Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menebarkan Sikap Mawaddah dalam Keberagaman

Sumber: google.com

Menebarkan sikap mawaddah dalam keberagaman begitu penting untuk dilaksanakan. Mawaddah memiliki arti kasih sayang. Yang mana kasih sayang menjadi tonggak penting dalam keberagaman.

Berkenaan dengan kasih sayang ada sebuah ayat yang menarik untuk didiskusikan dalam tulisan ini. Dalam QS. Al-Mumtahanah [60]: 7, Allah berpesan kepada hambanya sebagaimana berikut,

۞ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَادَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةًۗ وَاللّٰهُ قَدِيْرٌۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Maha Kuasa dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mumtaḥanah [60]:7)

Sebelum masuk ke dalam penjelasan lebih dalam lagi mengenai pentingnya Mawaddah dalam ayat ini, terdapat kisah menarik yang dicatat oleh ahli tafsir mengenai ayat ini.

Pentingnya Mawaddah

Ahli tafsir menceritakan bahwa ayat ini berkaitan dengan situasi saat Fathul Makkah. Di mana ketika itu, umat Islam kembali ke Mekkah para kabilah-kabilah Arab yang berada di Kota Mekkah saat itu berkeinginan untuk membuat perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Isi dari perjanjian tersebut adalah mereka tidak akan melakukan upaya peperangan kepada umat Muslim dan tidak pula membantu musuh-musuh yang berperang dengan umat Islam pada masa itu. Kemudian turunlah ayat ini yang memberikan jawaban bahwa Umat Muslim menerima perjanjian tersebut.

Karena adanya perjanjian damai tersebut, orang-orang Muslim dapat bertemu kembali dengan keluarganya yang berada di Mekkah. Sehingga suasana haru tercipta, semuanya saling bercengkerama dengan saudaranya. Begitulah kira-kira kisah di balik ayat tersebut.

Lalu apa penjelasan ahli tafsir tentang ayat di atas, mari kita membaca penjelasan yang telah dituliskan oleh Az-Zuhaili dalam tafsirnya Al-Munir.

Baca Juga  Bagaimana Jika Benar Iblis Itu Martir Bagi Manusia?

Az-Zuhaili memfokuskan penafsirannya pada kata ‘asa allah yang terdapat pada awal ayat tersebut. Kata ‘asa dalam ayat tersebut menurutnya berarti mengharapkan sesuatu yang diinginkan terjadi. Jika keinginan tersebut berasal dari Allah maka akan terjadi keinginan tersebut. Maksudnya adalah Allah memiliki kuasa untuk membolak-balikan hati manusia. Sehingga menciptakan kasih sayang di antara manusia.

Keutamaan Mawaddah

Karena Allah ingin menciptakan mawaddah di antara Nabi Muhammad dengan orang-orang di Mekkah saat itu. Maka yang dahulunya saling berperang, saling membenci, saling memusuhi. Namun itu berubah menjadi saling mencintai, saling mengasihi, dan saling bersinergi satu sama lain.

Kondisi ini pun diperjelas di dalam Al-Quran pada Qs. Ali-Imran [3]: 103 berikut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya:

dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (Āli ‘Imrān [3]:103)

Kemudian, setelah memahami pembacaan dari ahli tafsir Az-Zuhaili, penting kiranya untuk melihat dari ahli tafsir asal Indonesia. Di sini penulis ingin mengutip pandangan Hamka dalam Tafsir Al-Azhar.

Hamka menjelaskan dalam tafsirnya bahwasanya ayat ini sebenarnya merupakan strategi dakwah dari Rasulullah. Strategi untuk mengenalkan Islam kepada khalayak ramai bahwa Islam merupakan agama yang penuh kasih sayang dan bukan agama yang penuh kemarahan.

Bahkan Hamka mengkritik dengan keras para dai-dai yang sibuk mencaci maki orang yang belum sependapat dengan dirinya. Karena bisa saja jika menonjolkan budi pekerti yang luhur, orang lain malah akan lebih tertarik dengan Islam.

Baca Juga  Membentuk Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah Sesuai Al-Qur'an

Hamka dengan tegas pula mengkritik orang Islam yang begitu membela kepentingan kelompoknya. Sampai-sampai pembelaan tersebut menimbulkan caci maki antar sesama muslim dan mengeluarkan ujaran kebencian.

***

Dengan yang berbeda agama saja kita harus saling mengasihi tapi kenapa sesama muslim saling membenci?

Orang-orang seperti inilah yang Hamka katakan sebagai “orang-orang menampakkan pedoman Al-Qur’an”. Tentu sebagai muslim tidak ingin masuk kepada kelompok yang Hamka jelaskan seperti itu.

Berdasarkan keterangan di atas adalah Al-Quran melalui QS. Al-Mumtahanah[60]: 7, mengajak kita untuk saling mengasihi di dalam keberagaman yang telah ada. Menciptakan kenyamanan dan perdamaian. Bagi umat Islam jadikan Al-Quran sebagai pedoman untuk menciptakan sehingga mampu dengan cermat menerapkan nilai-nilai keislaman yang telah di sampaikan Allah melalui firmannya.

Editor: An-Najmi