Baru-baru ini, pada tanggal 1 April 2022 PT. Pertamina mengumumkan bahwa harga BBM (bahan bakar minyak) bensin jenis Pertamax mengalami kenaikan harga dari Rp. 9.000,- per liter menjadi Rp 12.500,- per liternya. BBM merupakan salah satu jenis minyak bumi yang sering mengalami kenaikan harga.
Kebutuhan manusia akan minyak bumi seakan tidak ada habisnya. Dalam kesehariannya, manusia tidak dapat terlepas dari minyak bumi. Contohnya, penggunaan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan, kebutuhan domestik rumah tangga seperti LPG, kosmetik, dan lain-lain. Manusia memperoleh manfaat dari minyak bumi yang telah disediakan oleh Allah di bumi ini, sebagaimana disebutkan dalam QS. Sad [38]: 27
وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَٰطِلًا
Artinya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah.”
Sayangnya, di samping manfaatnya yang sangat besar bagi kelangsungan hidup manusia. Minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tergolong tidak dapat diperbarui dan dapat mengalami kelangkaan. Hal ini dikarenakan minyak bumi memerlukan waktu yang sangat lama dalam pembentukannya.
Pembentukan Minyak Bumi dalam Al-Qur’an
Dalam Journal of Natural Science and Integration terdapat proses pembentukan minyak bumi. Bahwa merupakan kondisi percampuran dari senyawa hidrokarbon yang berasal dari senyawa organik dengan unsur lain (mineral) dalam tekanan dan suhu yang tinggi.
Senyawa organik yang berasal dari binatang-binatang kecil dan tumbuhan yang mati dan terkubur di dasar laut jutaan yang lalu. Kemudian mengalami proses penguraian serta pencampuran dengan pasir dan lumpur pada suhu dan tekanan yang tinggi.
Dalam Al-Qur’an, proses pembentukan minyak bumi tersirat dalam QS Al-A’la ayat 4-5
وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰىۖ فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ
Artinya: “dan Yang menumbuhkan rerumputan, lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering kehitam-hitaman.”
Pada ayat ke 4 terdapat kata al-mar’a yang bermakna padang rumput (pasture) bukan pepohonan yang biasa disebut syajarota. Maupun tumbuhan-tumbuhan yang biasa disebut nabata menurut Arabic-English Lane’s Lexicon. Al-mar’a pada ayat ke 4 ini mengacu pada substansi organik. Yakni tumbuh-tumbuhan berupa rerumputan termasuk di dalam kategori ini tumbuh-tumbuhan air seperti ganggang atau alga dan hydrilla.
Kata al-mar’a ini juga mengacu pada tumbuhan yang hidup pada masa awal penciptaan bumi. Seperti pada QS An Nazi’at ayat 31
أَخْرَجَ مِنْهَا مَآءَهَا وَمَرْعَىٰهَا
Artinya: “Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.”
Penafsiran Ayat
Menurut tafsir dari Syekh Utsaimin, dalam QS An Nazi’at ayat 31. Menceritakan mengenai awal terbentuknya bumi yang memancarkan mata air. Kemudian menumbuhkan al-mar’a (tumbuhan-tumbuhan) sebelum terbentuknya langit seperti yang disebutkan dalam Surat Fussilat ayat 9-12.
Bila kita urutkan, proses pembentukan minyak bumi dimulai dari pelapukan berbagai sisa organisme ( الْمَرْعٰىۖ ) yang terkubur bersama lumpur. Lumpur yang mengandung mineral-mineral selama jutaan tahun pada dasar laut. Lumpur tersebut kemudian akan berubah menjadi berbagai batuan sedimen yang berpori. Sedangkan sisa-sisa organisme akan bergerak ke tempat yang tekanannya rendah dan terkumpul pada sebuah daerah perangkap, yaitu batuan kedap. Sisa-sisa organisme yang berupa gas alam, minyak, dan air terakumulasi sebagai deposit minyak bumi. Rongga bagian atas terisi gas alam, sedangkan cairan minyak mengambang di atas deposit air.
Penggunaan kata اَخْرَجَ sebelum kata al–mar’a berasal dari suku kata خ ر ج . Yang disebutkan sebanyak 182 kali dalam Al-Qur’an. Kata tersebut memiliki beberapa makna meliputi, menumbuhkan, menciptakan, mewujudkan, mengeluarkan. Prof. Quraish Shihab memaknai dalam kata اَخْرَجَterdapat campur tangan manusia, bukan pekerjaan yang hanya dikerjakan oleh Allah swt. Maksudnya, dalam menumbuhkan tumbuhan/rerumputan hingga kemudian rerumputan tersebut menghitam (menjadi minyak) diperlukan upaya/usaha dari manusia.
Pemanfaatan Oleh Manusia
Usaha manusia ditampakkan melalui cara mereka untuk mendapatkan cairan minyak yang biasanya berada di dalam lautan. Diperlukan proses pengeboran untuk mengeluarkan cairan minyak yang berasal dari al-mar’a ini. Cairan minyak yang ditemukan biasanya masih bercampur dengan gas alam hingga kemudian dipisahkan. Minyak bumi yang telah dipisahkan dari gas alam berbentuk cairan kental hitam dan berbau yang disebut minyak mentah (crude oil). Sebagian mufassir mengartikan bahwa minyak mentah inilah yang dimaksud dari kata غُثَاۤءً اَحْوٰى (kering kehitam-hitaman) pada ayat 5.
Minyak mentah ini masih belum bisa dimanfaatkan langsung oleh manusia. Untuk dapat dimanfaatkan, minyak mentah ini perlu dimurnikan melalui proses refining dengan distilasi bertingkat. Proses distilasi bertingkat dilakukan dengan memisahkan komponen campuran minyak mentah berdasarkan perbedaan titik didih. Sehingga diperoleh kelompok-kelompok dalam rentang titik didih tertentu yang disebut fraksi-fraksi, yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan manusia.
Kesimpulan
Minyak bumi disebut sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Karena diperlukan waktu yang sangat lama dalam proses pembuatannya. Mulai dari pembentukan minyak mentah yang tercantum dalam QS. Al-A’la ayat 4-5 yang memerlukan jutaan tahun. Kemudian diproses dari minyak mentah hingga terbentuk fraksi-fraksi minyak yang siap digunakan.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.