Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Urgensi Gagasan Paulo Freire Dalam Membangun Peradaban Islam (1)

Paulo
Sumber: thefamouspeople.com

Alangkah baiknya apabila penulis mengawali rentetan kalimat ini dengan sebuah nasihat bijak dari seorang filsuf berkebangsaan Brazil, Paulo Freire: “Transformation of education cannot take place before the transformation of society, but this transformation of society needs education”. Dikatakan bahwa sebuah transformasi pendidikan tidak akan hadir sebelum adanya transformasi sosial. Namun transformasi sosial membutuhkan sebuah Pendidikan.

Dalam bukunya yang bertajuk “Pedagogy of The Oppressed”, Paulo mengemukakan gagasan-gagasan serta kritiknya terhadap sistem pendidikan yang dianggap membelenggu sisi kemanusiaan seorang pelajar. Maka dalam tulisan ini, penulis ingin menyuguhkan sebuah relasi antara paradigma pendidikan dalam prespektif Paulo dengan kenyataan yang dihadapi umat Islam saat ini. Dengan tujuan agar timbul kesadaran dari dalam diri kita masing-masing.

Persoalan Kejayaan Umat Islam

Dimulai dari kecenderungan umat Islam saat ini dalam menanggapi persoalan kejayaan umat Islam. Tak sedikit dari guru maupun pemuka agama yang apabila ditanya perihal kekuatan umat Islam dan sumbangsihnya terhadap peradaban umat manusia, maka akan bercerita tentang masa kejayaan umat Islam pada dinasti Abbasiyah.

Sedangkan, generasi penerusnya dijauhkan dari keilmuan dan diarahkan kepada rasa syukur serta takdir. Bahkan banyak yang menjauhkan dan mengharamkan sumber ilmu yang sebenarnya menjadi pokok pemahaman cendekiawan muslim terdahulu. Karena dianggap sebagai perusak akidah dan penyesatan berpikir.

Kemudian dari tindakan tersebut, banyak dari umat islam, khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, yang karena tidak bisa memenuhi kebutuhan individu maupun keluarganya hanya mampu diberi hiburan-hiburan spiritual. Seperti pepatah: roda kehidupan akan selalu berputar. Manusia hanya bisa berserah pada takdir Tuhan. Lebih baik tersiksa di dunia kemudian bahagia di akhirat, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Al-Quran: Kitab Suci yang Memotivasi Peradaban Umat Islam

Padahal Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Artinya: Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu. Tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qasas: 77)

Dalam hal ini, makna dari nashiibaka min al-dunya berarti tugas yang Allah berikan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bukan hanya sebagai makhluk yang beribadah mahdhah. Namun juga memanusiakan diri sendiri dan orang lain. Ditambah lagi di lain sisi, tak sedikit dari umat Islam yang memang tidak menafikan kebahagiaan akhirat. Namun dalam urusan duniawinya lebih suka berlomba-lomba menjadi pegawai dan pejabat negeri daripada saling bahu-membahu dalam memperjuangkan peradaban Islam madani.

Bank Pendidikan Paulo Freire

Selanjutnya, tentang apa yang disebut oleh Paulo dengan banking education. Maksudnya ialah bahwa hubungan antara guru dan murid hanya sebatas pemberi dan penerima. Guru menabung semua uangnya, dalam hal ini berarti ilmu, ke dalam sebuah celengan yang disebut sebagai murid. Sehingga menimbulkan kecenderungan yakni gurulah yang menjadi lebih pintar dari sebelumnya karena senantiasa menabung. Dan muridnya hanya akan menjadi wadah yang tak bisa mengambil manfaat dari uang yang ia simpan di dalamnya.

Ditambah lagi, tak sedikit guru –“guru” dalam tulisan ini meliputi setiap yang memberikan ilmunya kepada orang lain– yang bukannya mendidik muridnya untuk menemukan jati dirinya, namun malah membentuk pribadi murid sesuai yang diinginkan pihak pengajar. Bahkan, banyak pula guru yang beranggapan bahwa setiap ilmu yang diajarkan oleh guru wajib diamini dan haram hukumnya dipertanyakan dengan potensi yang sang murid miliki sebagai manusia.

Baca Juga  Kritik Al-Alusi Terhadap Cerita Israiliyat dalam Tafsir

Dalam dunia pendidikan islam –mungkin agak sensitif, namun harus penulis utarakan–, tidak jarang masyarakat beranggapan bahwa sesuatu yang berbeda dalam pemahaman syari’at sering kali disebut sesat. Tidak jarang seorang guru menyalahkan guru lain yang memiliki pemahaman yang berbeda dalam menelaah sebuah ayat misalnya, atau bahkan perbedaan dalam memahami masalah sosial. Hal ini berimbas kepada murid didiknya yang hanya ikut perkataan sang guru.

Ketakutan Umat Islam Pada Akal

Padahal, kita bisa mengambil sebagai contoh ialah keempat imam madzhab fiqih. Imam Abu Hanifah yang lebih mengedepankan rasionalitas atau ra’yun dalam memecahkan sebuah persoalaan. Berbeda dengan Imam Malik bin Anas, yang lebih cenderung kepada dalil naqli dalam landasan berijtihad. Lain lagi dengan muridnya, Imam Syafi’i. Ia acap kali berbeda pendapat dengan keduanya dan lebih memilih untuk memberikan jalan tengah bagi kedua madzhab dengan empat sumber hukum pokok yakni a-Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas. Begitu pula dengan Imam Hambali yang memiliki pendirian tersendiri dalam menyikapi tiap perbedaan yang dimiliki oleh ketiga imam madzhab sebelumnya.

Lebih parahnya lagi, ketika seorang guru menafikan sebuah ilmu maupun pandangan yang menurutnya ilmu tersebut sia-sia. Berdalih bahwa ilmu tersebut hanya akan menimbulkan kesesatan berpikir dan memperlemah keimanan. Juga bahwa imam mazhabnya sangat membenci pelaku ilmu tersebut di masanya.

Jika dipandang dari sejarah, sejak dulu memang beberapa ulama’ tidak menyambut dengan hangat sebuah ilmu yang menggunakan akal sebagai senjata utama dalam berpikir. Meskipun, hasil dari keilmuan tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi umat Islam dalam kancah internasional sejak dinasti Abbasiyah hingga masa Renaissans Eropa. Dan sampai saat ini wujud riil dari hasil keilmuan tersebut masih menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi peradaban umat manusia. Tak terkecuali orang-orang yang menjauhi dan mengajak orang lain untuk menjauhi ilmu tersebut.

Baca Juga  Perjuangan Qur'ani RA Kardinah dalam Emansipasi Perempuan

Bersambung

Editor: M. Bukhari Muslim