Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Merasa Galau dan Sedih? Coba Resapi Surah Adh-Dhuha!

Sumber: tribunvideo.com

Perasaan apa yang bisa menggambarkan betapa sedihnya seseorang manakala ditinggalkan secara tiba-tiba oleh kekasih yang sangat ia cintai? Ketika hubungan yang terjalin sudah begitu dekat, begitu intim, lalu kemudian dia yang spesial itu pergi tak ada kabar. Lost contact. Kita pasti akan merasa, kesalahan apa yang sudah diperbuat? Apakah ada kata yang menyinggung dia? Dan lain sebagainya.

Kurang lebih seperti itulah yang Rasulullah ﷺ rasakan saat itu. Saat dimana kegalauan beliau yang memuncak manakala beliau tak menerima wahyu dari Allah hingga sekitar 6 bulan lamanya! Berbagai perasaan campur aduk pasti beliau rasakan. Galau, sedih, merasa bersalah, merasa Allah sudah pergi menjauhi beliau, merasa Allah benci dengan beliau, dan sederet perasaan gelap yang menyelimuti beliau.

Namun, kemudian, setelah sekian lama penantian beliau, akhirnya wahyu itu turun. Dan ayat pertama dari surat ini seakan membawa angin segar bagi kekasih yang merindukan ‘kabar’ dari yang ia sangat cintai.

Tepisan dari Allah

  • Wadh dhuha.. [demi waktu dhuha (Ketika matahari naik sepenggalah.)]

Mengawali surat ini, Allah beri semacam sinyal yang menyiratkan pesan bahwa berbahagialah, bercerialah, laksana matahari yang terbit itu! Memacarkan harapan dan kabar gembira. Kemudian dilanjutkan dengan ayat kedua,

  • Wal-laili idzaa sajaa [dan demi malam apabila telah sunyi.]

Dalam kondisi galau, sedih yang bergelayutan tersebut, kita seringkali merasa begitu berat hingga terus memikirkannya. Hingga tak jarang di malam hari justru kita terjaga. Dan waktu pagi justru terlelap. siklus hidup yang kacau berbading lurus dengan tingkat kesedihan yang kita rasa. Ayat ini seperti menepis dan memberi sinyal kepada Rasulullah ﷺ bahwa malam yang gelap itu telah Allah siapkan untuk kita beristirahat. Tidurlah dengan tenang, karena Allah sambung di ayat ketiga,

  • Maa wadda’aka robbuka wa maa qolaa [Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu,]
Baca Juga  Larangan membicarakan keburukan orang lain

Betapa leganya seseorang manakala mendapat pesan yang demikian, bahwa seorang yang kita khawatirkan menjauh itu ternyata bukan pergi meninggalkan kita dengan tanpa alasan, dan bukan pula membenci kita! Tepisan dari Allah ini jauh lebih membahagiakan daripada analogi yang disampaikan sebelumnya. Bahkan, menurut Ustadz Nouman Ali Khan, penggunaan kata maa di awal ayat, bermakna penegasan atau pengkoreksian atas asumsi yang dirasakan oleh Rasulullah ﷺ. 

Optimisme dan Janji dari Allah.

Tak berhenti disitu, Allah melanjutkan firmanNya dalam ayat selanjutnya,

  • Wa lal-aakhirotu khoirul laka minal-uulaa [dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan]

Setelah Allah beri kabar gembira dengan menurunkan wahyu ini, kemudian berfirman bahwa beliau ﷺ tidak salah dan Allah tidak pula meninggalkan dan membenci beliau ﷺ, Allah lanjutkan dengan pernyataan bahwa yang datang kemudian akan jauh lebih indah dari yang kita hadapi saat ini. Ustadz Nouman pun melanjutkan dengan perkataan,

“Things are going to be so much better than what happened just now in the beginning.”

Kita, sebagai hambaNya pun merasa begitu menggairahkan membaca ayat ini. Bisa jadi sekarang kita merasa capek, merasa banyak sekali melakukan kesalahan, diuji kesabarannya dalam berbagai hal, dan lain lain. Tenang! Allah sudah berjanji bahwa apa yang kita kini hadapi insya Allah akan berbuah manis kelak di kemudian hari! Akan ada saatnya kesabaran, kedisiplinan, kerja keras, dan berbagai perjuangan yang kita lakukan saat ini, akan mewujud menjadi tabungan yang indah yang kita akan petik dan rasakan manisnya buah tersebut, nanti. Masya Allah.

Dan Allah tegaskan kembali dalam kelanjutan ayatnya,

  • Wa lasaufa yu’thiika robbuka fa tardhoo [dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas]
Baca Juga  Bagaimana Menjadi Mukmin Yang Sebenar-benar Taqwa?

Sebagaimana telah Allah firmankan diatas bahwa Dia pasti akan berikan karuniaNya kepada Rasulullah ﷺ (termasuk pula kita semua yang mudah-mudahan tergolong sebagai ummatnya), hingga kita menjadi puas! Maka, siapakah yang berani meragukan kepastian dari janji Allah? Sungguh, tidak ada keraguan sedikit pun atas apa yang sudah Allah janjikan!

Bukti kasih sayang dan pertolongan Allah.

  • A lam yajidka yatiiman fa aawaa (bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?)
  • Wa wajadaka dhooollan fa hadaa (dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk?)
  • Wa wajadaka ‘aaa-ilan fa aghnaa (dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.)

Tiga ayat diatas seolah memberi sinyal kepada kita semua, bahwa pertolongan dan kasih sayang-Nya amat sangat dekat! Kita diminta melihat kebelakang, betapa banyak pertolonganNya kepada kita. Kita diminta untuk belajar dari peristiwa masa lalu kita.

Dalam hal ini, merujuk pada kondisi Rasulullah ﷺ yang yatim saat lahir ke dunia, kemudian tak lama berselang, Ibunya yang pergi meninggalkan beliau. Lalu Allah kuatkan beliau dengan ayat yang ke-6 itu, bukankah Allah yang memelihara beliau di saat kondisi sulit seperti itu? Kemudian di saat beliau merasa kebingungan Allah turunkan petunjuk dan hidayah. Pun di kala kekurangan, Allah cukupkan. Sejatinya, semua pesan reflektif yang Allah firmankan itu tak berhenti pada beliau ﷺ saja. Melainkan kita mesti menengok ke diri kita masing-masing. Sungguh, betapa sering dan banyaknya pertolongan Allah pada kita. Hingga kita seringkali lupa atas kebaikan dan kasih sayang-Nya kepada kita.

Pengalaman masa lalu itu juga mengandung pelajaran berharga untuk kita menapaki hidup ke depan. Karena, sangat bisa jadi peristiwa itu berulang, dan hikmah pelajaran masa lalu itu dapat turut menguatkan kita, bahwa pertolongan Allah itu dekat dan Allah senantiasa bersama orang-orang yang bersabar!

Baca Juga  Dua Nasehat Diri Warisan Nabi SAW: Berbicara dan Diam

Pesan dari Allah untuk Memuliakan Dua Golongan.

  • Fa ammal-yatiima fa laa taq-har (maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang,)
  • Wa ammas-saaa-ila fa laa tan-har (dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.)

Kedua golongan yang dimaksud adalah golongan anak yatim (yang ditinggalkan oleh orangtuanya) dan golongan pengemis atau peminta-minta. Kita diingatkan oleh Allah di ayat 9 dan 10 ini supaya jangan menghina, menghardik, atau berlaku sewenang-wenang kepada mereka. Sebaliknya, kepada kedua golongan itu, Allah perintahkan kita untuk bersikap lemah lembut, menebar kasih sayang, dan memuliakan mereka. Tamparan keras bagi kita yang masih sering menganggap remeh golongan anak yatim dan pengemis.

Perintah untuk Memperbanyak Syukur

  • Wa amma bini’mati robbika fa haddits (dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan dengan bersyukur)

Ayat terakhir ini seperti menyimpulkan dari keseluruhan ayat dalam surat Adh Dhuha ini. Sudah seharusnya kesyukuran itu kita hadirkan karena Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, Allah tidak membenci kita karena Rahmat-Nya begitu luas. Kemudian, lebih lebih kita mesti bersyukur atas janji-janji Allah yang membuat optimisme kita menguat, bahwa yang datang kemudian insya Allah akan jauh lebih indah daripada yang kita hadapi saat ini (apapun itu).

Dan bersyukur pula atas nikmat, kasih sayang dan pertolongan-Nya kepada kita yang kita rasakan dulu, kini dan nanti. Dan yang tak kalah pentingnya untuk selalu bersyukur, karena keadaan kita yang lebih baik daripada kedua golongan (anak yatim dan pengemis) yang mesti kita muliakan. Masya Allah.

Dengan sederet hikmah pelajaran yang terkandung dalam Surah Adh Dhuha diatas, masih tersisakah ruang bagi kita untuk menggalau, bersedih, atau meratapi nasib?

Wallahua’lam bishshsawab.

Editor: An-Najmi