Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Meraih Kebahagian Menurut Perspektif Tafsir Al-Jailani

bahagia
Sumber: istockphoto.com

Al-Qur’an senantiasa mengajak manusia untuk dapat menggapai kebahagiaan. Hal tersebut dapat diketahui serta dipahami melalui penafsiran Al-Jailani karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani terhadap ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang membahas mengenai kebahagiaan. Sehingga upaya yang harus dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan menurut al-Jilani adalah:

Khusyuk dalam shalat

Kebahagiaan juga dapat diperoleh ketika seseorang khusyuk dalam melaksanakan shalat, dan Allah SWT telah menjelaskannya dalam surah al-Mu’minun ayat 2;

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُوْنَ (1) ٱلَّذِیْنَ هُمۡ فِیصَلَاتِهِمۡ خَـٰشِعُوْنَ (2) وَٱلَّذِیْنَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُوْنَ (3) وَٱلَّذِیْنَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَـٰعِلُوْنَ (4) وَٱلَّذِیْنَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَـٰفِظُوْنَ (5)

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya.” (al-Mu’minun{23}:1-5)

Khusyuk secara etimilogi bermakna tunduk, takluk dan menyerah. Sedangkan secara terminologi khusyuk adalah sikap selalu tunduk kepada Allah SWT karena rasa takut terhadap-Nya; dan rasa takut tersebut selalu melekat di dalam hatinya. Menurut Ahmad Zacky El-Shafa, mengutip dari pendapat Ibn al-Qayyim bahwa khusyuk adalah menghadapnya hati kepada Allah SWT melalui sikap tunduk dan merendahkan diri. Dan yang dimaksud dengan sikap tunduk dan merendahkan diri adalah merasa hina dihadapan Allah SWT.

***

Al-Jailani menjelaskan bahwa khusyuk adalah kesempurnaan dalam shalat. Karena khusyuk merupakan keteguhan dan ketetapan seseorang dalam melaksanakan shalat, dan ini adalah sebuah bentuk proses untuk mencapai tingkat keridhaan dan diterimanya shalat. Orang-orang yang khusyuk dalam shalat selalu tunduk dengan merendahkan diri, sebagai wujud rasa rindunya kepada sesuatu yang haq. Baik yang berasal dari dalam hatinya maupun semua anggota badannya.

Baca Juga  Jangan Selalu Mengartikan Kata Kafir dengan Non-Muslim

Puncak dari kekhusyukkan dalam shalat adalah ketundukan dan kepatuhan seluruh anggota badan baik keadaan pikirannya maupun bisikan hati secara keseluruhan menuju kepada kehadirat Allah SWT. Kekhusyukkan dalam shalat memiliki dua tingkatan, yaitu tingkatan terendah dan tingkatan tertinggi. Tingkatan terendah kekhusyukkan dalam shalat adalah sekedar pengamalan yang tulus kapada Allah; yang diselingi dengan pikiran yang melayang kepada hal-hal yang sedang dipikirkan. Sedangkan tingkatan tertinggi adalah ketika seseorang larut dalam rasa dan ingatan yang keseluruhannya kepada Allah, dan tidak mengingat selain Allah SWT serta tidak merasakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah akan memberikan kemenangan dan kebahagiaan kepada orang-orang yang khusyuk dalam melaksanakan shalat.

Menjauhkan Diri Dari Perbuatan dan Perkataan yang Tidak Berguna           

Pada hakikatnya baik perbuatan maupun perkataan yang tidak berguna dan tidak bermakna merupakan; sebuah kesia-siaan hidup yang bertentangan dengan jiwa seorang mu’min. Dan terkadang seseorang tidak dapat menempatkan dirinya secara baik, dengan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah dan perkataan yang tidak berguna, karena ia tidak mengetahui jika apa yang dilakukannya itu adalah sesuatu yang tidak baik. Sehingga ia tetap melakukannya dan selalu melakukannya tanpa mampu mengendalikan dirinya untuk tidak melakukannya.

Padahal baik perbuatan maupun perkataan yang sia-sia itu tidak memiliki manfaat. Orang yang falaḥ adalah seseorang yang tidak pernah melakukan dan mengatakan sesuatu yang tidak berguna. Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam surah al-Mu’minun ayat 3:

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُوْنَ (1) ٱلَّذِیْنَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَـاشِعُوْنَ (2) وَٱلَّذِیْنَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُوْنَ (3) وَٱلَّذِیْنَ هُمۡ لِلزَّكٰوةِ فَـاعِلُوْنَ (4) وَٱلَّذِیْنَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَـٰفِظُوْنَ (5)

Baca Juga  Hidup Sehat Sangat Dianjurkan dalam Islam

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya.” (al-Mu’minu>n{23}:1-5)

***

Al-Jailani menjelaskan dalam kitab tafsirnya; bahwa orang yang menjauhkan diri dari perbuatan serta perkataan yang tidak berguna adalah orang-orang yang berpaling dari apa yang dibenci baik oleh jiwa maupun hati. Dan orang-orang tersebut lebih memilih untuk menyibukkan diri kepada hal-hal yang benar.

Menyibukkan diri kepada hal-hal yang benar adalah dengan mengaktifkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang diperintahkan oleh Allah. Dan kegiatan yang diperintahkan oleh Allah di antaranya; seperti beribadah, berdzikir (mengingat Allah), berjihad di jalan Allah, serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga dengan kegiatan-kegiatan tersebut waktu yang dimiliki oleh seorang mu’min tidak terbuang sia-sia. Sebab Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mu’min; supaya menghindari perbuatan serta perkataan yang tidak berguna dan sia-sia. Dan sebagai seorang mu’min dalam segala perbuatan maupun perkataannya; harus memberi nilai tambah yang dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun bermanfaat bagi orang lain. Karena perbuatan serta perkataan yang tidak berguna atau sia-sia akan merugikan diri sendiri

Editor: An-Najmi