Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memupuk Potensi Pembelajaran Perspektif Al-Qur’an

potensi
Sumber: istockphoto.com

Manusia merupakan makhluk yang Allah ciptakan  paling sempurna dan sangat istimewa dibandingkan Makhluk Allah yang lain. Salah satu keistimewaan manusia adalah Allah berikan akal pada manusia sebagai bentuk potensi manusia untuk berfikir. Dengan potensi itulah manusia Allah jadikan khalifah di muka bumi ini. Potensi akalnya manusia dapat melakukan berbagai macam hal yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lain, seperti bereksperimen, meneteliti, menganalisis, membandingkan, membuktikan sesuatu, dan  membahas secara realitas. Manusia berfikir menggunakan akal mereka untuk mendapatkan pengetahuan, proses itulah yang dapat dikatakan sebagai bentuk pembelajaran.

Pembelajaran pada manusia merupakan suatu keharusan bagi manusia, dan juga dapat dikategorikan wajib baginya. Sebab dengan adanya pembelajaran inilah manusia dapat mengungkap fenomena yang terjadi dalam alam raya ini. Belajar dalam arti membaca keadaaan pada setiap fenomena alam dan juga terhadap realita sosial masyarakat akan memberikan implikasi positif yang nantinya akan melahirkan berbagai penemuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, ilmu jiwa, ilmu kesehatan dan lain sebagainya.

Hal ini merupakan bentuk suatu pembelajaran yang dilakukan oleh manusia. Semakin banyaknya pembelajaran yang dilakukan oleh manusia maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Dengan mengembangkan potensi yang ada pada manusia itu maka akan menciptakan peradaban besar bagi kemaslahatan manusia itu sendiri dan masadepan yang gemilang.

Manusia Lahir Tanpa mengetahui Suatu Apapun

Proses terjadinya janin yang ada dalam kandungan bisa saja dideteksi oleh manusia, namun mereka tidak memahami dan bahkan tidak mengetahui perkara gaib yang terjadi pada saat itu, sebab hal tersebut merupakan suatu rahasia kehidupan yang tersembunyi. Para ilmuan, para pakar, para peneliti serta manusia lainnya Allah lahirkan mereka dari rahim ibunya dalam keadaan tanpa mengetahui suatu apapun,  hal ini senada dengan tafsir dalam potongan surah An-Nahl Ayat 78 :

Baca Juga  Tafsir Kontekstual Menjawab Kebutuhan Kekinian

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا….

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun..”

Maka setiap keilmuan yang manusia miliki, yang bahkan mereka bangga dengan segala keilmuan yang mereka dapati sesungguhnya segala hal kenikmatan itu merupakan Anugerah dari Allah SWT. Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan, ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa sebagaimana Allah mengeluarkan manusia berdasar kuasa dan ilmu-Nya dari perut para ibu-ibu dari manusia itu sendiri sedang tadinya manusia tanpa wujud, demikian pula Allah mengeluarkan manusia dari perut bumi dan menghidupkannya kembali. Dan Allah mengeluarkan manusia dari Rahim ibunya dalam keadaan tanpa mengetahui suatu apapun di sekelilingnya.

Potensi Serta Perangkat Pembelajaran

Potensi yaitu dapat dikatakan suatu kemampuan yang memungkinkan untuk dapat dikembangkan, maka dapat dikatakan potensi dengan perangkat yang digunakan untuk pembelajaran masing-masing memiliki keterikatan. Dalam Al-Qur’an potensi pembelajaran dapat dilihat dalam surah An-Nahl ayat 78 :

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur“.

Dalam konteks ayat ini seperti yang telah dikemukakan pada bagian sebelum ini, bahwa Allah mengeluarkan manusia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun. Dan kemudian Allah memberikan pendengaran kemudian penglihatan dan kemudian hati. Allah memberikan pendengaran terlebih dahulu atas penglihatan merupakan urutan yang sangat tepat, hal ini sangatlahsingkron dengan keilmuan kedokteran modern bahwa indera pendengaran berfungsi mendahului inderapengelihatan. Hal ini tumbuh pada pekan-pekan awal kehidupan seorang manusia atau pada saat bayi.

Baca Juga  Ibnu Asyur: Penulis Kitab Tafsir At-Tahrir Wa At-Tanwir

Sedangkan indra pengelihatan mulai aktif berfungsi pada bulan-bulan ke tiga dan mulai sempurna ketika sang bayi telah menginjak bulan ke enam. Adapun bagian akal dan juga mata hati mulai berfungsi jauh setelah kedua indra tersebut aktif, akal dan mata hati ini berfungsi untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Maka, dengan demikian urutan penyebutan indra-indra itu berdasarkan urutan masa mulai aktifnya indra indra tersebut dan juga perkembangan indra-indra tersebut.

Pertanggung Jawaban Atas Apa yang Allah Ciptakan

Allah SWT mengatakan bahwa sesungguhnya pendengaran, pengelihatan, dan hati akan ditanya, apakah yang dikatakan oleh seseorang itu sesuai dengan apa yang didengar suara hatinya. Jika yang mereka itu sesuai dengan pendengaran, penglihatan, dan suara hati mereka, maka mereka akan selamat dari ancaman api neraka, serta menerima pahala dan keridaan Allah SWT. Namun jika tidak sesuai, mereka tentu akan digiring ke dalam api neraka. Allah swt berfirman:

Pada hari, (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan“. (an-Nur/24: 24)

Dan hadis yang diriwayatkan oleh Syakal bin Humaid, ia berkata:

Saya mengunjungi Nabi saw, kemudian saya berkata, “Wahai Nabi, ajarilah aku doa minta perlindungan yang akan aku baca untuk memohon perlindungan kepada Allah. Maka Nabi memegang tanganku seraya bersabda, “Katakanlah, “Aku berlindung kepada-Mu (Ya Allah) dari kejahatan telingaku, kejahatan mataku, kejahatan hatiku, dan kejahatan maniku (zina).” (Riwayat Muslim)

Maka jadilah orang yang teguh dalam pendirian, dan juga dilarang untuk mengikuti prasangka serta kabar burung, sebab semua itu baik dari pendengaran, pengelihatan dan juga hati manusia akan diperhitungkan dihadapan Allah. Jika semua itu digunakan untuk kebaikan maka Allah akan membalasnya dengan pahala, dan juga sebaliknya. Jika dipergunakan untuk kejelekan maka Allah akan membalasnya dengan siksaan.

Baca Juga  Krisis Akhlak Derita Masyarakat Modern

Kehati-hatian dan upaya pembuktian terhadap semua berita, semua fenomena, semua gerak sebelum memutuskan itulah ajakan Al-Qur’an serta metode yang sangat teliti dari ajaran islam. Apabila akal dan hati telah konsisten menerapkan metode ini, tidak akan ada lagi tempat bagi waham dan khurafat dalam aqidah, tidak ada juga wadah bagi dugaan dan perkiraan dalam bidang ketetapan hukum dan interaksi, tidak juga hipotesa atau perkiraan yang rapuhdalam bidang penelitian, eksperimen, dan ilmu pengetahuan lainnya.

Editor: An-Najmi