Tanaman tamarisk adalah sebuah tanaman yang tumbuh dengan bentuk morfologi seperti cemara. Bahkan dapat dikatakan bahwa tanaman ini terbilang asing bagi yang belum mengenalnya. Karena, ciri khas tanamannya memiliki warna batang yang cenderung hijau keabu-abuan dengan tekstur yang halus jika diraba dan bila tua warna kulit batangya menjadi abu-abu gelap kecoklatan.
Yang tentu, mempunyai karakteristik dengan ketinggian kurang lebih 200 m 0-1, dengan suhu tahunan 10-50 deg C. Tumbuh berbentuk lempung, meski ditemukan pada lempung pasir. Ini, berpotensi dengan kepastian untuk tumbuh pada tanah salin. Juga tumbuh lebih keras di darat tanduk pada genangan sekali ketimbang tanah yang tidak pernah kebanjiran.
Tanaman Tamarisk dalam Al-Qur’an
Kata atsl (أثل), merupakan sebuah nama lain tanaman tamarisk yang dinisbatkan Al-Qur’an dan yang akan diurai dalam tulisan ini. Demikian pula oleh al-Farra’ dan lainnya mengatakan, “Hanya saja lebih panjang dari tamarisk, bentuk tunggalnya (أثلة) dan bentuk jamaknya (أثلات)” (Imam asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir, 09/234). Akan tetapi, ini diaktualisasikan oleh bukti nyata kekufuran atas nikmat Allah terhadap kaum Saba’. Berikut ayatnya:
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
Artinya: “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (QS. Saba’ [34]: 16).
Di abad ke-8, pada berbagai prasasti tulisan paku dapat dikatakan dalam naskah Asyur dan Hieroglif, menunjukkan bahwa ditinjau dari sekian prasasti selatan tanah Arab tersebut, Saba’ itu meliputi nama kaum, kerajaan, dan wilayah. Orang Saba’ dikenal penyembah benda-benda langit, dan juga berhala-berhala, sebelum sebagian darinya beralih menganut agama Yahudi dan Nasrani, sekitar abad ke-6 M (Ali Audah, Nama dan Kata dalam Qur’an, 630).
Negeri Saba’ dan Kehancuran Kaumnya
Pada muasalnya, kabilah Saba’ di Yaman ini memiliki perkebunan yang terbilang subur serta sumber kekayaan yang melimpah. Tepatnya di Ma’rib, yang terdapat dua perkebunan di sebelah kanan dan di sebelah kirinya merupakan lembah. Ini bukti atas kekuasaan Allah. Keberagaman buah, beraneka warna, rasa, aroma, dan bunganya, juga termasuk kekuasaan-Nya (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, 11/488). Berikut ayatnya:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Artinya: “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. Saba’ [34]: 15).
Semuanya tak sesuai dengan harapan. Mereka mendustakan para Rasul dan menyangkal kebenarannya karena terbuai oleh kemewahan dunia. Maka, Allah menurunkan azab, dengan mengirim banjir besar yang menghantam waduk, serta memusnahkan penduduknya hingga bertukarlah dua tanam mereka yang subur dengan dua kebun yang ditumbuhi pepohonan berduri dan pohon-pohon bidara (Sidr) (M. Hasbi ash-Shiddieqiy, Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nuur, 04/3335).
Sementara itu, di dalam Tafsir al-Azhar mengungkapkan bahwa sesuatu yang menyebabkan tanah berubah keadaannya dari subur menjadi kering. Yakni, kedua bunga tanah yang lama telah hanyut dibawa banjir dan yang kemudian beralih pula menjadi hanyutan pasir serta bebatuan dari pegunungan. Sehingga walaupun masih terpecik sisa-sisa pepohonan yang lama, namun hasil buahnya tidak semanis dahulu, melainkan pahit (Hamka, Tafsir al-Azhar, 08/5839).
Hakikat Meraih Kesejahteraan Hidup
Konstelasi meraih kesejahteraan hidup yang permanen, sudah semestinya dilakukan oleh kaum Saba’ untuk mensyukuri nikmat apa pun yang telah dilimpahkan kepadanya. Maka, dengan demikian balasan Allah tentu berlipat ganda. Sebagaimana dalam firman-Nya, yang berbunyi:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim [14]: 7).
Hakikat “syukur” pada ayat di atas, berarti membuka dan menampakkan, yang lawannya adalah “kufur”, memiliki arti menutup dan menyembunyikan. Tentu, maksud dari syukur itu menunjukkan bahwa setiap nikmat yang dianugrahkan Allah secara implisit menuntut perenungan untuk apa yang dianugrahkan-Nya. Lalu, menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan penganugrahannya (M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, 07/22-23).
Kesimpulan
Sehingga makna (لئن شكرتم لأزيدنكم) menurut al-Hasan, “Jika senantiasa bersyukur atas nikmat-Ku maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku”. Selaras dengan pendapat itu, menurut Ibnu Abbas bahwa, “Jika senantiasa bersyukur atas nikmat-Ku maka akan Aku tambahkan pahalamu”. Tentunya perlu digarisbawahi, yang jelas menahan dirinya agar tidak melakukan kemaksiatan kepada-Nya justru itulah takaran yang penting (Abu Abdullah al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 09/812).
Maka dari itu, dari pemaparan yang di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa nama lain tanaman tamarisk dalam Al-Qur’an, dijelaskan pada surat Saba’ [34]: 16 dengan kata atsl (أثل), yang secara implisit menyerupai pohon cemara. Bahkan, dikontekstualisasi sebagai bukti kaum Saba’ yang mengingkari nikmat Allah dan digantilah kebun mereka dengan mayoritas berbuah pahit. Sebab, semuanya telah dihantam banjir besar. Akhir kata, wallahu a’lamu bishawab.
Penyunting: Ahmed Zaranggi



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.