Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menelusuri Kata Syifa Dalam Q.S. Yunus Ayat 57

syifa
Sumber:

Setiap manusia pasti memiliki problematikanya masing-masing, sebagian tentang kekeluargaan, pekerjaan, ataupun dalam persoalan percintaan. Sehingga dengan banyaknya problematika tersebut dapat menyebabkan kegalauan di dalam hati. Maka Islam disini memberikan penawar yang begitu ampuh dalam mengatasi kegalauan di dalam hati, yaitu dengan Al-Qur’an. Kata Syifa merangkum beragam kedalaman makna.

Adapun di dalam surat Yunus ayat 57 yang terdapat kata syifa, akan menjadi titik fokus. Lafadz tersebut pasti memiliki maksud dan makna tertentu, sehingga perlu adanya kajian tafsir untuk mendalami makna dari ayat tersebut.

Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang menjadi titik fokus adalah Q.S. Yunus ayat 57, berikut ayatnya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ ٥٧

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Makna Kata Syifa

Syifa secara Bahasa merupakan bentuk isim mashdar dari شفى-يشفى-شفاءً yang memiliki arti sembuh, menyembuhkan, mengobati. M. Quraish Shihab memberikan pandangan bahwa kata syifa memiliki arti kesembuhan atau obat dan digunakan juga dalam pengertian keterbatasan dari kekurangan atau ketiadaan arah dalam memperoleh manfaat.

Terdapat berbagai persamaan makna penyembuhan atau pengobatan dalam bahasa Arab, seperti syifa, dawa’, thib, dan ‘ilaj. Kata dawa’ bermakna obat, pengobatan, dan metode pengobatan. Pengertian dawa’ adalah tentang persoalan badaniyah atau fisik. Thib sendiri memiliki makna umum sebagai penyembuhan dan pengobatan, pada dasarnya kata thib dikhususkan kepada ruhaniyah dan jasmaniyah. Kemudian kata ‘ilaj memiliki makna yang sama dengan thib, yaitu perihal ruhaniyah dan badaniyah. Tetapi seluruh makna ini lebih condong kepada nafsiyah atau kejiwaan.

Baca Juga  Ini Doa Mustajab Nabi Ayub untuk Segala Kesulitan!

Tafsir Surat Yunus Ayat 57

Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat bagi apa yang ada di dalam dada manusia. Penyebutan kata dada yang diartikan dengan hati, menunjukkan bahwa wahyu-wahyu Ilahi itu berfungsi sebagai penyembuh bagi penyaki-penyakit ruhani, seperti sombong, hasad, dengki, dan semacamnya. Memang oleh Al-Qur’an hati ditunjukkan sebagai wadah yang menampung rasa cinta dan juga benci, dapat berkehendak dan menolah, bahkan hati dinilai sebagai alat unntuk mengetahui (membaca dengan mata hati). Hati juga mampu melahirkan ketenangan dan kegelisahan dan dapat menampung sifat-sifat baik dan terpuji.

Dalam kitab tafsir Al-Misbah, beliau mengutip pendapat seorang sufi besar, Al-Hasan Al-Basri, berdasarkan riwayat Abu Al-Syaikh berkata, “Allah swt menjadikan obat terhadap penyakit-penyakit hati, dan tidak menjadikannya obat untuk penyakit jasamani”. Akan tetapi menurut M. Quraish Shihab selanjutnya, memang bisa saja Al-Qur’an dijadikan sebagai obat untuk penyakit yang bersifat jasmani, namun hanya berlaku bagi penyakit jiwa yang tidak stabil, seperti penyakit psikosomatik yaitu semacam penyakit yang diderita oleh manusia karena ketidak stabilan jiwanya dan ruhaninya. Atau seperti sesak nafas, menggigil, atau semacam pengaruh hal ghaib.

Jadi, menurut M. Quraish Shihab ayat di atas menunjukkan bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai obat penawar bagi segala macam penyakit ruhani (hati) manusia dan juga dapat dijadikan sebagai penawar bagi penyakit jasmani, namun berlaku bagi penyakit psikosomatik saja.

Al-Qur’an Sebagai Syifa

Al-Qur’an merupakan suatu penawar dan penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam hati manusia, akan tetapi perlu diketahui bahwa suatu penyakit hati yang disimpan secara berlarut-lerut juga dapat menimbulkan penyakit jasmani. Maka selain digunakan untuk penawar dan penyembuh bagi hati atau ruhani, Al-Qur’an juga dapat dijadikan sebagai penawar bagi penyakit jasmani.

Baca Juga  Relevansi Semiotika dengan Model Tafsir Al-Qur’an di Medsos

Al-Qur’an juga obat yang dapat melenyapkan segala kotoran yang ada di dalam dada. Antara lain berupa keraguan, kemunafikan, kemusyrikan, dan segala bentuk penyimpangan dari perkara yang haq. Selain itu, Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai penyembuh bagi hamba. Dalam hal ini, hamba yang dimaksud oleh Ibnu Katsir adalah seorang mukmin atau mereka yang beriman kepada Allah. Karena dengan Al-Qur’an juga dapat mempertebal keimanan seorang hamba, memberikan hikmah, kebaikan, serta menumbuhkan rasa kecintaan kepada Allah.

Penyunting: Ahmed Zaranggi