. Konon katanya Sunan Muria lah yang paling hebat dalam mempertahankan kesenian Jawa ini.

Jika ditelisik lebih dalam banyak sekali nilai filosifis dan pesan-pesan keislaman yang termuat dalam termuat dalam tembang macapat ini. Sehingga menambah pengetahuan dan wawasan baru bagi masyarakat. Tembang macapat ini memiliki beberapa jenis yang jumlahnya ada 11. Di mana setiap jenis macapat tersebut memiliki makna yang mendalam dan menggambarkan setiap sisi perjalanan hidup manusia.

Kandungan Tembang Macapat

Tembang macapat sendiri selalu memperhatikan etika dan etestika. Sehingga mempunyai kandungan isi yang supel, padat dan berbobot. Adapun beberapa jenis tembang macapat sebagai berikut:

  • Maskumambang

Diartikan sebagai janin, yang merupakan awal dari perjalanan hidup manusia. Maskumambang berawal dari dua kata yakni mas yang berarti emas dan kumambang yang berarti mengambang. Umumnya karakter dari maskumambang berupa kesedihan, welas asih dan kesusahan.

  • Mijil

Diartikan keluar atau tembang ini bisa diartikan sebagai kelahiran janin dari rahim sang ibu. Tembang mijil mengandung kisah welas asih, pengharapan, prihatin dan cinta. Tembang mijil juga sering digunakan untuk menasehati dan memberikan ajaran leluhur kepada manusia.

  • Sinom

Mengambarkan masa muda yang mana tembang sinom ini memiliki arti isih enom atau masih muda. Tembang ini berisi tentang keindahan masa muda dan nasihat tentang pentingnya penggunaan masa muda dengan sebaik baiknya agar tidak menyesal di kemudian hari.

  • Kinanti
Baca Juga  Paradoks Tafsir Feminisme dalam Kitab Tafsir Kariman Hamzah

Diartikan sebagai tuntunan atau bimbingan. Tembang kinanti ini berisi tentang seorang anak yang membutuhkan bimbingan atau tuntunan dalam menjalani kehidupan.

  • Asmarandana

Asmarandana terdiri dari dua kata, yaitu asmara yang berarti cinta dan dahana yang berarti api. Secara harflah tembang asmarandana berarti api asmara. Tembang ini menggambarkan perjalanan hidup manusia yang sudah mengenal cinta dan di mabuk asmara.

  • Gambuh

Gambuh memiliki arti cocok atau berjodoh. Dari sebuah kecocokan ini sepasang manusia akan memulai biduk rumah tangga dalam sebuah ikatan pernikahan, menjalani komitmen dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia. Gambuh menggambarkan keselarasan dan kebijaksanaan.

  • Dhandanggula

Dhandanggula ini bermakna untuk mengharapkan sesuatu kehidupan yang indah, sebagai buah dari perjalanan pernikahan. Yang mengharapkan sebuah keluarga yang sakinnah, wamaddah dan warohmah.

  • Durma

Tembang durma ini berasal dari kalimat munduring tata krama atau berkurangnya tata krama. Tembang durma berisi tentang keburukan sifat manusia, seperti amarah, berontak, sombong, angkuh, dan suka mengumbar hawa nafsu.

Proses Akhir Manusia

  • Pangkur

Pangkur menggambarkan manusia yang semakin menua, dan menggalami kemunduran fisik. Tembang pangkur berisi tentang nasihat kehidupan untuk menjahui hawa nafsu dan angkara murka.

  • Megatruh

Menggambarkan kondisi manusia ketika meninggal dunia, tembang megatruh berisi agar manusia mempersiapkan diri dengan kehidupan di alam baka.

  • Pucung

Tembang pucung ini berisi tentang tahap akhir kehidupan manusia saat dikafani dan dikuburkan. Tembang pucung menggambarkan hal lucu yang berisi tebak-tebakan untuk menghibur hati. Maka yang terkandung dalam tembang pucung sangat dalam dan bijak, untuk menyelaraskan kehidupan manusia alam lingkungan dan tuhan.

Penyunting: Bukhari