Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Uslub dan Stilistika dalam Kajian Kisah Al-Qur’an

Wali
Sumber: istockphoto.com

Setiap bahasa memiliki kriteria masing-masing. Salah satunya ialah uslub. Uslub berasal dari bahasa latin stilis yang berarti pena, kemudian berpindah makna dengan jalan majaz pada setiap hal yang dilakukan dan yang dituliskan. Uslub berasal dari bahasa arab yaitu salaba-yaslubu-salban yang atinya merampok, mengupas, atau merampas. Namun dikenal dengan keserasian  kata dari bahasa Arab yaitu uslub yang artinya gaya bahasa, jalan, atau cara. Ali Jarim al-Musthofa mengungkapkan bahwa uslub adalah makna yang terkandung dalam kata-kata yang terangkai sedemikian rupa, sehingga lebih cepat mencapai sasaran kalimat yang dikehendaki. Dalam uslub  terdapat 3 macam unsur yaitu cara, lafaz/bahasa, dan makna. Sedangkan dalam aspek keilmuanya tentang studi gaya bahasa umumnya disebut uslubiyyah atau stilistika.

Stilistika Al-Qur’an

Sedangkan kitab al-Qur’an merupakan salah satu contoh dari karya yang dapat memikat pembaca maupun pendengarnya, dalam banyak cerita yang disajikan. Setiap makna ayat pasti  memiliki arti yang istimewa, dan dari keseluruhan bentuk  al-Qur’an dapat dikatakan sebagai sastra. Sastra adalah karya yang menggunakan bahasa sebagai mediannya. Hasil dari sastra akan terlihat baik ketika cara penyusunannya baik dan benar. Hasilnya bisa berupa  penekanan pada  aspek bunyi atau musik huruf yang disebut dengan puisi ( Syi’ir). Jika penekananya pada aspek uraian atau deskripsi maka hasilnya disebut dengan kisah, novel, dan hikayat.  Karya sastra bukanlah sekedar pengungkapan kata-kata, melainkan hasil dari pemikiran dan sikap dalam menghadapi tingkah laku dalam kondisi tertentu.

Definisi stilistika ialah gaya yang dalam lingkupnya masuk ke ranah sastra (balaghah). Namun, istilah yang sepadan lebih cocok kepada al-ilm balaghah. Dalam literatur Arab kedua ilmu tersebut memiliki kesepadanan makna, tetapi keduannya juga memiliki perbedaan diantaranya, a) Ilmu balaghah bersifat statis. Sedangkan stitilistika termasuk ilmu yang dinamis dan berkembang. b) Kaidah-kaidah yang dipakai dalam ilmu balaghah  tidak terlepas dengan kaidah ilmu nahw (sintaksis). Sedangkan stilistika mengkaji fenomena bahasa. c) Ilmu balaghah  dibangun dengan pemikiran ilmiah. Sedangkan stilistika dibangun dari ranah psikologi yang yang masuk ke segala sektor dan aspek kehidupan.

Baca Juga  Mengenal Muhammad Syahrur dan Teori Hermeneutikanya

Oleh karena itu, istilah mauquf dalam stilistika lebih rumit daripada istilah muqtadha al-hal dalam ilmu balaghah. Setiap karya yang mengandung sastra akan melahirkan pandangan yang berbeda pada setiap pembacannya, dan setiap pembaca yang memperhatikan aspek keseluruhan dari karya sastra  akan menghubungkannya dengan berbagai aspek seperti,  nasionalisme, politik, teologi, dan filsafat.

Karakteristik uslub yang dipaparkan dalam kisah al-Qur’an

Pemaparan suatu kisah dalam al-Qur’an mempunyai karakteristik tersendiri, baik kisah yang dijelaskan secara runtun, keseluruhan, dan memiiki maksud yang dicapai ialah kisah yang memiliki makna tersirat. Namun, pada hakikatnya penyampaian al-Qur’an seperti itu adalah semata-mata untuk mencapai tingkat religilitas manusia bukan imajinasi manusia. pada umumnya seluruh kisah yang dikisahkan di dalam al-Qur’an pasti diawali dengan kata pendahuluan, baik kisah itu menjadi pola pertama, kedua, maupun ketiga. Misalnya kisah yang terkandung dalam surat al-Fill ayat 1

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

Dalam surat tersebut didahului dengan kata pertanyaan, “apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?”. lalu disambung dengan kejadian-kejadian yang terjadi dan diperlihatkan azab yang akan menimpa orang-orang yang menghancurkan kiblat seluruh umat manusia yaitu ka’bah. Lalu surat al-Mudatsir ayat 18-20

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ,  فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ, ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

Dalam surat tersebut juga terdapat gaya bahasa yang memiliki arti pengulangan, sehingga menghasilkan makna penegasan karena diulang dalam dua kali yaitu kata قُتِلَ yang memiliki makna sebenarnya yaitu membunuh, tetapi dalam al-Mudatsir diartikan maknanya sebagai kecelakaan atau celaka, karena kata qutila mengandung kata yang menegaskan suatu perkara yang merugikan, sehingga akan terjerumus dalam dosa yang besar.

Dalam penggunaan kata dan gaya bahasa yang di lakukan oleh bangsa Arab dahulu berbeda dengan bangsa Arab dahulu. Namun, al-Qur’an berhasil menyampaikan dengan gaya bahasa yang kompleks dan uslub serta stalistika yang indah. Tetapi masih mengandung makna yang begitu menakjubkan, karena keadaan yang terjadi di dalam al-Qur’an dan seluruh peristiwa yang dikisahkan  disesuaikan dengan keadaan masyarakat jaman dahulu dan sebagai pengingat umat manusia yang akan datang, yang mana memiliki sifat patuh namun lalai dalam hal apapun, sehingga Allah Swt mewahyukan al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia di bumi  agar bisa mengambil hikmah dalam setiap kisah yang terjadi.

Baca Juga  Menyoal Ridwan Kamil: Whataboutism dalam Al-Qur’an

Editor: An-Najmi