Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Katak, Ular, dan Kalajengking: Pesan Alam dalam Tafsir Al-Qur’an

Katak
Sumber: pinterest.com

Al-Qur’an membimbing umat Islam tidak hanya melalui ajaran tauhid dan ibadah keseharian. Perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam seperti penciptaan langit dan bumi, peredaran tata surya dan angin juga diuraikan dengan detail agar pembaca kitab suci tersebut dapat mengambil pelajaran dari berbagai sisi.  Bahkan, diskusi akan makhluk hidup yang biasa dianggap remeh seperti katak, kalajengking dan ular juga diulas. Tujuannya, Al-Qur’an hendak menyampaikan bahwa, hewan-hewan demikian tetap memiliki faedah.

Hewan beracun seperti kalajengking dan ular dipandang masyarakat umum sebagai makhluk yang membahayakan dan meresahkan lingkungan. Padahal, hewan-hewan demikian tentu saja tidak diciptakan kecuali juga berperan menebar kebaikan dan nilai positif kepada sesama makhluk. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan pada Q. S Ali-Imran [3]: 191 bahwa, Allah Swt tidak menciptakan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat. Lantas, apa manfaat ular, kalajengking dan katak? Bagaimana sikap al-Qur’an tentang hewan-hewan tersebut?

Apakah Katak, Ular dan Kalajengking disebutkan dalam Al-Qur’an?

Dalam Q. S Al-A’raf [7]: 133, katak disebutkan secara gamblang dengan term al-dhafadhi’. Pada konteks ayat tersebut, Allah Swt. hendak mengirimkan thawfan (angin taufan), jarad (belalang), qummal (kutu), dhafadhi’ (katak) dan damm (darah) pada kaum yang berdosa. Adapun dalam Q. S Al-Syu’ara’ [26]: 32, ular juga diuraikan dengan jelas menggunakan lafadz “tsu’ban”. Adapun ular juga disebutkan dengan beberapa term lain seperti “al-hayat” dan “al-jan”. Sedangkan, dalam Al-Qur’an tidak ditemukan secara langsung penyebutan mengenai “kalajengking”. Meskipun demikian, pada kitab tafsir diuraikan bahwa kalajengking memiliki hubungan erat dengan istilah-istilah yang didapati dalam Al-Qur’an.

Apa Manfaat Katak?

Pada tafsir Safinat Kalla Saya’lamun karya ulama’ masyhur asal Rembang, KH Maimoen Zubair, mengemukakan bahwa katak diharamkan dan dilarang akan membunuhnya. Bahkan, membunuh katak dapat dikategorikan dalam dosa besar. Alasannya, katak merupakan salah satu hewan yang terus-menerus berzikir kepada Allah Swt. Sehingga, membunuh hewan ini sama dengan memusnahkan salah satu makhluk yang terus-menerus bertasbih kepada Allah Swt. Hal demikian diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah engkau membunuh katak, karena katak merupakan salah satu makhluk yang banyak berzikir kepada Allah Swt”. 

Baca Juga  Kontribusi Ilmu Matematika dalam Sejarah Islam

Tidak cukup sampai di situ, dalam kitab tafsir yang sama juga disebutkan dua riwayat mengenai katak. Pertama, Bayhaqi meriwayatkan bahwa, Abdullah bin Amr berkata, “Janganlah engkau membunuh katak, karena sesungguhnya suara “kroakan” katak adalah tasbih”. Kedua, Aisyah ra. berkata bahwa, “Katak dahulunya adalah hewan yang memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Adapun cicak meniup api tersebut, sehingga dilarang untuk membunuh katak dan diperintah untuk membunuh satunya (cicak)”. KH Maimoen Zubayr juga menambahkan, seseorang yang memburu katak akan ditimpa dengan kekurangan dan kemiskinan dalam hidupnya.

Apa Manfaat Ular dan Kalajengking?

Secara umum, peran ular dalam Al-Qur’an hanya dikenal sebagai permisalan pada hikayat Nabi Musa a.s. Padahal, pada kitab tafsir yang serupa, KH Maimoen Zubayr mengutip pendapat Imam Qurtubi mengenai manfaat kalajengking dan ular yang jarang diketahui. Adapun Imam Qurtubi berpendapat bahwa, “Yang dimaksud dengan mengambil manfaat serta mengambil pelajaran dari kalajengking dan ular adalah umat Islam menyadari bahwa Allah Swt. telah menyediakan hukuman berupa kesakitan serta kepedihan yang dihasilkan dari kalajengking dan ular telah disiapkan untuk orang -orang kafir. Hal demikian dapat menjadi acuan akan pedihnya siksaan Allah Swt agar umat Islam senantiasa beriman dan meninggalkan maksiat. Hal inilah yang disebut dengan mengambil pelajaran yang agung”. Pada konteks ini, kalajengking memiliki hubungan erat dengan istilah neraka, balasan, dan azab yang dikandung dalam Al-Qur’an.

Pelajaran serta hikmah yang dapat diperoleh dari Al-Qur’an cukup melimpah. Tidak hanya melalui ayat-ayat kauniyah (penciptaan alam) dan sejarah kaum yang dibinasakan Allah Swt. Al-Qur’an juga mengemukakan hal-hal yang dianggap remeh namun memiliki hikmah yang agung di balik penciptaan hewan tersebut. Sehingga, umat Islam dituntut agar senantiasa berkiblat kepada Al-Qur’an dalam bersikap menghadapi berbagai macam situasi dan tidak biasa menganggap remeh hal yang kecil serta dirasa tidak ada manfaat padanya.

Baca Juga  Tafsir Aktual: Landasan Al-Qur'an Menghadapi Krisis Pangan

Editor: Dzaki Kusumaning SM