Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Akademisi UMY David Efendi Singgung Green Al-Ma’un Movement dan Peran Perempuan Jaga Lingkungan

David Effendi
Dok. Pribadi

Yogyakarta – Krisis lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui aksi seremonial atau kegiatan simbolik semata. Dibutuhkan perubahan paradigma, gerakan sosial hingga keberanian memengaruhi kebijakan publik agar kelestarian lingkungan benar-benar terjaga.

Hal itu disampaikan Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, David Efendi, dalam International Seminar bertajuk “From Grassroots to Policy: Young Women’s Leadership in Advancing Eko-Livelihood for Sustainable and Just Societies” yang digelar Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (16/5/2026).

Menurut David, persoalan lingkungan saat ini berkaitan erat dengan ketimpangan sosial dan cara pandang manusia terhadap pembangunan ekonomi yang kerap mengabaikan aspek ekologis.

“Kecenderungan kita hari ini selalu berpikir tentang ekonomi, tetapi melupakan ekologi. Padahal, sustainability economy harus berjalan seimbang dengan sustainability ecology,” ujarnya.

David yang merupakan Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menjelaskan, gagasan Islam transformatif yang diperkenalkan cendekiawan Moeslim Abdurrahman menjadi inspirasi penting dalam membangun gerakan lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat.

“Islam transformatif lahir dari kegelisahan terhadap kemiskinan dan ketidakadilan. Dakwah tidak hanya bicara kesalehan ritual, tetapi bagaimana menghadirkan keberpihakan kepada kaum pinggiran dan membangun gerakan sosial,” katanya.

Menurutnya, semangat tersebut relevan dengan pengembangan green Al-Ma’un movement yang menempatkan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari nilai keislaman dan gerakan pemberdayaan masyarakat.

Dalam seminar itu, David juga menyoroti rendahnya literasi lingkungan di masyarakat yang membuat persoalan ekologis terus berulang, mulai dari sampah plastik hingga kerusakan hutan.

“Masalah lingkungan tumbuh begitu cepat setiap saat, tetapi respons kita sering kali terlalu kecil. Karena itu, kita tidak cukup hanya berhenti pada aksi simbolik seperti menanam pohon atau membersihkan sungai. Yang lebih penting adalah bagaimana mendorong perubahan kebijakan,” tegasnya.

Baca Juga  MAARIF Institute dan P3M Gelar Pelatihan Literasi Digital untuk Ulama Muda

Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan karena dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. David menuturkan:

“Perempuan adalah khalifah fil ardh. Dari bangun tidur sampai kembali tidur, perempuan memiliki ruang besar untuk membangun kesadaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.”

David mencontohkan persoalan sampah plastik yang terus meningkat setiap hari sebagai tantangan sosial yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk komunitas perempuan muda. Karena itu, ia mendorong Nasyiatul Aisyiyah untuk memperkuat gerakan lingkungan berbasis komunitas yang dimulai dari langkah sederhana namun berdampak nyata.

“Menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Tidak selalu harus menghentikan proyek besar. Kegiatan kecil tetapi konsisten dan berdampak justru bisa menjadi gerakan sosial yang kuat,” katanya.

Ia juga mengusulkan pemberdayaan perempuan melalui pengembangan bibit tanaman dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan ekologis sekaligus ketahanan ekonomi.

“PPNA harus mendukung gerakan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Target akhirnya adalah menciptakan kelestarian semesta,” pungkas David.