Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tiga Langkah Membangun Sikap Toleransi Ala Hasbi

Sikap Toleransi

Di tengah masa kebebasan menentukan prinsip hidup dengan adanya label HAM bagi masyarakat Indonesia, pelanggaran di dalamnya masih menjamur di sela-sela kehidupan yang jarang tersorot. Salah satu berita kompas.tv (17/01/2023) mengugkapkan terdapatnya 573 kasus gangguan ibadah minoritas. Mereka sebagai penganut kepercayaan minoritas masih sulit mendapatkan kebebasan beribadah serta pendirian tempat ibadah mereka sendiri.

Hal itu pun menggambarkan belum berimbangnya rasa menghormati atas keberbedaan yang terjadi antar sesama. Adanya perbuatan demikian termasuk pelanggaran HAM. Karena telah mengganggu kebebasan beragama seseorang atau sekelompok orang yang termasuk dari hak manusia (Victorio, 2019: 61). Oleh karenanya membutuhkan sikap toleransi sebagai bentuk tenggang rasa, membiarkan orang lain melakukan sesuatu sesuai dengan kepentingan (Muharam, 2020: 272).

Apapun faktor yang memicu kejadian tersebut. Namun tetap saja telah mencerminkan bahwa masing-masing belah pihak belum dapat menjaga hak yang sama-sama dimiliki oleh mereka. Menyadari bahwa kemajukan selalu terlahir dalam lingkup kehidupan. Karena populasi manusia yang terus berganti, mati dan tumbuh kembali mengakibat. Secara tidak langsung hal ini menuntut sikap saling menghargai agar terciptanya kedamaian hidup yang dicita-citakan.

Inilah yang menjadi salah satu indikator pembahasan toleransi tidak pernah padam.  Dengan berbagai alasan yang ada seseorang dapat melebihi batas hak orang lain. Sehingga memerlukan sebuah pengingat agar dapat kembali pada jalur yang sesuai. Sesungguhnya kemajemukan yang menjadi fenomena saat ini telah lebih dahulu dikabarkan oleh Allah swt. Selaku Sang Pencipta, secara tersirat ia menyampaikan bahwa akan ada banyak ragam keberbedaan di kehidupan ini. Baik dari segi jenis kelamin, golongan, klan/suku yang seharusnya menjadi sumbu saling mengenal antara satu sama lain.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 1: Mengurai Makna Alim-Lam-Mim

Perbedaan Sebagai Sunnatullah

Sebagaimana dalil QS. Al-Hujurat [49]: 13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa

Beberapa poin inti yang disebutkan pada ayat di atas diantaranya adalah bahwa Allah benar-benar membuat keindahan muka bumi ini. Dengan cara memajukan rupa atau kondisi para makluk-Nya. Saling mengenal melalui perbedaan yang dimiliki oleh masing-masingnya, kemulian di hadapan Sang Pencipta bukan dilihat selain hanya dari ketakwaannya.

Sehingga bukan rupa yang membungkus diri manusia, jabatan yang diduduki manusia semasa hidupnya, klan yang begitu besar dan kuat yang memihaknya. Melainkan adalah rasa takwa yang dimiliki. Yakni rasa taat seorang hamba kepada Sang Tuan untuk melakukan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang telah dilarang.

Ketiga pokok itulah yang akan menjadi nilai dasar pada ayat yang disebutkan. Menyertai penjelasan di atas Hasbi Ash-Shiddieqy selaku mufassir Nusantara turut memberikan keterangan pula dalam tafsirnya Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur. Hasbi sendiri cenderung memberikan tips agar dapat memiliki sikap toleransi antara sesama. Maka inilah beberapa sikap yang patut diterapkan untuk menghadapi sebuah keberbedaan.

Membangun Sikap Toleransi Ala Hasbi

Setidaknya ada tiga hal yang disebutkan diantranya: pertama, menjauhkan diri dari segala rasa berburuk sangka kepada orang lain; kedua, menahan diri dari memata-mata keburukan/keaiban orang lain dan ketiga, menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain (Hasbi, V: 3927). Dengan beberapa tingkah laku demikian diharapkan seseorang akan lebih dapat mnejaga dirinya untuk tidak melampaui batas hak ataupun kewajiban yang ia miliki.

Baca Juga  Pemaknaan Ayat Cahaya (2): Mengapa Allah Disebut Cahaya?

Dengan sisaat yang diungkapkan Hasbi di atas, dapat disadari bahwa titik awal mula adanya pertentangan adalah kesalahpahaman yang berkembang menjadi buah bibir sebab tidak diklarifikasi namun justru hanya selalu menerka dari tingkah laku objek yang sedang dituju, hal itu sesuai dengan point pertama dan kedua dari keterangan Hasbi. Permasalahan tersebut akan semakin rumit ketika disodorkan pada khalayak umum tanpa ada penjelasan dari pihak yang bersangkutan.

Seperti halnya yang diungkapkan Hasbi pada point ketiga “larangan untuk menggunjing” dapat berfungi untuk menghindari kekacauan yang semakin melebar sebab melibatkan orang lain yang tidak mengerti bagaimana kejadian yang sesungguhnya. Sesunggunya langkah-langkah yang diberikan oleh Hasbi begitu relate dengan kondisi saat ini, dimana kabar lebih mudah diterima melalui perantara postingan media sosial, suara tetangga atau perantara lainnya. Padahal belum tentu hal demikian sesuai dengan realita yang ada.

Kondisi yang demikian menjadi salah satu faktor penghambat menanamkan sikap toleransi sebab rasa klaim yang justru lebih besar tanpa mencari suatu kebenaran terlebih dahulu. Oleh sebab itu, dengan kembali melihat penafsiran Hasbi, pembaca dapat mengetahui lagkah dasar untuk membantu menanamkan atau mengokohkan sikap toleransi kepada sesama.

Penyunting: Bukhari