Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Relasi Positive Mind dan Kebahagiaan dalam Al-Qur’an

positive mind
Sumber: https://makeoversmart.com/

Kebahagiaan adalah suatu istilah yang diimpikan oleh setiap manusia. Istilah ini sulit didefinisikan, terlebih ditemukan padanan fisiknya. Pada dasarnya, kebahagiaan memiliki banyak makna, akan tetapi pusat studi ilmiah lebih menekankannya pada dua makna, yaitu filsafat kebahagiaan yang berpadanan dengan kata well-being dan kebahagiaan yang mencakup makna psikologis atau atau kondisi jiwa seseorang (state of mind).  Tulisan ini akan mengkaji positive mind dalam perspektif Al-Qur’an dan Islam.

Kebahagiaan merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan setiap manusia. Berbagai cara dan usaha dilakukan manusia untuk memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Namun, tidak jarang pula usaha yang mereka lakukan justru berujung pada situasi yang menyulitkan, dilematis, dan ketidakberdayaan. Beberapa orang berpikir bahwa kebahagiaan terletak pada materi. Akan tetapi, ketika kantong terisi, apakah hal tersebut akan menjamin sebuah kebahagiaan? Hal ini tentu menimbulkan berbagai perspektif yang berbeda diantara setiap individu. Banyak orang yang merasa dirinya tidak bahagia dan akhirnya harus membeli kesenangan, meskipun berpotensi merusak dirinya sendiri.

3 Faktor Pembangkit Kebahagiaan

Hal ini menunjukkan bahwa materi tidak selamanya identik dengan kebahagiaan. Selain itu, perlu diketahui bahwa terdapat tiga kelompok faktor yang dapat mempengaruhi kebahagiaan, yaitu:

  1. Kelompok pertama, faktor eksternal yang tidak bergantung pada diri sendiri, kondisi dimana kita beruntung atau tidak beruntung untuk dilahirkan dan hidup.
  2. Kelompok kedua, faktor yang terkait dengan kepribadian yang stabil. Dalam hal ini, terdapat orang-orang yang bahagia dengan karakter mereka. Mereka membangun kebahagiaannya sendiri yang berawal dari dalam diri mereka dan tidak ada yang bisa membawa mereka keluar dari keadaan positif. Akan tetapi juga terdapat orang-orang yang tidak bisa membuat mereka bahagia.
  3. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang menentukan kebahagiaan mereka dengan tangan mereka sendiri. Mereka tidak memerlukan faktor eksternal dalam membentuk kebahagiaan, mereka cenderung fokus pada diri mereka sendiri untuk mencapai tujuan dan kebahagiaan. Kelompok ini, memiliki pandangan kebahagiaan yang sama dengan Darrin Mahoon, yaitu dengan menciptakan positive mind dalam memaknai setiap peristiwa.
Baca Juga  Pentingkah Pendekatan Antropologi Dalam Studi Tafsir?

Menurut Darrin M. Mc Mahoon, kebahagiaan adalah state of mind (kondisi jiwa) yang menjadi sebab sekaligus akibatnya, meski dibutuhkan faktor eksternal untuk mendukungnya. Jika kita berhasil mendatangkan faktor eksternal yang mendukung untuk merealisasikan alasan dari makna tersebut, maka state of mind kita juga akan bahagia (lahir-batin). Selain itu, kondisi jiwa dan pikiran yang stres, sumpek serta dipenuhi amarah juga menjadi salah satu faktor kebahagiaan. Apabila sifat-sifat tersebut telah muncul dalam pikiran dan hati seseorang, maka kebahagiaan tidak akan dapat diraih. Maka dari sinilah, pentingnya positive mind untuk menciptakan kebahagiaan.

Islam Mengajarkan Positive Mind

Kebahagiaan merupakan kondisi jiwa seseorang. Jika seseorang merasa lelah dengan pikirannya sendiri, maka orang tersebut akan merasa tertekan dan tidak menemukan kebahagiaannya. Untuk menjadi orang yang bahagia, hal pertama yang kita lakukan adalah menciptakan pikiran yang membahagiakan (positive mind). Islam sebagai pedoman kehidupan manusia pun tak luput dari tuntunan bersikap positive mind. Jika dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah positive mind, maka dalam Islam, dikenal istilah husn al-z}ann yang berarti berprasangka baik. Islam menganjurkan penganutnya untuk selalu berpikir positif dan berbaik sangka kepada siapapun, termasuk kepada Allah.

Anjuran Islam untuk berpikir positif atau positive mind bukanlah tanpa sebab. Jika terkadang kita merasa kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan hingga timbullah pikiran-pikiran negatif, maka disinilah peran positive mind atau prasangka baik. Bisa jadi Allah telah menakdirkan sesuatu yang lebih baik bagi kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 216 yang artinya:”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ayat tersebut mengisyaratkan pentingnya berprasangka baik dan positive mind. Selain itu, anjuran berprasangka baik juga di dukung dengan hadits Qudsi yang berbunyi: “Dari Abi Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda: Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia berdzikir mengingat-Ku dalam suatu jama’ah, maka Aku akan sebut-sebut dia dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka. (HR. Muttafaq ‘Alayh).

Kedua dalil di atas seolah berbicara pada kita bahwa ‘Berpikirlah positif, maka semesta akan mendukungmu’. Apa yang kita dapatkan akan sesuai dengan pemikiran kita. Jika kita ingin meraih sesuatu yang kita inginkan, maka kita harus menanamkan positive mind terlebih dahulu sebelum berusaha.

Baca Juga  Merefleksikan Ajaran QS. Al-Ashr di Tahun Baru

3 Upaya Membiasakan Positive Mind

Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk menjadikan berpikir positif sebagai suatu kebiasaan, di antaranya adalah:

1. Bersyukur

Syukur adalah bentuk rasa terimakasih kepada Tuhan terhadap apa yang telah diberikan kita, dan juga sebagai bentuk respon kebahagiaan. Adanya rasa syukur, dapat meningkatkan rasa optimis individu dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki tingkat syukur yang tinggi, maka ia adalah orang yang memiliki kebahagiaan pula dalam hidupnya. Kebahagiaan berasal dari pikiran, apapun yang kita pikirkan akan mempengaruhi kebahagiaan kita. Adanya rasa syukur menunjukkan rasa percaya kita terhadap takdir Tuhan. Dengan bersyukur, kita akan terhindar dari pikiran-pikiran negatif atau sifat pesimis. Selain itu, rasa syukur memunculkan emosi positif, kognitif positif, dan memori yang positif pada seseorang, sehingga akan memunculkan evaluasi positif pada seseorang.

2. Berbicara dan Berpikir Positif

Mengalihkan pembicaraan hal-hal negatif ke pembicaraan hal-hal positif. Pembicaraan mengenai hal-hal negatif akan lebih baik ditinggalkan, karena hal ini akan berdampak pada otak yang akan memproses kata atau makna yang akan menjadikan pemikiran kita selalu berpikir negatif. Serta berhenti mendengarkan sesuatu yang tidak perlu didengarkan.

Memaknai setiap kejadian dengan pikiran yang positif. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghindari prasangka buruk terhadap sesuatu. Jika kita selalu berprasangka buruk, maka hal ini akan berdampak pada ketenangan diri kita. Kita akan selalu dibayang-bayangi oleh rasa benci atau tidak suka terhadap sesuatu. Selain merasa tidak bahagia dan tenang, berpikir negatif juga dapat melalaikan kita dari tujuan dan tugas. Juga berbicara secukupnya.

3. Menghindari Hal Negatif dan Sia-sia

Menghindari sesuatu yang tidak perlu diketahui. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang dibekali pikiran dan selalu ingin merasa tahu. Akan tetapi, rasa keingintahuan manusia juga harus memiliki batasan, karena tidak semua kejadian dapat dicapai oleh pikiran manusia. Begitupula jika kita merasa tidak memiliki urusan terhadap sesuatu, alangkah baiknya kita menjauhinya karena hal tersebut akan berdampak pada kondisi pikiran kita. Semakin banyak hal yang kita pikirkan, semakin stress pula pikiran kita, terlebih memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan.

Baca Juga  Urgensi Membangun Keluarga Sakinah Perspektif Al-Qur'an

Dengan hal tersebut, maka secara tidak sadar, kita telah menciptakan kebahagiaan dalam diri kita sendiri dengan cara berpikir positif. Meskipun terkadang kebahagiaan juga berasal dari faktor eksternal, akan tetapi kebahagiaan juga dapat diciptakan dalam diri sendiri, yaitu dengan menciptakan positive mind.

Penyunting: Ahmed Zaranggi