Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Q.S. Al-A’raf Ayat 58: Indonesia dan (di Balik) Tanahnya yang Subur

Negara nan Subur
Sumber: pinterest.com

“Indunisia qith’atun min al-jannati, nuqilat ila al-ardhi”.

Kalimat di atas merupakan bentuk kekaguman Mahmoud Shaltut yang ia sampaikan kepada Bung Karno di kala berkunjung ke Indonesia dalam rangka menghadiri Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) pada tahun 1964.1 Adapun artinya: “Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan ke bumi.”

Tentunya, hal demikian merupakan suatu kebanggaan yang bangsa nan besar ini miliki. Karenanya, mensyukuri apa yang telah Allah berikan adalah suatu sikap yang seharusnya dilakukan; secara lisan dan perilaku. Indonesia yang masyhur sebagai “surga” dunia juga tidak luput dari peran Allah yang telah menyuburkan tanahnya.

Allah Swt. berfirman di dalam Q.S. Al-A’raf [7]: 58:

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖۚ وَالَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًاۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَࣖ

Artinya: “Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur seizin Tuhannya. Adapun tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami jelaskan berulang kali tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Ayat tersebut di atas merupakan sebentuk janji-Nya terhadap tanah yang Ia kehendaki. Entah tanah itu akan menerima air hujan, sebagai bentuk dari karunia Allah yang Ia siapkan atau justru mengabaikannya. Tanah yang subur dapat dikatakan sebagai al-balad al-thayyib, sedangkan alladzi khabutsa berarti tanah yang tidak subur walaupun dapat menerima air hujan.

Makna al-Balad al-Thayyib dan Alladzi Khabutsa

Beberapa mufasir modern-kontemporer seperti halnya Al-Maraghi, Abduh, As-Sya’rawi, dan Wahbah Zuhaili memiliki pandangan yang relatif sama akan makna kata tersebut. Secara literal, dua term tersebut berarti—seperti yang telah disinggung pada paragraf sebelumnya—kondisi tanah yang subur sebab menerima air hujan. Dan juga, tanah gersang serta tandus karena tidak bisa mempergunakan air hujan untuk tanah itu sendiri, meskipun menyimpan cadangan air hujan.

Baca Juga  Kosmologi: Takdir Hukum Alam Allah yang Pasti Bagi Ciptaan

Demikian, Abduh dan Wahbah Zuhaili mengutip dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut merupakan suatu tamsil untuk membedakan antara seorang mukmin dan kafir.2 Adapun mukmin diumpamakan dengan tanah yang subur, sedangkan kafir sebagai perumpamaan dari tanah yang gersang dan tandus.

Al-Maraghi, demikian juga Abduh, memberikan keterangan pada “mukmin dan kafir”, bahwa kata mu’min diidentifikasi dengan kebaikan atau orang yang baik (birrun). Adapun kâfir diartikan dengan kedurhakaan atau ketidakbaikan (fâjir).3

Hadis Tanah Subur: Representasi Sikap Manusia

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Abduh juga menampilkan hadis riwayat Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan al-Nasa’i dari Abu Musa al-Asy’ari dengan redaksi sebagai berikut:

إنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الهُدَى والعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فكانتْ مِنها طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ، قَبِلَتْ الماءَ فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ والعُشْبَ الكَثِيرَ، وكَان مِنها أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الماءَ فَنَفَعَ اللهُ بها النَّاسَ، فَشَرِبُوا مِنْهَا وسَقَوا وَزَرَعُوا، وأَصَابَ طَائِفَةً مِنها أُخْرَى إنَّما هِي قِيعَانٌ لا تُمْسِكُ مَاءً ولا تُنْبِتُ كَلَأً، فذلك مَثَلُ مَنْ فَقُهَ في دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِما بَعَثَنِي اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وعَلَّمَ، ومَثَلُ مَنْ لم يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ولم يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الذي أُرْسِلْتُ بِهِ

Hadis di atas mengabarkan akan tiga kondisi manusia di Allah mengutus Nabi Saw. untuk memberikan petunjuk dan ilmu. Dalam hal ini, Abduh menggambarkan tiga kondisi tersebut dengan rincian sebagai berikut. Pertama, orang yang memberikan dan menerima manfaat (alladzi nafa’a wa intaf’a). Kedua, dia yang hanya memberi manfaat untuk orang lain, tidak dengan dirinya sendiri (alladzi intaf’a ghairuhu fi ’ilmihi min dûnihi). Ketiga, orang yang tidak dapat memberi dan menerima manfaat (alladzi lam yanfa’ wa lam yantafi’).

Baca Juga  Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Perspektif al-Qur’an

Menurut keterangan di atas, penulis mencoba untuk membangun suatu pandangan akan keterkaitan teks ayat yang secara literal merupakan materi, yaitu hujan dan tanah, dengan pandangan mufasir—yang telah disebut namanya di atas—yang melihat ayat tersebut bukan hanya sekedar tanah yang subur dan gersang. Melainkan suatu bentuk sikap seorang hamba menerima karunia Tuhan.

Indonesia: Di Balik Karunia Tuhan yang Agung

Lebih lanjut, Indonesia bukan hanya sekedar nama negara, gugusan pulau-pulau, panorama laiknya “surga”, kekayaan daratan dan lautan, dan sebagainya. Melainkan ia, di sisi lain, adalah mental, sikap, kedudukan, dan martabat yang mengejawantah pada apa yang disebut sebagai bangsa.

Namun apakah sikap, kedudukan, dan martabat yang Indonesia miliki berbanding lurus dengan keindahannya? Di manakah “potongan surga” itu? Apakah bangsanya telah menikmati “potongan surga” tersebut? Sudahkah bangsanya menikmati karunia Tuhan yang agung ini? Apakah “potongan surga” benar-benar adalah Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan di atas bukanlah tanpa sebab atau hanya sekedar menghilangkan rasa keingintahuan seorang warga negara yang besar ini. Seorang warga yang merasa puas ketika sudah pertanyaannya terjawab. Jauh dari itu, sekelumit pertanyaan tersebut adalah harga diri serta martabat suatu bangsa yang harus terjawab secara nyata, bukan hanya wacana belaka.

Secara literal, Indonesia sudah termasuk kepada al-balad al-thayyib dengan segala kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah, mulai dari hutan, laut, minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Sayangnya secara dikotomis, orang-orang yang mengelola potensi alam ini termasuk kepada alladzi khabutsa. Artinya, secara sikap, mental, dan martabat telah melakukan ketidakbaikan pada tanahnya sendiri.

Indonesia nan Subur: Antara Kekayaan Alam dan Eksploitasi Manusia

Demikian, jika dilihat secara sikap, mental, dan martabat, Indonesia tidaklah sepenuhnya termasuk kepada baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Penggalan ayat ini sering dikampanyekan oleh sebagian orang untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah negeri yang baik, nyaman, ramah, dan sebagainya serta ‘diklaim’ sebagai negeri yang ideal.

Baca Juga  Belajar Merespon Ejekan dari 3 Nabi dalam Al-Qur’an

Namun demikian, penulis memandang berbeda negara, negeri, dan bangsa ini ketika disandingkan dengan Q.S. Al-A’raf ayat 58 yang, menurut penulis, memiliki dualisme pemahaman. Ialah Al-balad al-thayyib dan alladzi khabutsa, antara kekayaan alam Indonesia dan sikap tidak baik orang-orang yang mengelolanya.

Jika merujuk kembali kepada tiga kondisi yang telah Abduh sebutkan di atas, pengelola potensi alam Indonesia sama sekali tidak termasuk kepada tiga hal tersebut. Artinya, mereka hanya memperkaya diri sendiri dengan mengeksploitasi potensi alam Indonesia dan abai akan orang-orang yang tidak pernah merasakan kekayaan alamnya sendiri.Jika bisa diistilahkan, ada kondisi keempat, yaitu “orang yang hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri (alladzi nafa’a fi nafsihi dûna ghairihi)”. Contoh pastinya adalah para koruptor dan mereka yang semena-mena merampas kekayaan karunia Tuhan yang agung. Maka apalah arti slogan “Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan ke bumi?!” Wallahu a’lam.

Editor: Dzaki Kusumaning SM

Referensi:

  1. Lihat: https://bit.ly/42X3UiQ ↩︎
  2. Tafsir al-Manar, juz 8, 482 dan al-Tafsir al-Munir, juz 4, 614. ↩︎
  3. Tafsir al-Maraghi, juz 8, 186. ↩︎