Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Al-Qur’an Adalah Kitab untuk Orang yang Berpikir

yang berpikir
Sumber: https://iqna.ir

Tak dapat dipungkiri, manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan daya pikirnya, manusia mampu menangkap informasi, mengelola informasi, juga mengaitkan satu objek pada objek lainnya. Dengan pendayagunaan berpikir, manusia dapat menjalankan kehidupannya di dunia sebagai representasi khalifah di muka bumi. Khalifah berfungsi untuk memakmurkan bumi dengan segala objeknya. Khalifah tidak akan mampu mengimplementasikan fungsi memakmurkan tanpa dilandasi oleh kemampuan berpikir yang baik dan tepat. Maka, Al-Qur’an adalah kitab untuk orang yang berpikir.

Al-Qur’an telah banyak memberikan isyarat tentang berpikir dengan beragam kata yang digunakan.  Dalam buku Ulumul Qur’an (2013), Izzan menyebutkan terdapat 18 ayat yang membicarakan tentang berfikir.  Ragam ayat ini adalah Al-Mudaṡṡir ayat 18, Al-Araf ayat 176 dan 184, Yūnus ayat 24, Al-An’am ayat 50, Saba’ ayat 46, Az-Zumar ayat 42, Al-Jatsiyah ayat 13, An-Nahl ayat 11, 44, dan 69, Ar-Rūm ayat 8 dan 21, Ar-Ra’d ayat 3, Al-Baqarah ayat 219 dan 266, Ali Imran ayat 191, dan al-Hasyr ayat 21.  Dalam ayat-ayat ini terdapat beberapa kata yang mewakilinya seperti tadabbara, faqaha, tafakkara, dan ‘alima.  

Beberapa kata tersebut menyajikan makna bahwa al-Qur’an benar-benar mendorong manusia untuk berpikir. Dorongan yang kuat ini ditampilkan dengan keragaman kata yang beragam. Artinya, banyak cara atau mekanisme yang dilakukan oleh manusia dalam berpikir. Manusia bisa melakukan tadabur, memahami, memikirkan, mengetahui, dan mengelola informasi.

Tujuan Berpikir

Untuk apa manusia berpikir? Pada objek apa yang harus ia pikirkan? Atau untuk mencapai apa manusia berpikir?  Beberapa pertanyaan ini menjadi sebuah pandangan kritis agar manusia mampu mengaitkan diri ke dalam dunia pemikirannya.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 79: Menulis Kitab Buatan Sendiri

Dalam sebuah artikel tentang Konsep Berpikir (Al-Fikr) dalam Alquran dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran PAI di Sekolah (2016), Taufik Hidayat dan Aam Abdussalam menyebutkan empat tujuan berpikir dalam al-Qur’an.

Mendapatkan Kebenaran

Pertama, Mendapatkan Kebenaran. Kecaman terhadap Walid al-Mugirah yang telah menemukan kebenaran namun kemudian berpaling pada dorongan hawa nafsu diabadikan pada sebab turun QS al-Mudassir:18.  Dalam Tafsir al-Azhar (2018), Hamka menyebutkan tujuan berpikir sesuai ayat ini adalah untuk menemukan kebenaran. Ayat ini berhubungan denagn QS al-A’raf: 176, yang sama mengecam manusia yang menuruti hawa nafsu.

Mengamalkan Syariat

Kedua, mengamalkan syariat Islam. Syariat Islam adalah benar-benar dari Allah. Begitu pula, orang yang membawa risalahnya adalah manusia yang benar. Terkait dengan pengamalan syariat, manusia didorong oleh al-Qur’an untuk memikirkan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah benar bukan pendusta. Dalam Tafsir al-Misbah (2012), QS al-A’raf:184 membantah tuduhan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad Saw. Al-Qur’an mengajak mereka untuk memikirkan kembali siapa sebenarnya Nabi Muhammad Saw. Contoh lainnya, QS al-Baqarah: 219 mengajak manusia untuk memikirkan syariat Islam mengenai pelarangan khamr karena keburukannya lebib banyak dibandingkan dengan kemanfaatannya.

Takarub Kepada Allah

Ketiga, mendekatkan diri kepada Allah Swt. Berpikir dengan baik mendorong seseorang untuk makrifat kepada Allah.  QS Ali Imran: 191, misalnya, mengisyaratkan dengan jelas seseorang yang selalu mengingat dan memikirkan Allah akan berdekatan dengan-Nya.  Terkait hal ini, Ahmad Taufik dan Aam Abdussalam (2016) menemukan pada QS al-Jatsiyah:13, QS al-Nahl:11 dan 69, QS ar-Rum:8, QS ar-Ra’d:3, Allah Swt mengajak manusia untuk memikirkan hebatnya alam semesta.  Keberagaman dan keteraturan alam semesta tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Semuanya menjadi bukti adanya Dzat Yang Maha Menciptakan.

Baca Juga  Masjid Jogokarian: Wirausaha dan Ketangguhan Ekonomi Umat

Wujud Akhlak Mulia

Keempat, berakhlak mulia. Manusia diperintahkan untuk memikirkan yang dapat menghalanginya untuk berbuat baik, di antaranya adalah khamr dan riya (QS al-Baqarah: 219 dan 266). Khamr dapat menyebabkan manusia tidak mampu membedakan kebaikan dan keburukan sehingga orang yang meminumnya sulit berakhlak baik. Sementara riya akan merusak amalan baik. Akhlaknya akan tidak baik bila ia riya.

Berpikir memiliki makna positif bagi manusia. Akal yang diberikan oleh-Nya hendaknya digunakan semaksimal mungkin guna pencapaian kemakmuran kehidupannya di dunia. Berpikir adalah memakmurkan dunia. Berpikir mendekatkan manusia kepada Yang Maha Menciptakan.