Angin didefinisikan oleh Wikipedia sebagai pergerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Dalam bahasa Arab, kata yang menunjukan arti angin salah satunya adalah lafad riihun (ريح) dalam bentuk tunggal (mufrod) dan riyaahun (رياح) dalam bentuk jama’ nya. Muhammad Farid Wajdi dalam Dairat Al-Ma’arif Al-Qarn Al-Isyrin mengatakan bahwa lafad ريح merupakan peredaran udara, rahmat, dam pertolongan. Dalam kamus Al-Munawwir karya KH. Ahmad Warsun, lafadh ريح diartikan sebagai angin yang kencang, sehingga makna kata tau ريح yang ditulis dalam bentuk mufrod bisa dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif atau suatu musibah yang disebabkan oleh adanya angin.
Imam Al-Asfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufrodat Alfadzil Quran, menuturkan bahwa kata riihun (ريح) dalam bentuk mufrod atau tunggal adalah gambaran suatu musibah atau siksa, sedangkan dalam bentuk jama’ nya, riyaahun (رياح) merupakan gambaran untuk suatu yang positif seperti halnya kenikmatan dan menyenangkan. Keterangan di atas menyimpulkan bahwa penyebutan lafad yang berbeda meskipun berasal dari satu sumber kata yang sama bisa menyebabkan perbedaan arti dan makna. Bahkan perbedaan makna kata dalam dua lafad tersebut bisa dikatakan sangat signifikan, yaitu konotasi yang positif dan konotasi yang negatif. Dalam Al-Quran, kata riihun (ريح) disebutkan sebanyak 19 kali, sedangkan kata riyaahun (رياح) disebutkan sebanyak 10 kali.
Jadi, bagaimanakah makna dan konsep angin didalam Al-Quran ? Disini penulis akan menjabarkan beberapa ayat Al-Quran yang menjelaskan perbedaan makna dan konsep angin yang tergambar dalam lafad riihun (ريح) dan riyaahun (رياح) .
Makna kata Riihun (ريح) dalam Al-Quran
- Kata ريح sebagai hawa yang sangat dingin
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُ ۗ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
“Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini adalah ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, lalu (angin itu) merusaknya. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri” (QS. Ali Imran : 117)
Allah menjelaskan sebuah perumpaan suatu kegiatan yang sia-sia bagi harta yang diinfakan oleh orang kafir di dalam kehidupan dunia, sebagai angin yang mengandung hawa sangat dingin dan kemudian menimpa tanaman dan merusak tanaman tersebut padahal tanaman itu diharapkan hasil panennya. Angin tersebut memporak-porandakan tanaman tersebut tanpa menyisakan apapun. Dalam keterangan ayat tersebut, lafadh ريح didefinisikan sebagai angin yang mempunyai sifat perusak dan mengahncurkan.
- Kata ريح sebagai angin topan
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara (malaikat) yang tidak dapat terlihat olehmu.Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Qs. Al-Ahzab : 9)
Ayat ini mengisahkan tentang suatu kejadian pada saat perang Ahzab (Perang Khandaq). Pada masa ini, orang-orang musyrik diluar Madinah saling bekerja sama dan bersatu dengan orang-orang munafik yang ada di dalam Kota Madinah dan berhasil mengepung pasukan tentara muslim. Kemudian Allah mengirimkan bala bantuan berapa angin topan atau badai angin yang kemudian berhasil memporak-porandakan kaum musuh. Makna ريح dalam ayat ini diartikan sebagai angin topan atau suatu badai yang sangat besar yeng menghancurkan pasukan tentara kaum musyrik.
Makna Kata Riyaahun (رياح) didalam Al-Quran
- Makna Kata رياح sebagai pembawa kabar gembira
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاۤءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Dialah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira yang mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila (angin itu) telah memikul awan yang berat, Kami halau ia ke suatu negeri yang mati (tandus), lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang mati agar kamu selalu ingat”.(QS. Al-A’raf : 57)
Allah menjelaskan suatu tanda saat akan turunnya hujan kepada kita bahwa ada angin yang Allah datangkan sebelum kedatangan rahmat-Nya berupa hujan. Melalui tanda angin yang sejuk ini kemudian Allah datangkan air hujan yang bisa menumbuhkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. Kata رياح disini jelas diperuntukan untuk sesuatu yang positif dan menyenangkan.
- Makna رياح sebagai penggerak awan
اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ
“Allah lah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira.” (QS Ar-rum : 48)
Allah menggerakan angin dengan kehendak-Nya dan kemudian angin tersebut menggerakan awan-awan yang berat karena berisi air hujan, lalu menjadikannya segumpalan awan yang menurunkan hujan sebagai rahmat. Tidak jauh beda dari ayat sebelumnya, kata رياح disini juga disebutkan sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan rahmat Allah berupa hujan.
Itulah beberapa contoh perbedaan penggunaan lafad ريح dan رياح yang terdapat didalam Al-Quran. Meskipun keduanya sama-sama mempunyai arti angin, namun dalam segi makna ada perbedaan yang signifikan, apakah angin yang dimaksud adalah angin yang penuh rahmat (positif), atau justru sebaliknya, angin yang dimaksud adalah angin sebagai cobaan atau musibah dan siksa.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply