Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Jacques Derrida: Menghindari Distorsi Pesan Tuhan dalam Penafsiran

Sumber: https://discover-islam.co.uk/whatsislam/message/

Agama memiliki pengaruh yang cukup besar sebagai modal atas kontruksi tatanan sosial dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan agama memiliki nilai-nilai moral kehidupan yang dibutuhkan bagi manusia. Nilai tersebut didapatkan melalui proses pemahaman dan penafsiran dari kitab suci sebagai pesan Tuhan. Nilai-nilai yang terkandung selalu berorientasikan pada kerahmatan dan kedamaian karena semua agama mengajarkan kebaikan dengan cinta kasih sesama umat manusia.

Namun, pada sisi realitas terkadang hasil penafsiran tersebut memberikan implikasi yang sebaliknya dari orientasi agama itu sendiri. Sehingga banyak bermunculan gerakan ekstrim dan bisa dilihat bagaimana pengajian-pengajian ataupun khutbah-khutbah keagamaan bernuansa kebencian dan kekerasan. Kemudian yang membentuk pola pikir dan berdampak secara langsung bagi masyarakat yang mendengarnya.

Sisi paradoksial dari agama ketika kitab suci dan ajaran memiliki kesenjangan oleh suatu gerakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Walaupun gerakan tersebut tidak dominan tapi mereka menjadi perhatian bagi dunia kontemporer. Gerakan kecil tersebut berimplikasi banyaknya yang meragukan agama. Bahwa tidak lagi memiliki kemampuan dalam membangun dan memberikan petunjuk bagi kemajuan peradaban manusia.

Agama dan Pemahaman Keagamaan

Hal ini menggambarkan bagaimana agama hanya menjadi spiritualitas pribadi yang tidak punya taring dalam konteks kehidupan sosial. Mereduksi kekuatan spiritual agama tidak menjawab persoalan yang ada dan gerakan ekstrim tersebut tetap eksis dan mengakar. Gerakan ekstrim tidak berarti hanya berkaitan dengan aksi teror, bom, dan pemberontakan. Namun gerakan ekstrim yang sederhana di kalangan masyarakat sudah mengakar. Sehingga pandangan yang sempit dengan menyalahkan dan meanggap sesat dari pendapat yang berbeda dengannya.

Pandangan eksklusif tersebut berdampak pada respon mereka terhadap lingkungan sosial. Mereka bersikap intoleran dan tertutup dari interaksi sosial dengan membatasi dirinya. Di samping itu, mereka juga memiliki fanatisme yang tinggi terhadap guru-guru mereka ataupun ideologi yang sedang mereka perjuangkan. Ideologi dalam artian bahwa cita-cita keagamaan mereka yang terbentuk dari doktrinasi pengajian dan diterima tanpa nalar kritis oleh pikiran.

Baca Juga  Etika Beragama dalam Islam: Perbedaan adalah Saling Memahami (1)

Persoalan ini disebabkan salah satunya proses interpretasi yang keliru dalam memahami pesan-pesan Tuhan. Pesan-pesan Tuhan dari kitab suci dipaksaan untuk mengikuti keinginan subjektifitas mereka sendiri. Melalui dominasi atas teks sebagai representatif dari kebenaran pada teks tersebut yaitu kitab suci agama.

Memahami Letak Persoalan Penafsiran

Letak persoalannya adalah mengapa pesan Tuhan bisa mengikuti subjektifitas mereka walaupun berbeda orientasi? Pertanyaan paradigmatik ini memberikan pemahaman bahwa pada dasarnya pesan Tuhan tersebut memiliki makna yang plural sehingga memiliki potensi multi-interpretasi. Berangkat dari situ mereka memiliki peluang untuk menghasilkan interpretasi yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan orientasi pesan Tuhan itu sendiri.

Di sisi lain, atas nama demokrasi yang memegang prinsip relatifitas kebenaran maka tidak bisa mencegah dan menggugat hasil interpretasi mereka. Sehingga penafsiran provokatif yang penuh kebencian dan kekerasan diterima dan dipelajari oleh masyarakat. Hasil penafsiran mereka tersebut tidak sedikit yang membenarkannya dan menjadi modal untuk mendukung serta berkontribusi dalam perjuangannya.

Kampanye kebencian adalah salah satu pondasi dari gerakan tersebut. Walaupun pergerakan ekstrimisme bagi masyarakat biasa tidak memiliki relasi yang terkoordinasi secara integral seperti sebuah organisasi. Namun memberikan dampak yang serius dalam kehangatan sosial dan mengganggu keharmonisan beragama. Tujuan agama sendiri menjadi runyam untuk tercapai ataupun diwujudkan.

Akibat Fanatisme Dalam Memahami Pesan Tuhan

Kemudian interpretasi yang keliru tersebut juga disebabkan adanya dominasi atas teks yang biasanya terjadi dalam khutbah ataupun pengajian keagamaan. Dominasi teks tersebut salah satu faktor penting yang menghasilkan pikiran eksklusif. Dengan mendikotomisasikan segala hal, yaitu memandang secara hitam atau putih, benar atau salah, dan baik atau buruk. Interpretasi mereka satu-satunya kebenaran dan interpretasi yang lain adalah salah sehingga tidak perlu dipahami dan dipelajari.

Baca Juga  QS. Al-A’raf ayat 80-81 Renungan Bagi Kaum Gay

Berapa banyak kasus di Indonesia seperti tuduhan sesat kepada ulama dan pemikir. Atau seluruh karya mereka dihindari agar tidak dibaca. Seruan ini seringkali hadir dalam khutbah atau pengajian keagamaan. Hal ini dikarenakan para ulama dan pemikir yang dituduh sesat tersebut memiliki interpretasi yang beda dengannya. Sehingga dianggap keliru karena hanya berbeda dari interpretasi mereka.

Salah satu polemik yang kontroversial adalah tentang ucapan selamat Natal bagi umat Muslim kepada umat Kristiani. Para pemuka agama yang eksklusif mendominasi pesan Tuhan. Kemudian menjelma teks yang otoritasnya sudah dicabut dan dipegang oleh sang pengkhutbah atau penafsir. Mereka melarang kepada umat Islam agar tidak mengucapkan selamat Natal. Karena menurut mereka itu adalah penyebab runtuhnya aqidah dan syahadat sebagai janji suci dia menjadi Muslim.

Polemik Mengucapkan Selamat Natal

Adapun pandangan yang berbeda dengan membolehkan ucapan selamat Natal dikarenakan hal tersebut tidak sampai kepada persoalan aqidah. Namun hanya upaya hubungan muamalah. Mengingat ucapan selamat tidak memberikan arti untuk meyakini agamanya tetapi hanya melahirkan sikap toleran antar agama dan menjadi harmonis.

Persoalannya pendapat yang membolehkan tersebut dihalangi oleh yang mendominasi teks dengan melarang dan menyalahkan pendapat tersebut tanpa argumentasi yang rasional dan tidak adanya dialog untuk membahas hal tersebut. Kemudian ditambah juga dengan tuduhan dan penghinaan yang berbeda dengannya seperti disebut sesat, liberal, dan sebagainya.

Persoalan ini sangat penting bagi keutuhan keberagamaan ditengah suasana damai dan harmonis di masa depan. Maka dari itu, perlu ada pembacaan untuk melihat secercah cahaya agar bagaimana seharusnya sebagai umat beragama. Jacques Derrida memberikan gambaran tentang pentingnya posisi dan keberadaan teks. Teks menurut Derrida seharusnya memiliki otoritas sendiri dan berdiri sendiri tanpa dipengaruhi oleh sang pengucap atau penafsir teks. Implikasi dari pemahaman ini tidak adalagi yang mendominasi teks, semua penafsiran bisa memungkinkan karena teks berdiri sendiri dan dapat melahirkan pelbagai makna.

Baca Juga  Isu Penting Dalam Munas Tarjih Muhammadiyah ke-31

Kemudian ketika teks tidak didominasi oleh satu interpretasi tertentu, maka interpretasi yang selama ini tidak diperhatikan menjadi mungkin untuk dibahas. Maka dari itu pesan-pesan Tuhan tidak boleh didominasi oleh pikiran manusia tapi memberikan keterbukaan potensi makna lain yang selama ini tidak pernah diperhatikan.

Derrida dan Keterbukaan Pemaknaan Pesan Tuhan

Jacques Derrida juga menjelaskan bahwa pemaknaan tidak bisa menjadi final dan selesai maka tidak ada keberakhiran makna dan terus-menerus terjadinya pemaknaan baru sesuai dengan perkembangan kehidupan. Pemaknaan yang final melahirkan kebenaran absolut dan pemaknaan yang berbeda menjadi keliru sehingga terbatas dan tertutup dari kemungkinan adanya makna baru. Hal ini memberikan implikasi dalam proses pemahaman dan penafsiran pesan-pesan Tuhan tidak boleh untuk memberikan interpretasi yang final dan absolut. Karena pada dasarnya akan ada makna-makna baru yang terus memungkin dalam pesan Tuhan tersebut.

Oleh karena itu, demi masa depan keagamaan yang damai dan harmonis penuh dengan cinta kasih antar sesama umat beragama. Maka penting memperhatikan gagasan Jacques Derrida sebagai upaya dekonstruksi terhadap berhala-berhala ego manusia yang merasa menjadi representatif Tuhan dan kebenaran. Yang kemudian membatasi potensi kebenaran hanya karena pandangannya yang tertutup dan menolak perbedaan. Sehingga mereka seakan mengkerdilkan pesan-pesan Tuhan.

Maka dengan membuka pesan Tuhan sebagai teks yang berdiri sendiri dan terbuka memiliki keragaman makna. Dan penting juga untuk senantiasa melakukan penundaan atau finalitas makna. Karena sesungguhnya pemaknaan selalu berjalan seiring perjalanan kehidupan manusia.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho