Tidak selamanyan penafsiran al-Qur’an itu dipahami secara tekstual. Itulah mengapa terlahir ilmu tafsir dengan seperangkat keilmuan yang menyinggung penafsiran al-Qur’an secara lengkap dan menyeluruh. Para ulama tentu sangat berhati-hati ketika memahami zahir ayat yang seolah memicu kontroversi. Ada ilmu yang harus mereka telusuri melalui proses keilmuan yang panjang.
Salah satu contoh yang akan kita ambil adalah makna sesat ضالا dalam surah adh-Dhuha ayat 7 berikut ini:
وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ
Artinya: “dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”
Kata dhalla pada ayat di atas sesungguhnya memiliki makna yang banyak. Tidak hanya berarti sesat sebagai lawan kata dari hudan (petunjuk). Apalagi jika dimaknai sesat menjadi tidak tepat karena menodai nabi yang maksum. Lantas mengapa dalam terjemahan ayat diartikan dengan ‘bingung’? Maka kita perlu memperhatikan penafsiran para ulama yang penuh kehati-hatian dalam menafsirkan ayat di atas.
Gambaran Surah Ad-Dhuha
Surah adh-Dhuha seringkali digandengkan dengan surah al-Insyirah; berhubung keduanya sama-sama berisikan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada nabi Muhammad saw. Bedanya, nikmat dalam dalam surah adh-Dhuha bersifar lahiriah, sedangkan dalam surah al-Insyirah bersifat batiniah.
Adapun sabab nuzul surah ini bermula dari wahyu yang tak kunjung turun. Ditambah lagi, istri Abu Lahab terus mencela Nabi dengan mengatakan; “wahai, Muhammad! Sesungguhnya aku sangat berharap agar setanmu benar-benar telah meninggalkanmu. Aku tidak melihatnya selama dua atau tiga malam,” maka Allah turunkan surah adh-Dhuha”. (HR Muslim no. 1797).
Ragam Makna Dhalla
Di antara nikmat Allah yang diberikan kepada Nabi adalah sebagaimana dalam surah adh-Dhuha ayat 7. Disebutkan bahwa Allah yang telah memberi petunjuk kepada nabi yang sebelumnya dalam keadaan dhalla.
Kita tentu mafhum bahwa sebelum turun wahyu, nabi belum diberitahu. Beliau belum mengetahui tentang iman dan Islam (Ibnu Katsir 8/413). Perginya nabi ke gua hira karena ingin meninggalkan keadaan masyarakat yang saat itu penuh kemaksiatan dan kesyirikan. Bingung dengan apa yang harus diperbuat karena ketika itu Rasulullah belum mengatahui, hingga turunlah surah al-‘Alaq.
Maka sangatlah keliru jika dhalla diartikan sesat yang tertuju kepada Nabi Muhammad. Makna dhalla yang tepat adalah nabi bingung, karena ketika itu kaumnya dalam kesesatan.
Meski Rasul sebelum mendapatkan wahyu dalam keadaan tidak tahu, akan tetapi beliau tidak sampai memyembah berhala dan melakukan kesesatan. Sebagaimana ash-Shabuni mengatakan, tidak mungkin dhalla bermakna sesat sebagai kebalikan hudan, sebab nabi maksum dari kesesatan. (Shafwatut Tafasir, 3/546).


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.