Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Khutbah Idul Fitri: Membangun Peradaban Hidup Berkemajuan

khutbah
Sumber: istockphoto.com

Naskah Khutbah Idul Fitri 1443 H: Membangun Peradaban Hidup Berkemajuan oleh Hasbullah, M.Pd.I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ ,قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْم ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا , يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Alhamdulillah, puji syukur  kita sampaikan kehadirat Allah swt sebagai bukti kita cinta kepada Allah, sebagai bukti kita taat kepadaNya dan berterima kasih atas keberhasilan kita menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Dan semoga Allah swt menilai Ibadah puasa Ramadhan yang kita kerjakan sesuai dengan harapan Allah SWT dalam Ayat Al Qur’an surat Al Baqarah 183, dapat menjadikan kita sebagai orang yang taqwa (la’alakum tattaqun). Sholawat beserta salam mari kita sampaikan kepada junjungan dan suri tauladan kita Nabi Muhammad saw, sebagai  buktikan bahwa kita cinta dan sayang kepadanya, sebagai wujud kita adalah bagian barisan Rasulullah dan semoga Allah menetapkan safaatnya untuk diberikan kepada kita di akhirat kelaak, hari dimana tidak ada lagi pertolongan kecuali pertolongan dari Allah SWT melalui Rasulullah saw.

Kemudian, sebagai khatib pada kesempatan Idul Fitri 1443 H ini, perkenankan kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Marilah peningkatan taqwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar kita menjadi manusia ideal menurut Islam. Yakni, menjadi manusia mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya:

 اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ١٣

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (Qs. Al-Hujurat, 49:13)

Pagi hari ini kaum muslimin di segenap penjuru bumi, termasuk juga dinegeri yang kita cintai Indonesia menggelar ibadah Idul Fitri. Semua mengumandangkan dan menyampaikan takbir, tahlil, tasbih, tahmid, dan dzikir kepada Allah. Menggemakan dan  menghidupkan jiwa-jiwa manusia dan juga menghidupak peradaban seluruh penjuru negeri ini. Semua yang disampikan dalam rangkaian ibadah Idul Fitri menjadi energi baru untuk menghidupkan ruhani dan menghidupkan peradaban untuk menjadikan kita insan yang berkemajuan  yaitu insan yang muttaqin.  

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Satu bulan penuh kita telah menjalankan ibadah puasa, dengan segala cerita dan kebijakan ketika menjalankanya. Namun sebagai orang beriman kita jalankan rangkai ibadah puasa Ramadhan dengan kesungguhan hati dan kuatnya keimanan kepada Allah SWT. Ibadah yang kita jalan bukan saja untuk kepentingan kita sendiri, tapi ibadah merupakan proses mendekatnya kita kepada Allah SWT. Mendekat dalam esensi pribadi hamblum minnallah dan juga ibadah dalam rangkai pedulu kepada manusia lainnya hablum minnas.  Maka ibadah yang dijalankan selama bulan suci ramadhan merupakan rangkai ibadah yang menjadikan diri seseorang menjadi kuat aqidahnya namun juga menguatkan jiwa kemanusiaannya. Bagi semua orang beriman yang bahwa ibadah bukan saja terbatas pada ritual belakang menjalankan perintah dan larangan. Namun ibadah tentunya harus berdampak kepada kehidupan manusia di dunia dalam rangka mengwujudkan peradaban kehidupan yang berkemajuan.

Maka modal dari Puasa Ramadhan itu bukan kuatnya fisik, bukan juga banyak harta, dekat dengan masjid dan berkawankan orang-orang sholeh. Puasa ramadhan bermodalkan keimanan, yang rangkain ibadahnya sudah ditentukan dan dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat.  Amalnya langsung Allah yang menilai dan akhirnya mendapat derajat Taqwa. Derajat yang menjadikan manusia patuh dan taat kepada Allah bukan saja untuk beribadah ritual saja melainkan kepatuhan yang ditampilkan pada kepedulian pada sesama manusia dan alam semesta. Semua ini adalah cara untuk membangun peradaban hidup berkemajuan yaitu kehidupan yang baik terhadap Allah, baik kepada manusia dan menghidupkan pengetahuan berlandaskan nilai-nilai keIslaman dan kebutuhan manusia. Sebagaimana firman Allah

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ – ١٨٦

Baca Juga  Masjid Jogokarian: Wirausaha dan Ketangguhan Ekonomi Umat

Artinya: “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. Qs. Al Baqarah: 186)

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Maka di hari pertama ini, selepas kita meninggalkan bulan Ramadhan 1443 H, ingatlah nilai ketaqwaan kita menjadi pertaruhan. Apakah pembiasaan selama Ramadhan mampu dan bisa kita pertahankan di luar Ramadhan, atau dia lari dan usang terbawa suasana serta keadaan di hari syawal ini. Menjadi suatu perenung dan kajian bagi kita semua.

Maka sebagai umat muslim, yang berpuasa karena Iman, menghidupkan Ramadhan dengan berjamaah maupun sendiri, dan di mana semua rangkaian Ramadhan senantiasa dihiasi dengan kesyukuran serta diperindah dengan keikhlasan tentunya tidak akan begitu saja meninggalkan suasan kehidupan di bulan Ramadhan. Justru, yang ada adalah semakin meningkat baik dari sisi ibadah kepada Allah SWT dan juga ibadah dalam rangka menjaga kemaslahatan hidup manusia dan alam semesta serta membangun peradaban hidup berkemajuan

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Pergantian adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan, baik itu keadaan dan suasananya. Namun yang harus kita pastikan bahwa keimanan, ketaaan, kepatuhan dan kecintaan kita kepada Allah SWT tidak akan tergoyahkan serta terganti. Kita semua dapat merasakan, melihat dan menjadi saksi atas peradaban hidup yang akhir-akhir ini dirasakan sangat tidak nyaman, sempit, sumpek dan terkesan urakan dalam kebijakan-kebijakan dalam menikmati hidup. Kepetingan pribadi, golongan dan kepentingan sesaat terlihat dan sangat terasa. Namun sebagai orang yang beriman, semestinya menyikapi hal tersebut sebagai bagian dari ujian kehidupan yang di hadirkan Allah SWT agar keimanan, ibadah dan akhlak kita mampu memberikan sumbangan yang konkrit sebagai makhluk yang mulia dalam melahirkan peradaban hidup yang berkemajuan. Bukankah Allah telah memberikan kita modal besar, untuk menajalani proses kehidupan  agar hidup ini jauh lebih baik dan lebih beradaban sebagaimana disampikan dalam firmannya Qs. Al Imran 110

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ١١٠

Artinya: “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah“.

Ayat ini memperjelas dan mempertegas tentang kedaulatan umat Islam. Bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik yang keberadaannya untuk kebaikan seluruh manusia. Artinya kasih sayang yang dimiliki umat Islam bukan saja untuk Islam sendiri tetap diperuntukkan untuk umat manusia secara keseluruhan tanpa memilih dan memilah. Umat Islam senantiasa hadir untuk menegakan nilai-nilai kebaikan dan juga mencegah segala bentuk keburukan. Artinya bahwa peradaban kehidupan itu dimulai dari bagaimana segala bentuk kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan harus segera diselesaikan dengan tujuan memperkuat keimanan dan menjemput Ridha  Allah SWT.

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Peradaban hidup yang berkemajuan adalah jalan untuk mewujudkan kehidupan yang senantiasa ada dan berjuang untuk menggelorakan nilai-nilai ketuhanan, nilai kemanusia, nilai kepedulian  dan nilai  penghormatan pada hak dan kewajiban manusia. Manusia yang berperadaban adalah manusia yang memiliki pribadi, belaku sopan, berakhlak dan berbudi pekerti yang luhur. Bertindak mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang mulia dan berusaha menjadikan manusia sebagai manusia yang seutuhnya. Ramadhan yang di dalamnya ada kewajiban puasa, nilai sunah menjadi wajib bahkan pahalanya tak terhingga, tanpa kita sadari telah mengajarkan nilai-nilai peradaban hidup yang sebenarnya.

Baca Juga  Halalkah Tradisi Halal Bi Halal Yang Sudah Mengakar?

Sebulan sudah kita melaksanakan ibadah puasa, merasakan dan menikmati segala bentuk kebijakan yang ada di dalamnya. Ini semua merupakan perjalanan spiritual yang tentunya memproses orang beriman menjadi salah satu manusia yang siap membangun peradaban hidup berkemajuan, dalam rangka mewujudkan kehidupan yang baik. Karena puasa Ramadhan adalah ibadah wajib bermodalkan iman, untuk menjaga keftrahan manusia dan cara Allah untuk menguatkan hambaNya dalam aqidah, ibadah, akhlak serta relasi sosial. Sadarkan bahwa kita sebagai hambaNya dengan mudah, dan tanpa susah payah difahamkan untuk senantiasa membaca Al Qur’an dan sujud ditengah malam, meneguhkan keyakinan adanya Allah dan hari akhir, dan dengan penuh kesadaran kita masuk dalam barisan amar makruf nahi munkar serta bersegara  berlomba dalam berbuat kebaikan. Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ – ٩٧

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan“. (QS. An Nahl: 97)

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Membangun peradaban hidup berkemajuan tentuanya bukan hal mudah, namun  buka juga hal yang sulit. Satu bulan lamanya kita sudah diberi bekal oleh Allah SWT dengan segala bentuk pendidikan dan pembelajaran baik itu yang kita fahami atau yang tidak kita fahami. Dalam ramadhan kita diberikan pelajaran ketundukan dan ketaatan hanya kepada Allah, sehingga tidak mau makan dan minum walupun kita memiliki kesempatan namun kita memilih untuk tunduk atas perintah Allah dalam puasa. Ini merupakan nilai peradaban hidup berkemajuan karena Tauhid terjaga dan murni. Target untuk tilawah Al qur’an pun disampaikan selama Ramadhan, hal ini dilakukan dalam rangka semakin deket kepada Allah. Jikalah hal ini dilakukan dengan baik, membacanya dengan qaidah yang berlaku. Sebenarnya hal tersebut juga perilaku yang menampakkan peradaban hidup berkemajuan karena ada usaha memahami firman Allah serta menghidupkan sunnah Rasulullah.

Dalam Ramadhan kita senantiasa menjaga dan merawat perilaku agar tidak membantalkan puasa atau bahkan merusak pahala puasa. Hal ini merupakan buah dari keimanan berdasarkan pengetahuan yang diimplementasikan dalam perbuatan, sehingga cinta dan kasih sayangnya Allah dapat diraih. Hal ini merupakan prilaku yang menggambarkan peradaban hidup berkemajuan. Maka, akhir dari Ramadhan orang yang menjalankan diberikan waktu bernama idul fitri. Waktu dimana menjamin bahwa orang beriman yang setelah menunaikan ibadah puasa  menjadi individu-individu yang siap menjadi penegak kebenaran, keadilan, menjaga hati dan juga senantiasa sadar jika setiap diri diawasi oleh Allah SWT.Allah berfirman:

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ – ٨

Aritnya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maidah: 8)

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Membangun peradaban hidup berkemajuan tentunya hanya bisa di bawa oleh setiap muslim yang memiliki kesalehan sebagaimana Allah sampaikan bahwa bumi ini dipusakakan pada hamba yang saleh. Saleh dalam arti luas, bukan saleh terhadap dirinya tapi kesalehan yang mengambarkan keberadaannya agar berperan dalam menjaga kebaikan kehidupan di muka bumi ini. Sehingga peradaban hidup berkemajuan akan akan bisa diwujudkan ditangan orang yang saleh yaitu orang yang  senantiasa hidupnya bermanfaat atau berguna, yang ada dalam lingkaran berkompeten, memiliki budi luhur, tidak memihak, lurus, jujur, taat, alim, patuh, benar, cerdas dan berani. Allah swt berfirman:

Baca Juga  Degradasi Etika, Apakah Al-Qur’an Diam Saja?

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ – ١٠٥

Artinya: “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh”. (QS. Al Anbiya 105)

Syeh Mutawilli Sya’rawi dalam Tafsir Asy-Sya’rawi menjelaskan, orang saleh itu ada dua macam: saleh dunia dan salah ukhrawi. Saleh duniawi adalah salah dalam arti asal, yakni orang yang berkepribadian baik sehingga di manapun berada ia tidak merukan tapi justru banyak memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Kedua, saleh ukhrawi, yakni kesalehan yang lahir dari keimanan. Kebaikan yang dilakukan segai ekspresi dari ketaan kepada Allah. Artinya, seseorang berkepribadian atau melkukan kebaikan tidak sekedar karena tuntutan etika, tapi juga atas kesadaran penuh sebagai seroang hamba Allah untuk berbuat baik kepada sesama hamba dan ciptaan-Nya.

Oleh karena itu penting untuk setiap orang beriman menghidupan jiwa kesalehan baik secara individu maupun secara sosial. Kesalehan yang berkepetingan pada Islam buka kepentingan dua belaka. Kesalehan yang tidak terjebak pada kata dan narsi belaka, namun kesalehan yang dibawa untuk mengisi kehidupan dengan kebaikan dan kesalehan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah

Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa berkenan membimbing kita semua agar tergolong hamba-hambaNya yang mampu meraih sertifikat kefitrahan di hari kemenangan yang agung ini, sehingga kita layak mendapatkan penghargaan “TAQWA”.  Semoga Allah SWT berkenan mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua untuk dapat mewujudkan peradaban hidup berkemajuan. Hidup yang senantiasa patuh dan taat kepada Allah, menghidupkan nilai kemanusiaan yang semuanya didasarkan pada Ilmu pengetahuan.

Semoga momentum Idul Fitri ini juga benar-benar mampu mengantarkan tatanan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai agama, akhlak karimah, kebersamaan dan kasih sayang guna terwujudnya manusia yang beradab pada Allah, dirinya dan orang lain. Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah SWT, yang maha pemurah dan maha penyayang karena hanya Dialah yang maha pengabul atas segala doa-doa.

Khutbah Kedua


 اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ اَلْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيِنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ا اتَّقُوا الله. قال الله تعالى: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . وَقَالَ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيَائِكَ وَرَسُلِكَ وَمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى، وَ عَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وتَابِعِى التَّابِعِيْنَ، لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيسِيَّا هَذَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، كُلُّ عَامٍ وَاَنتُمْ بِخَيْرٍ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيِنَ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِالْعَدْلِ وَالاِحْسَانِ، وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ. وَاللهُ يَعْلَمُ ماَ تَصْنَعُوْنَ