Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Struktur Dasar Weltanschauung Al-Quran

weltanschauung
Sumber: https://muslim.sg/

Menyikapi semantik Al-Qur’an perlu adanya langkah dalam menjejaki ragam konsep yang terkandung dalam perkataanya. Namun dengan tidak seperti menyusun suatu pencetakan kamus bahasa melainkan dengan menitik pusatkan pada besar peranan kata dalam memaksudkan perihal kata dominan dan penting yang sering dijumpai.

Dalam mencari titik penting atau selama penganalisaan sebaiknya berdiri pada pandangan umum (weltanschauung) dari objek yang dianalisa, tidak memberatkan dasar arah pada Orientalis terdahulu. Oleh karenanya pemahaman pada Al-Qur’an sangat diurgensikan dengan sudut pandang otentik dari para Nabi.

Kita telah mengetahui bahwa Allah Tuhan yang memiliki dzat Maha Penguasa alam semesta, bukan hanya itu Allah juga merupakan wujud yang sesungguhnya dalam kata wujud itu sendiri,  penciptaanya pada berbagai makhluk dengan mengkarunianya dengan akal seperti manusia. Al-Qur’an turun dengan adanya argumentasi sebagai jalan kehidupan beserta rambu-rambu nya.

Ada kalanya makhluk tanpa akal tidak memiliki magnet besar untuk menciptakan tali penghubung dengan Allah. Dengan ini mampu dideskripsikan bahwa antara Tuhan Allah dan manusia menjadi dua titik yang paling dekat hubunganya dari segala perkara kehidupan. welsthanchauung Al-Qur’an menggambarkan hubungan Allah dan manusia dengan bentuk lingkaran. Di mana Allah berada di posisi paling atas dan pada dasar bawahnya manusia.

Jari-jari yang menghubungkan bentuk ini mewujudkan spirit jiwa dengan gairah yang menakjubkan. Jika Islam dengan Allah sebagai pusat dari segala perihal, berbeda dengan kaum Jahiliyah yang mempercayai adanya semua kebesaran dan kekuatan di semesta ini. Namun tidak menjadikannya permasalahan yang begitu signifikan. Melainkan mereka lebih mengunggulkan pada interaksi tatanan sosial.

Kehidupan manusia tentunya membutuhkan beribu petunjuk untuk mendapatkan jalan yang lurus dan baik. Dengan selalu menghubungkan jiwa spiritualitas kepada Allah. Memang pada dasarnya manusia yang membutuhkan Allah melainkan bukan Allah yang mencari atau membutuhkan kita. Dalam aspek semantik peran Allah dan manusia keduanya saling meiliki sifat rahmah dari segi wujud, komunikasi, ibadah, dan sikap manusia terhadap derajat Allah dan tuntutan ketaatan dalam beribadah.

Baca Juga  Bintang At-Thariq Sebagai Awal Pemikiran Teori Luminositas

Pada sudut ini juga diketahui bahwa Allah kaya dengan kebaikan dan kasih sayang yang tak terbatas juga dengan hak nya dalam kejam atau kerasnya siksa (adzab), bagaimana dengan manusia yakni dengan rasa syukurnya terdapat pula kufur atau ingkarnya. Fenomena tirakat yang kuat merupakan pondasi  Islam yang juga menimbulkanya oposisi terhadap orang kafir dan munafik.

Perlu diketahui juga bahwa sebelum Islam datang, weltanschauung Al-Qur’an mengkategorikan manusia dengan dua bentuk yaitu ahli kitab yang mana muslim juga mengetahuinya sebagai masyarakat religius lain seperti Yahudi dan Kristen. Kedua yaitu bangsa Arab yang belum memiliki kitab sebelum datangnya Islam mereka dengan sebutan ummiyun.

Al-Qur’an menjelaskan aspek ummiyun bahwa orang-orang sebelum Wahyu diturunkan mereka dalam keadaan sesat, namun setelah menerima Wahyu akan mendapatkan peningkatan martabat yang memahami kehidupan muslim. Sejatinya manusia yang memegang Al-Qur’an menanam dalam dirinya sebagai umat terbaik, umat pertengahan yang menghindari pertentangan seperti dengan ahli kitab Yahudi dan Nasrani.

Kembali pada posisi manusia di dalam lingkaran terdapat bagian dari ahli kitab, muslim, munafik, dan kafir. Gambaran ini mengisyaratkan sudut pandang dunia (weltanschauung) Al-Qur’an sebagai tanda berdiri tegaknya Islam. Muslim sendiri telah hadir di Madinah setelah hijrah kemudian meluas dan berkembang di tanah Arab menjadi suatu kelompok untuk menghempas perihal diluar syariat dengan dasar menegakan kembali keyakinan dan keimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Terdapat beberapa konsep sosial dalam semantik yang menyatakan hubungan antara manusia pada syariat perkawinan, birrul walidain, hukum waris & kriminal, perdagangan, dan hukum amal & perbudakan. Konsep ini merupakan bentuk muamalah manusia yang kemudian telah diterapkan dengan baik dengan perkembangannya dan ditetapkan dalam hukum syariat sebagai batasan-batasan dalam interaksi sosial  dan sebagai alat dalam perdiskusian semantik. Meneliti kata yang berhubungan dengan hukum Islam.

Baca Juga  Tolak Kampanye Poligami! Beginilah Tafsir HAMKA Mengenai Poligami

Manusia dalam keterbatasannya dengan tidak mampu mengetahui sesuatu yang kasat mata. Manusia hanya mampu melihat sesuatu yang nyata dan tidak ada kata ghaib pada sudut pandang Allah, seperti hari kiamat dan kematian. Seluruh makhluk Allah tak ada satu pun yang mengetahuinya, hanya mengetahui melalui tanda-tandanya seperti  hari kiamat. Eksistensi dunia dijabarkan dengan kata yang rendah atau dekat, suatu kegiatan yang benar terjadi dan dialami oleh manusia.

Dalam Al-Qur’an kata kehidupan dikenal dengan al-Haya al-dunya sebagai penjabaran singkatnya. Sketsa ini termasuk dalam kata khusus penghubung sesuatu, pada masa kini di dunia dan masa depan di akhirat.

Pada weltanschauung Al-Qur’an juga sering ditemukanya kata al-dunya yang berbarengan dengan al-akhirah.  Al-Qur’an juga menegaskan kembali sketsa korelasi ini pada kata jannah dan jahannam yang sering berbarengan. Fase setelah kehidupan dunia adalah kehidupan di akhirat, dalam ajaran Islam disebut dengan eskatolog, Hari kiamat atau yaumul hisab. Pada awal masuk Islam di Mekkah terjadi pertikaian atas ketidak percayaanya terhadap kehidupan setelah mati, mereka hanya menganggap bahwa kehidupan akan berakhir sendiri dengan berjalanya waktu, mustahil bagi mereka orang yang telah meninggal hidup kembali dengan bentuk utuh.

Dalam Al-Quran mereka mengatakan :

قَالَ مَنۡ يُّحۡىِ الۡعِظَامَ وَهِىَ رَمِيۡمٌ

Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur luluh? (QS. Yassin: 78)

Dengan kalimat ini mereka menyikapi eskatolog, mereka hanya memikirkan hal duniawi saja, namun juga tidak bisa di judge bahwa mereka tidak pernah mendengar hari kebangkitan. Pandangan mustahil orang kafir terhadap hari kebangkitan sebagai tanda bahwa pada nyatanya mereka memiliki penafisran tersendiri dalam kata tersebut.

Hal ini terungkap pada masa paganisme Arab ketika ada seseorang yang wafat kemudian onta miliknya diikatkan pada kuburanya dan ditinggal tanpa makanan dan minuman sampai onta itu merasa kelaparan dan pada akhirnya mati. Adat ini dipertahankan oleh orang Arab pra-Islam dengan penafsiran mereka bahwa orang yang meninggal akan menunggangi ontanya dan bertemu di Mahsyar. Dan pada akhirnya setiap pengarahan analisis dari weltanschauung Al-Qur’an, mulai dari konsep maupun kuncinya akan sampai pada tujuan yang sebenarnya.

Baca Juga  Keragaman Makna "An-Nur" dalam Al-Qur'an

Penyunting: Bukhari