Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

3 Ayat Al-Qur’an Sebagai Pondasi Beretika Yang Mulia

beretika yang mulia
Sumber: https://ejournalz.com/

Kesejahteraan hidup adalah suatu impian yang selalu didambakan oleh seluruh manusia. Terdapat berbagai cara untuk mencapai impian tersebut. Dari yang dimulai dengan cara yang mudah hingga yang agak berat. Tetapi kita sebagai manusia cenderung lebih memilih cara yang lebih mudah untuk mewujudkan suatu hal, karena dapat dilakukan dalam keseharian dan tetap konsisten. Salah satunya adalah dengan beretika yang mulia dalam pergaulan. Seseorang akan dinilai dari etikanya ketika sedang bergaul dengan orang lain. Orang yang memiliki etika yang buruk maka hidupnya cenderung tidak dianggap oleh masyarakat sekitar. Sedangkan orang yang memiliki etika yang baik maka akan lebih dianggap keberadaannya di lingkup masyarakat dan segala sesuatu yang dia lakukan akan mendapatkan respon yang positif dari masyarakat sekitar. Berikut 3 ayat yang menjadi dasar beretika yang mulia dalam Al-Qur’an.

Jadikanlah Kejujuran Sebagai Kebiasaan!

Biasakanlah kejujuran menjadi penghias ucapan diri sendiri kepada orang lain. Kejujuran diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmannya yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119). Kejujuran dalam ucapan akan membuat orang lain menerima ucapan yang kita lontarkan. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang mengenai perkataannya kepada orang-orang musyrik, yang berbunyi, “Bagaimana pendapat kalian jika aku katakan bahwa pasukan berkuda akan datang dari kaki bukit itu? Apakah kalian percaya?” mereka (orang-orang musyrik) menjawab, “Kami tidak pernah menemukanmu berbohong.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salah satu dampak negatif dari berbohong adalah segala sesuatu ucapan kita akan dianggap dusta meskipun sejatinya benar. Kebohongan itu termasuk perilaku orang-orang fasik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepada kalian membawa berita, maka telitilah (kebenaran berita itu)!”. Anggapan segala perkataan orang yang sering berbohong dianggap dusta adalah siksa yang cepat bagi seorang yang suka berbohong, sebelum siksa di akhirat. Selain itu, kebohongan akan membuat orang menjadi hina dan tercela di mata masyarakat. Kebohongan membuat seseorang masuk ke daftar kelompok munafik. Sebagaimana hadis Nabi Muhammmad SAW tentang beretika yang mulia, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: ketika berbicara, dia berdusta; ketika berjanji, dia mengingkari; ketika dipercaya, dia berkhianat. (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga  Mengenal Kitab Tafsir Fatihah Karya KRH Hadjid

Menempatkan Orang Lain Sesuai Posisinya

Setiap manusia memiliki posisinya masing-masing. Allah memberikan pangkat atau jabatan kepada orang tertentu dan mengambilnya dari orang lain. Allah memberikan anak wanita kepada orang tertentu, memberikan anak laki-laki kepada yang lain dan memberikan kemandulan kepada orang tertentu juga. Semua itu adalah nikmat dan ujian yang disediakan oleh Allah SWT bagi hamba-hambaNya. Semua itu sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan Kami mengangkat sebagian mereka beberapa derajat di atas sebagian yang lain agar sebagian mereka bisa menjadikan sebagian yang lain sebagai bawahan. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang kalian kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32).

Seorang hamba hendaknya memperhatikan hak-hak orang lain dan memenuhinya. Dengan demikian dia akan mendapatkan ridha Tuhannya dan cinta hamba-hamba yang lain. Adakalanya kita tidak layak menerima kedatangan orang lain hanya dengan memakai pakaian sehari-hari. Sebaiknya kita memakai pakaian yang bersih, bagus, dan sopan dalam menyambut tamu dan diiringi dengan wajah keceriaan. Suatu pakaian yang dikenakan dalam menerima tamu dapat memengaruhi perasaan tamu. Oleh karena itu, penggunaan pakaian yang bagus dihadapan seorang tamu itu lebih dianjurkan karena akan memberikan kesan yang bagus pula. Adapun terhadap orang-orang yang sering bertemu dengan kita sebagai teman berbincang-bincang dalam keseharian, maka tidak perlu memoles diri dengan pakaian yang bagus di hadapan mereka.

Memahami Kata-kata Orang Lain

Kita harus memahami kata-kata yang disampaikan oleh orang yang berbicara dengan kita. Manusia mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengungkapkan sesuatu yang terdapat dalam hatinya. Ada orang yang mengungkapkan isi hatinya dengan terbuka, ada orang yang nampak dari wajahnya sesuatu yang terdapat dalam hatinya, ada yang mengungkapkan isi hatinya dengan isyarat. Orang yang hatinya penuh dengan rasa cinta terhadap kita, maka akan keluar kata-kata cinta dengan mudah dari mulutnya. Sedangkan orang yang hatinya penuh dengan rasa benci dan dengki, maka akan keluar kata-kata kebencian dengan otomatis dari mulutnya pula. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 118 yang berbunyi:

Baca Juga  Merefleksikan Ajaran QS. Al-Ashr di Tahun Baru

قَدْ بَدَتِ البَغْضَاءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْ, وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُ

Telah tampak kebencian itu dari mulut-mulut mereka. Apa yang disembuyikan oleh hari mereka lebih besar.”

Kesimpulan

Oleh karena itu, kita harus memahami ucapan-ucapan yang keluar dari orang lain ketika berinteraksi. Dibutuhkan sebuah pemahaman dalam memastikan maksud dari ucapan-ucapan yang kita dengar. Hal ini sebagai bentuk beretika yang mulia. Dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Aisyah r.a. , “Sungguh aku dapat mengetahui kemarahanmu dan kerelaanmu.” Aisyah bertanya, “Bagaimana itu bisa, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya engkau jika dalam keadaan rela, akan berkata, ‘Ya, demi Tuhan Muhammad.’ Dan engkau ketika marah, engkau akan berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim’.” Aisyah  pun berkata, “Benar, aku hanya meninggalkan namamu.”

Agar pembicaraan kita dapat dipahami dengan baik dan mudah, kita bisa mengubah gaya bicara. Karena dengan gaya bicara yang menyesuaikan orang yang kita ajak bicara, maka akan terwujudnya kesinambungan komunikasi satu sama lainnya. Perubahan gaya bicara bisa dilakukan dengan enam cara, di antaranya adalah: Gaya bahasa tubuh, Menghindari pilihan kata yang tidak perlu dan tidak masuk akal, berbicara dengan jelas, intonasi yang tepat saat bicara, hindari rasa malu dan takut, dan hindari topik yang tidak kita pahami. Inilah 3 ayat dan cara beretika yang mulia dalam Al-Qur’an.

Penyunting: Ahmed Zaranggi