Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir QS. Thaha 131-132: Kiat-kiat Melewati Fase Quarter Life Crisis

Quarter life crisis
Sumber: https://www.istockphoto.com

Manusia adalah makhluk peralihan yang memiliki tantangan tersendiri disetiap proses perkembangannya. Manusia akan mengalami masa transisi menuju dewasa disaat masa remajanya sudah berakhir. Fase transisi inilah yang biasa disebut Quarter life crisis.

Berdasarkan buku karya Santrock, Quarter life crisis berlangsung antara usia 20-30 tahun. Saat dalam masa Quarter life crisis, manusia memiliki tantangan kehidupan yang cukup berat. Karena emosi dan berfikir menjadi sesuatu yang kompleks. Pada masa ini, manusia akan dihantui rasa takut dan khawatir akan masa depannya. Termasuk dalam hal karier, relasi, percintaan dan kehidupan sosial serta disibukkan mencari jati dirinya.

Periode ini manusia akan membandingkan hidupnya dengan orang lain. Dan merasa bahwa kehidupan orang lain jauh lebih baik dan khawatir tertinggal dari teman-temannya yang telah mencapai impiannya.

Faktor Quarter Life Crisis

Quarter life crisis terjadi karena beberapa faktor, diantaranya; kebingungan identitas diri, faktor dunia kerja dan karir, frustasi terhadap hubungan asmara. Bahkan insecurity dan kecemasan akan masa depan, kekecewaan maupun tekanan akan ekspektasi dari orang lain. Quarter life crisis adalah suatu kewajaran yang terjadi pada manusia. Namun, apabila dianggap remeh dan tidak dihadapi dengan bijak akan menjadi depresi berkepanjangan yang sangat merugikan.

Manusia harus mampu membangun Self efficacy atau kepercayaan diri untuk menghadapi Quarter life crisis. Ketika Self efficacy ada pada diri manusia, maka akan dapat menurunkan stress dan depresi. Saat menghadapi pengalaman buruk serta memiliki kesiapan untuk menjalani kehidupan pada masa sekarang maupun yang akan datang.

Mengatasi Quarter Life Crisis

Al-Qur’an menggambarkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah permainan belaka yang tidak harus ditanggapi dengan serius. Dalam QS. Thaha ayat 131 Allah berfirman

Baca Juga  Mengenal Tafsir Aisar Karya Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

“Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan; kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia. Agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Thaha [20]: 131)

Dalam tafsirnya, Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat tersebut berkenaan tentang nasehat kepada Nabi Muhammad. Agar tidak melihat kelebihan yang diberikan Allah kepada orang-orang kafir yang hidup dalam kemewahan dan kekayaan. Mereka adalah orang-orang yang sombong dengan kekayaannya dan menyangka dengan kekayaannya mereka wajib dihormati. Nabi diperingatkan agar jangan sekali-kali tertarik dengan kenikmatan dunia yang diibaratkan seperti bunga yang akan layu dan hilang. Peringatan ini menjadi pegangan teguh bagi Nabi. Bahwasanya rezeki yang diberikan tuhan walaupun hanya sepiring nasi menjadi cukup apabila berkah dan halal.

Penafsiran Ayat

Jika melihat aturan peperangan. Nabi mendapat bagian seperlima dari harta rampasan perang, tentu menjadi kesempatan luas jika Nabi menginginkan kekayaan dunia. Namun Allah mengingatkan agar tidak terpengaruh dengan duniawi. Dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman;

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS. Thaha [20]: 132)

Setelah diperingatkan agar jangan berorientasi ke dunia dan melihat kehidupan orang lain. Nabi diperintahkan untuk mengingatkan keluarganya agar berorientasi ke akhirat dan bersabar dalam menjalankan ibadah sholat. Sholat menjadi penenang dan penguat jiwa disaat seseorang dalam banyak masalah. Ayat ini mengisyaratkan agar manusia sibuk dengan urusan akhirat daripada dunia.

Baca Juga  Psikologi Al-Quran: Menyelesaikan Permasalahan Keluarga ala Nabi

Isyarat ayat ini bahwa sholat jauh lebih mulia daripada segala kemewahan dunia. Bahkan menurut riwayat dari Ibnu Abi Hatim. Jika Nabi keluar rumah bersama salah seorang istrinya dan disaat perjalanan melihat orang yang hidup dalam kemewahan dunia, maka apabila sampai rumah dibacalah QS. Thaha ayat 31.

Pesan Utama Ayat

Jikalau sikap Nabi dapat dipraktekkan, tentu manusia akan mampu menjalani hidupnya dengan tenang dan damai. Serta tidak akan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Quarter life crisis terjadi karena manusia sering melihat dan membanding-bangdingkan kenikmatan. Ataupun pencapaian orang lain dan terlalu terobsesi akan hal-hal yang bersifat duniawi. Manusia hanya perlu fokus terhadap perjalanan hidup dan terus melakukan muhasabah agar dapat menjalani kehidupan dengan baik dan bahagia. Wallahu ‘alam Bi Shawab.