Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Fenomena Berbusana Anak Muda Kekinian dalam Kacamata Islam

Sumber: liputan6.com

Melihat ajang runway di atas catwalk sudah merupakan hal yang biasa di kalangan para model untuk memperkenalkan pakaian dari desainer dalam acara-acara tertentu. Dengan balutan busana yang elegan dan kekinian, beberapa model memamerkan karya designer ternama di suatu panggung yang megah. Namun, berbeda dengan ajang runway yang satu ini, fenomena para pemuda di salah satu wilayah SCBD (Sudirman Citayam Bojonggede Depok) justru menciptakan gebrakan yang berbeda dari ajang runway yang biasanya. Para pemuda ini berkumpul dan berlenggak-lenggok di zebra cross di wilayah Citayam dengan busana nyentrik yang unik.

Bahkan, beberapa dari kalangan artis pun ikut meramaikan fenomena Citayam fashion week yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial ini. Salah satu yang menjadi sorotan ialah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang ikut serta meramaikan fenomena yang sedang ramai tersebut. Di akun media sosial Instagram miliknya, beliau membagikan moment melenggang bak model ternama itu bersama dengan beberapa model lainnya. Tidak mengherankan, karena begitu besarnya antusias masyarakat terhadap fenomena ini, beberapa kota di Indonesia juga terobsesi mengadopsi ajang Citayam Fashion Week. Diantara kota tersebut antara lain: Kota Bandung di Jalan Braga; Surabaya di kawasan Tunjungan; Kota Malang di Kayutangan; Semarang di Simpang Lima; Medan di Jalan Ahmad Yani; Yogyakarta di kawasan titik nol kilometer Malioboro; Madiun di kawasan Plaza Madiun; Sukabumi di kawasan Cibadak.

Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena yang sudah menjamur di masyarakat yang bermula dari Citayam fashion week ini ?

Masa Muda Dalam Islam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kekafiranmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, hidupmu sebelum datang kematianmu”. (HR. Al-Hakim). Masa remaja sering disebut dengan masa adoleson, dimana masa ini terjadi pematangan fungsi psikis maupun fisik yang berlangsung secara teratur. Pada masa ini, sering kali dinamai dengan fase “mencari jati diri” untuk menemukan sosok “aku” dalam diri manusia yang sudah bukan anak kecil lagi, pun juga bukan orang dewasa ini.

Baca Juga  Kecanggihan Kapal Nabi Nuh dalam Al-Qur’an

Untuk dapat menemukan sosok “aku”, para pemuda seringkali mencoba melakukan hal-hal baru yang menantang dan cenderung mengambil resiko. Oleh karenanya, harus tetap mendampingi para pemuda dalam menemukan jati dirinya. Karena pemuda merupakan kader bangsa, sebagaimana Rasulullah SAW berpesan, “Aku pesankan agar kalian berbuat baik kepada para pemuda, karena sebenarnya hati mereka itu lembut. Allah telah mengutus aku dengan agama yang lurus dan penuh toleransi, lalu para pemuda bergabung memberikan dukungan kepadaku. Sementara para orangtua menentangku”.

Adab Berpakaian Menurut Islam

Islam merupakan agama yang paripurna. Mengatur segala segmen kehidupan manusia dengan sangat teratur, mulai dari ia diciptakan sampai dipanggil ke hadapan-Nya. Termasuk adab dalam berpakaian. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Islam, di antaranya:

1. Menutup aurat

Dalam kitab Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, definisi aurat secara istilah ialah :

ما يحرم كشفه من الحسم سواء من الرجل أو المرأة

Artinya: Aurat adalah bagian-bagian tertentu dari tubuh laki-laki maupun perempuan yang tidak boleh ditampakkan.

Asy-Syarbini mendefinisikannya sebagai:

ما يحرم النظر إليه

Artinya: Bagian dari anggota tubuh yang tidak boleh dilihat.

Allah ta’ala berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 26

يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْاٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat“.

***

2. Pakaian tidak boleh ketat

Hendaknya seorang muslim memakai pakaian yang longgar dan tidak ketat. Disebutkan oleh Khalid bin Abdurrahman bahwa pakaian ketat merupakan fitnah bagi wanita yang dikhawatirkan akan menjadi petaka di masa depan. Karena memakai pakaian yang ketat masuk ke dalam kategori tabarruj.

Baca Juga  Menyiapkan Kader Dakwah dalam Muhammadiyah

3. Pakaian tidak boleh menampakkan bentuk tubuh

Allah berfrman dalam QS. Al-Ahzab: 59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”

Dalam suatu hadits disampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh”.(HR. Muslim)

***

4. Tidak mengandung kesombongan

Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa memakai baju kemewahan (karena ingin dipuji), maka pada hari kiamat Allah akan mengenakan untuknya baju semisal. Ia menambahkan dari Abu Awanah, “lalu akan dilahab oleh api neraka.” Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah ia berkata, “Yaitu baju kehinaan.” (HR. Abu Daud)

5. Pakaian wanita tidak boleh menyerupai laki-laki dan sebaliknya

Wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan jelas tidak diperbolehkan. Terkait hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi bisa disimpulkan bahwa ajang Citayam fashion week merupakan ajang yang mewadahi kreativitas anak muda. Maka selama masih positif, maka sudah sewajarnya kita memberi ruang untuk mereka. Namun, tentunya harus dengan bimbingan dan arahan supaya kreativitas tersebut serta tidak sampai melanggar norma-norma masyarakat apalagi hukum Islam.

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Isra Ayat 7: Membela Kemanusiaan Palestina

Editor: An-Najmi