Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Konsep Tractatus Ludwig Wittgenstein dalam Kajian Ayat Al-Qur’an

Ruang lingkup filsafat Analitik atau filsafat bahasa telah diurai oleh Mortimer Adler dalam karyanya The Condition of Philosophy. Adler mengungkapkan bahwa filsafat analitik termasuk bidang khusus dalam filsafat secara umum, yang titik fokusnya terletak pada pembahasan yang diarahkan terhadap masalah arti atau makna suatu ungkapan filsafat, maupun tentang bagaimana suatu ungkapan dapat mengandung arti demikian. Salah satu dari tokoh filsafat analitik bahasa adalah Ludwig Wittgenstein.

Ludwig Wittgenstein

Ludwig Wittgenstein memiliki nama lengkap Ludwig Josef Johann Wittgenstein. Ia adalah seorang filsuf analitika bahasa terkemuka yang sangat berpengaruh di abad XX hingga kini. Ia memiliki 2 karya besar, yaitu Tractatus Logico-philosophicus dan Philosophical Investigations. Keduanya memiliki tema yang sama yaitu membahas tentang bahasa dan makna, hanya saja cara penyampaian dan inti permasalahannya yang berbeda. Sementara yang akan penulis bahas kali ini adalah karya pertamanya yaitu Tractatus Logico-philosophicus.

Pokok pemikiran dari Tractatus sendiri adalah tentang bagaimana bahasa dapat digunakan oleh seseorang untuk mengatakan sesuatu sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Manusia berinteraksi menggunakan bahasa (kata dan kalimat), maka dari itu pula kata dan kalimat itu cukup untuk mengungkapkan pemikiran  seseorang kepada orang lain. Dalam karyanya ini, Lugwig Wittgenstein memberikan kesimpulan bahwa bahasa merupakan gambaran dari suatu kenyataan, bahasalah yang nantinya akan menunjukkan makna dari suatu kenyataan tersebut.

Konsep Tractatus

Di dalam kata pengantar Tractatus, Wittgenstein mengatakan:

“Apa yang bisa dibicarakan sudah barang tentu dapat pula dikatakan dengan jelas; namun tentang apapun yang seseorang tidak bisa membicarakannya maka seorang tersebut harus diam”

Dalam Tractatus dijelaskan bahwa seorang filsuf tidak akan mengatakan apapun yang tidak dapat dikatakan. Hal ini seakan memberi penjelasan bahwa persoalan-persoalan filsafat akan mudah terpecahkan apabila persoalan tersebut menggunakan struktur realitas juga memiliki ruang lingkup bahasa yang bermakna.

Baca Juga  Mendidik Anak Bagi Orang Tua Perspektif Tafsir Ibnu Abbas

Lantas apakah konsep Tractatus ini bisa dikaitkan dengan Al-Qur’an? Kita semua telah mengetahui bahwa salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai pedoman hidup manusia di muka bumi ini. Dikatakan seperti ini karena pada dasarnya Al-Qur’an juga berisikan tentang hukum dan juga tuntunan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Al-Qur’an menjelaskan serta mengatur bagaimana tentang berhubungan dengan orang lain, bagaimana cara berdagang, bagaimana cara menuntut ilmu, bagaimana cara zakat, dan banyak lagi ilmu dalam Al-Qur’an yang sifatnya sebagai petunjuk untuk umat manusia menjalani hidup.

Kajian Al-Qur’an dengan Teori Tractatus Wittgenstein

Jika dikaitkan dengan konsep Tractatus Wittgenstein tentang  “Bagaimana bahasa dapat digunakan oleh seseorang untuk mengatakan sesuatu sehingga dapat dimengerti oleh orang lain.” Juga bahwa “Bahasa merupakan gambaran dari suatu kenyataan dan bahasalah yang nantinya akan menunjukkan makna dari suatu kenyataan tersebut.”

Contoh penerjemahan menggunakan teori Tractatus kepunyaan Ludwig Wittgenstein bisa dikaitkan dengan  potongan Qs. Al-Baqarah ayat 286.

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)

Dalam teori Tractatus, Wittgenstein memaparkan bahwa dalam mengggunakan bahasa kita harus memakai bahasa yang dapat memahamkan lawan bicara kita, dan juga harus menggunakan struktur sintesa yang dibenarkan. Agar penuturan kita dapat diterima oleh lawan  bicara.

Langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Ketika kita menjelaskan kepada seseorang, maka gunakanlah bahasa atau ungkapan yang membuat lawan bicara kita paham.

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya bermakna Allah memberi ujian atau cobaan hidup kepada seseorang sesuai dengan kesanggupannya.

2. Hadirkan fakta-fakta realita kebenaran yang ada dalam ungkapan tersebut.

Baca Juga  Ragam Perspektif Bagi Puasa Ramadhan

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah memberi ujian atau cobaan hidup kepada seseorang sesuai dengan kesanggupannya, baik yang beriman maupun tidak beriman, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang kaya maupun miskin. Maka dari itu banyak sekali macam ujian dalam hidup karena menyesuaikan dengan kesanggupan seseorang. Ada yang sehat namun diuji dengan ekonomi yang seret, ada yang ekonomi yang tinggi namun diuji dengan kesehatan, ada pula yang ekonominya tinggi, kesehatannya baik namun diuji oleh anak-anaknya yang durhaka.

3. Kaitkan fakta-fakta kebenaran tersebut terhadap ayat yang diakui kebenaran atau dibenarkan.

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah memberi ujian atau cobaan hidup kepada seseorang sesuai dengan kesanggupannya. Demikianlah sudahlah menjadi sunnatullah di muka bumi ini. Bukan hanya manusia biasa saja, namun juga orang-orang hebat di sisi Allah, para kekasih Allah SWT. Mereka tidak diberikan kemenangan sebelum diuji hingga berdarah-darah. Karenanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلٰى حَسَبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صَلَبًا اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَةٌ اُبْتُلِيَ عَلٰى حَسَبِ دِيْنِهِ (رواه الترمذي وابن ماجه)

“Manusia yang paling dashyat cobaannya adalah para anbiya’ kemudian orang-orang serupa lalu orang-orang yang serupa. Seseorang itu diuji menurut ukuran agamanya. Jika agamanya kuat, maka cobaannya pun dashyat. Dan jika agamanya lemah, maka ia diuji menurut agamanya” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadits ini menunjukkan bahwa kebenaran atas QS. Al-Baqarah ayat 286 tersebut memanglah benar adanya. Setiap orang memiliki ujian maupun cobaan hidup masing-masing. Namun dalam hadits ini lebih menerangkan bahwa tingkat besar maupun kecilnya suatu masalah seseorang diukur menurut agamanya.

Baca Juga  Menerabas Jalan Menuju Kemuliaan

Editor: An-Najmi