Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Al-Qurthubi: Hindari Prasangka dalam Berkawan

Prasangka
Gambar: Geotimes
Contents

“Hindarilah olehmu prasangka! Karena sesungguhnya prasangka adalah cerita yang paling dusta. Dan janganlah kamu mencari-cari aib orang dan jangan pula memata-matainya” HR. Bukhari no 5144.

Prasangka adalah sebuah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu yang bahkan kita sendiri belum mengetahui kebenarannya. Sehingga dugaan tercipta tanpa adanya hal yang mendasari.Dalam Islam hal itu disebut dengan suuzan. Prasangka dapat menjadi salah satu pelopor konflik dalam suatu interaksi. Berawal dari prasangka yang melahirkan sebuah kecurigaan hingga timbul sebuah fitnah.

Islam menganjurkan seluruh umatnya untuk selalu mengutamakan etika dalam berbagai hal. Etika ada, agar umat manusia memiliki batasan dalam berperilaku. Di satu sisi, etika dapat menjadi penilaian sikap bagi tiap individu. Penilaian perilaku seseorang dapat dilihat dari cara mereka mengutamakan etika dalam segala hal. Sebab, etika dinilai sebagai bentuk penghargaan seseorang terhadap apa yang telah ia terima.

***

Dalam dunia Islam, banyak hal dikaitkan dengan pengutamaan akhlak yang lebih dari apapun. Sebab akhlak yang baik, lebih utama dari akal yang cemerlang. Sehingga Islam memiliki banyak pengaturan etika dalam berbagai hal. Mulai dari etika dalam bertamu, etika dalam pergaulan, etika dalam berkunjung serta masih banyak etika lain yang digunakan manusia sebagai pedoman dalam keberlangsungan hidup sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Kehidupan manusia tidak akan pernah luput dengan interaksi antarsesama. Baik secara langsung ataupun tidak langsung. Seperti interaksi dalam kegiatan rapat, interaksi dalam berkawan, interaksi melalui media sosial, dan banyak interaksi lain. Baik secara online ataupun offline, interaksi tetap dikatakan sebagai interaksi apabila terdapat dua lawan bicara yang saling membahas sesuatu.

Baca Juga  Takut karena Ilmu: Makna Khasyyah Perspektif Al-Qur’an dan Tafsir

Interaksi yang baik adalah interaksi yang di dalamnya membahas hal-hal yang saling menguntungkan kedua belah pihak atau tidak merugikan salah satunya. Sehingga dalam berinteraksi tentunya terdapat etika yang wajib dimiliki, demi menghindari terjadinya perpecahan di tengah pembicaraan atau pada hasil akhir yang tidak diinginkan.

Hal yang cukup menjadi perhatian bagi kaum remaja saat ini yakni etika dalam berkawan. Hendaknya para remaja memiliki pergaulan serta perkumpulan yang baik, agar menciptakan pribadi yang berakhlakul karimah dengan meneledani sikap Rasulullah Saw. Etika dalam berkawan ataupun bergaul sangat penting dipahami, melihat maraknya penyimpangan yang dilakukan oleh kaum remaja saat ini.

Salah satu etika dalam berkawan yakni berbaik sangka dan tidak memata-matai. Tentu akan ada banyak hal yang dilewati dalam sebuah pertemanan. Sehingga tidak sedikit dari kaum remaja yang menganggap kawan seperti saudara mereka sendiri. Maka akan banyak perilaku atau ucapan yang dimaksudkan untuk bercanda akan tetapi malah melukai hati kawan satu sama lain.

***

Tanpa disadari, pertemanan yang telah dibangun lama akan sekejap rusak karena sebuah prasangka yang belum diketahui kebenarannya. Apalagi prasangka tersebut mengarah kepada prasangka buruk. Dalam berkawan hendaknya selalu berbaik sangka dan selalu mengutarakan ucapan serta tindakan dengan pikiran yang bersih. Kita dianjurkan untuk menghindari prasangka buruk sebab prasangka buruk sama halnya dengan cerita dusta yang berarti kebohongan.

Konteks ini ditujukan pada firman Allah Swt., “Wahai orang-orang beriman, jauhilah oleh kalian sebagian besar dari prasangka kepada sesama mukmin. Karena curiga kepada sesama mukmin itu dosa. Janganlah kalian mengunjing satu sama lain. Patutkah seorang diantara kalian dengan senang hati memakan daging bangkai saudaranya? Tentu kalian benci hal itu. Taatlah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.”(al-H}ujurat [49]: 12).

Baca Juga  Geneologi Tafsir Al-Quran Al-Karim Mahmud Yunus

Al-Qurtubi memiliki penafsiran terhadap makna prasangka dalam ayat tersebut. Prasangka di sini merupakan sebuah tuduhan tanpa adanya dasar yang benar. Seperti adanya tuduhan kepada seseorang yang diduga telah berzina. Maka larangan berprasangka tersebut disambungkan dengan kalimat setelahnya, “Janganlah kalian menggunjing satu sama lain”. Menggunjing dalam hal ini dapat juga dimaknai dengan memata-matai.”

Al-Qurt}ubi> dalam hal ini memaknai larangan prasangka sebab sebuah prasangka merupakan tuduhan tanpa dasar yang membuat seseorang mencari-cari informasi dengan cara memata-matai pihak lain. Timbul rasa ingin tahu apakah dugaan tersebut benar adanya. Konteks ini dikaitkan dengan tajassus sebagaimana termaktub dalam surat al-H}ujurat [49]: 12.

Susunan pada ayat tersebut telah jelas bahwa Allah swt menegaskan untuk menjaga kehormatan seorang muslim. Dalam hal ini Allah Swt melibatkan larangan prasangka, apabila seseorang mengutarakan bahwa ia mencari informasi tentang kebenaran dari prasangkanya maka dikatakan kepadanya “Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang.” Lalu saat ia ingin membuktikan dengan cara lain maka dikatakan kepadanya “Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.”

***

Berbagai uraian di atas dapat direalisasikan terhadap etika berkawan yang baik, dengan selalu berbaik sangka dan tidak memata-matai teman. Salah satu bentuk berbaik sangka terhadap kawan yakni memberikan tanggapan yang baik dengan menjauhi pikiran buruk terhadap lawan bicara. Dan apabila terdapat perkataan yang dirasa kurang mengenakkan maka hendaknya kita memutar pikiran dengan alasan yang tepat seperti, “barangkali yang ia maksud adalah seperti ini bukan seperti itu”.

Lantas alasan apalagi yang dapat kita gunakan untuk menggunjingkan satu sama lain. Bahkan Allah swt telah jelas melarang prasangka apalagi tajassus. Maka alangkah baik menciptakan suasan berkawan dengan pikiran yang jernih, perkataan yang baik, serta perilaku yang dapat menciptakan kebaikan bagi hubungan pertemanan di masa yang akan datang.

Baca Juga  Kewajiban Berdakwah: Tafsir QS. Ali ‘Imran Ayat 110

Penyunting: Bukhari