Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

HAMKA dan Terciptanya Keauntetikan Insan Kamil

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal sebagai Buya Hamka. Seorang ulama besar dari Indonesia, harum namanya semerbak di bumi minangkabau dan nusantara, pengarang yang  produktif “prolific”, sastrawan, patriot, pejuang, ahli syair, pujangga, peminat sejarah, serta praktisi pendidikan Islam, memiliki pandangan tersendiri tentang pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Buya Hamka memandang hakikat pendidikan Islam adalah sebuah upaya untuk menumbuh-kembangkan segala potensi manusia sebagai insan kamil, yaitu meliputi budi, akal, cita-cita dan bentuk fisik agar terwujud pribadi yang baik serta dapat tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari sesuai dengan panduan jalan hidup Islami.

Pendidikan dalam Islam

Melihat pandangan lain, Pendidikan Islam adalah sebuah upaya sadar dan terencana dari seorang guru untuk berupaya menumbuh-kembangkan kemampuan jiwa dan raganya secara sempurna sesuai dengan panduan syar‘ī dari Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW, sehingga tercipta insan manusia yang sempurna untuk mampu menjalankan tugasnya sebagai khalīfah dimuka bumi dan sekaligus sebagai ‘abdullah.

Dalam khazanah Islam, pendidikan terikat dengan bahasa Arab yakni, ta‘līm, tarbiyah, dan ta’dīb. Ta‘līm adalah pendidikan dengan makna pengajaran. Tarbiyah dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany adalah sya’a al-syai halan fa halun ila haddi al-tamam; artinya mengembangkan atau menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap sampai batas yang sempurna. Sedangkan ta’dīb adalah makna pendidikan yang berkaitan dengan tata cara berperilaku dan berucap yang baik atau lebih dikenal dengan pendidikan moral atau karakter dalam rangka pembentukan individu yang bermartabat.

Al-Qur’an sendiri menjelaskan tentang pentingnya pendidikan, yang terindikasi oleh akal, Harun Nasution menjelaskan bahwa ada tujuh kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan pentingnya akal yaitu kata nazara (QS al-Qaaf/50: 6-7, al-Thaariq/86 : 5-7, al-Ghasiyah/88: 17-20), kata tadabbara (QS Shaad/38: 29, Muhammad/47: 24), kata tafakkara (QS al-Nahl/16: 68-69, al-Jasiyah/45: 12-13), kata faqiha (QS al-An’am/6: 25, 65, dan 98; al-A’raf/7: 179), kata tadzakkara (antara lain QS al-Baqarah/2: 221, 235, dan 282; al-An’am/6: 80, 152), kata fahima (antara lain QS an-Nisa/4: 78; al-An’am/6: 25 dan 65), dan kata aqala (antara lain QS al-Baqarah/2: 73-76, Ali Imran/3: 65 dan 118). Begitu juga dengan penjelasan dalam Q.S At-Taubah/9:122,

Baca Juga  Tasawuf sebagai Solusi Pendidikan Akhlak Era Modern

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya : Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.

Tujuan Pendidikan Menurut Hamka

Dalam tafsir Al-Azhar setidaknya memiliki misi pendidikan yakni

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ

 “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama”

Secara khusus adalah ilmu agama. Tafaqquh fiddin. Ketika  terjadi peperangan atau jihad yang statusnya fardhu kifayah, maka tidak sepatutnya semua orang pergi ke medan perang. Harus ada yang konsentrasi menuntut ilmu, tafaqquh fiddin. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, Surat At Taubah ayat 122 ini menganjurkan pembagian tugas. “Semua golongan harus berjihad, turut berjuang. Tetapi Rasulullah kelak membagi tugas mereka masing-masing. Ada yang di garis depan, ada yang di garis belakang. Sebab itu, kelompok kecil yang memperdalam pengetahuannya tentang agama adalah bagian dari jihad juga. Lalu Buya Hamka membawakan dua buah hadits dalam menafsirkan ayat ini:

أقرب الناس من درجة النبوة أهل الجهاد وأهل العلم لأن أهل الجهاد يجاهدون على ما جاءت به الرسل وأما أهل العلم فدلوا الناس على ما جاءت به الأنبياء

“Manusia yang paling dekat kepada derajat nubuwwah adalah ahli ilmu dan ahli jihad. Adapun ahli ilmu, merekalah yang menunjukkan kepada manusia apa yang dibawa para Rasul. Adapun ahli jihad, maka mereka berjuang dengan pedang-pedang meraka, membawa apa yang dibawa para Nabi.” (HR. Ad Dailami dari Ibnu Abbas)

Baca Juga  Dicela, Balas Mencela? Begini Jawaban Al-Qur’an Tentang Celaan

يوزن يوم القيامة مداد العلماء ودم الشهداء

“Pada hari kiamat, tinta para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada’” (HR. Ibnu Abdil Bar dari Abu Darda’)

Dua hadits itu dhaif, tetapi dalam masalah fadha’ilul ‘amal (keutamaan amal), sebagian ulama termasuk Imam An Nawawi memperbolehkan.

Penciptaan Insan Kamil Melalui Pendidikan

Hamka juga menjelaskan tentang keauntetikan pendidikan Islam di Nusantara adalah penciptaan Insan Kamil di dalam diri rakyat Indonesia, yang memiliki indikatornya sebagai berikut yakni:

  1. Menjadi Hamba Allah. 

Tujuan yang sejalan dengan mengapa manusia di ciptakan dan kenapa kita ada di dunia, yakni semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagai proses pembinaan peserta didik menjadi Khalifah Allah fi al-Ardh

Sebuah momentum terciptanya Insan Kamil, yakni ketika ia sudah pantas menjadi pemimpin di dunia, di mulai dari dia dapat membina dirinya sendiri, yang akan bermanfaat untuk masyarakat. Tidak hanya itu, seorang Insan Kamil,  akan menciptakan sebuah rahmat di bumi ini, yang mana sesuai dengan tujuan penciptanya.

  1. Kebaragaman dan toleransi yang terikat di dalam masyarakat. 

Ketika keberagaman dan toleransi sudah kita dapatkan dalam hidup ini, maka akan terciptanya sebuah hal yang dinamakan Hablumminannas, yang berarti hubungan persaudaraan dan tolong menolong diantara manusia akan semakin harmonis.

  1. Memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Setiap Insan Kamil, pasti sangat menginginkan hal ini, sejahatera dan bahagia di dunia dan akhirat, sebuah tujuan hidup dari manusia, dan tujuan tersendiri di dalam pendidikan Islam.

Ketiga tujuan tersebut sejatinya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena pencapaian tujuan yang satu memerlukan pencapaian tujuan yang lain, bahkan secara ideal harus dicapai secara bersama melalui proses pencapaian yang seimbang, sehingga akan muncul corak bagaimana pendidikan Islam di dalam setiap insan. Hamka menekankan pendidikan pada pembentukan pribadi dan akal, karena menurutnya yang membedakan pendidikan dan pengajaran adalah akhlak, dan akal berguna untuk menambah keyakinan dari keraguan pengetahuan.

Baca Juga  Stoikisme: Bersyukur atas Segala Kehendak Allah

Jika pendidikan tidak mengandung unsur pembentukan pribadi yang berakhlak mulia disebut pengajaran saja. Maka sintesa pemikiran Hamka akan menjadi kontribusi yang cemerlang dan menghasilkan karya baru berupa pendidikan budi atau akhlak yang mencakup aspek emosi (EQ), pendidikan akal yang mencakup aspek intelektual (IQ), pendidikan rohani yang mencakup aspek spiritual (SQ), dan pendidkan jasmani yang mencakup aspek kesehatan. Gabungan semua ini akan menghasilkan ulul al-bab dan Insan Kamil yang sempurna di Nusantara.

Editor: An-Najmi Fikri R