Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Surat Al-Ashr: Merefleksikan Kembali Makna Waktu

Sumber: https://www.liputan6.com/

“Sepertinya baru saja kemarin tahun baru, sekarang sudah tahun baru lagi.” Seperti itulah hati kita berkata untuk menyambut tahun baru 2022 ini. Selama total 365 hari, waktu demi waktu kita lalui dengan begitu cepat, tentu juga umur semakin berkurang dan ajal semakin dekat. Lantas apa yang sudah kita perbuat selama periode satu tahun kemarin? Dan apa yang akan kita isi di tahun berikutnya?

Itu semua tergantung pada diri kita masing-masing untuk memaknainya. Marilah kita sejenak muhasabah atau mengevaluasi diri dengan melihat arti penafsiran ayat Al-Qur’an surat Al-Ashr.

Tafsir Surat Al-Ashr

Surat ini tergolong makkiyyah. Mayoritas ulama menyebutkan, surat al-Ashr merupakan wahyu yang ke-13 yg diterima oleh Rasulullah SAW. Tema utamanya adalah tentang pentingnya memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sebab jika tidak, kerugian dan kecelakaanlah yang menanti mereka.

Quraish Shihab dalam tafsirnya menerangkan, kata وَالْعَصْرِ para ulama sepakat mengartikan dengan waktu. Tapi perlu kita ketahui, bahwa Al-Qur’an menggunakan banyak istilah untuk menunjuk waktu atau masa. Pertama, waktu menunjukkan dimana langkah dan gerak kita tertampung di dalamnya. Kedua, menunjukkan waktu tertentu yaitu shalat ashar. Ketiga, waktu atau masa kehadiran Rasulullah yaitu 23 tahun.

Di sini, Allah bersumpah dengan waktu yang jika dikaitkan dengan manusia, yaitu waktu sejak lahir sampai meninggal. Dan pendapat yang paling baik adalah Allah bersumpah demi waktu secara umum. Artinya, bahwa demi waktu (masa) manusia mencapai hasil setelah ia memeras tenaganya. Sesungguhnya ia merugi apapun hasil yang dicapainya itu, kecuali jika ia beramal saleh.

Baca Juga  Tafsir Ayat Isti’adzah dan Ragam Bacaannya Menurut Ulama

Ayat إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ “Sesungguhnya manusia di dalam kerugian.” Kata khusrin dapat berarti rugi, celaka dan semua yang mengarah kepada arti negatif. Dan kata tersebut dalam bentuk nakirah, yang memberikan arti keragaman dan kebesaran. Yakni sesungguhnya manusia benar-benar di dalam aneka ragam kerugian.

Munasabah Ayat Pertama dan Kedua

Di sini ada keterkaitan antara ayat satu dan dua, yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.

Ayat إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ  “kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran”.

Iman itu adalah pembenaran hati terhadap yang didengar oleh telinga. Kalau hati kita membenarkannya maka hal tersebut dikatakan beriman. Karena iman itu letaknya pembenaran hati, bukan pembenaran akal.

Kata ‘amilu al-salihati berarti amal saleh yakni amal yang menggunakan daya qalbu. Dan juga bermanfaat bagi pribadi, keluarga, dan masyarakat. Melakukan suatu upaya agar beramal dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Agar tetap lestari sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Kata tawa sau diambil dari kata wasiyyah. Seakan-akan wasiat itu penyampaian dengan kata-kata halus agar dilakukan oleh orang lain secara berkesinambungan. Kata tersebut merupakan bentuk kata saling mewasiat-wasiati. Menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, setiap orang perlu saling berwasiat. Maka itu sebabnya, ayat ini menerangkan isyarat tentang kewajiban dalam belajar-mengajar.

Kebenaran dan Kesabaran

Kata al-haq berarti sesuatu yang mantap dan tidak berubah, maknanya puncaknya adalah Allah. Dapat berarti bahwa setiap orang saling mewasiati menyangkut keesaan Allah. Seseorang berkewajiban untuk mendengarkan kebenaran dari orang lain serta mengajarkannya kepada orang lain menyangkut ilmu pengetahuan.

Baca Juga  Menebarkan Sikap Mawaddah dalam Keberagaman

Kata al-sabr berarti menahan. Menahan gejolak nafsu untuk mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik. Secara umum kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu sabar jasmani dan rohani. Sabar jasmani adalah sabar yang melibatkan dengan anggota tubuh. Adapun sabar rohani merupakan sabar menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantarkan pada keburukan.

Memanfaatkan Waktu

Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan yang positif, maka waktu akan berlalu begitu saja, jangankan keuntungan yang diperoleh, modal pun telah hilang.

Kita sepatutnya dituntut agar memanfaatkan waktu dalam segala hal aspek kehidupan dengan sebaik mungkin. Yang utama adalah aspek ibadah kepada Allah. Karena kita sebagai hamba yang wajib untuk beribadah kepada Allah. Sepatutnya kita selalu mengevaluasi diri dengan beramal saleh dan mengerjakan kebaikan.

Kemudian aspek lain adalah aspek akademik. Sebagai seseorang yang sedang mencari ilmu, kita dituntut untuk selalu belajar dan mengembangkan pengetahuan yang kita dapatkan. Sepatutnya berfikir semisal, apa yang akan saya lakukan 5 tahun kemudian? Kalau kita hanya bermalas-malasan dalam belajar dan hanya mengikuti alur kehidupan, maka kita akan merasa rugi diesok hari.

Refleksi Awal Tahun

Zaman semakin berkembang dan dunia membutuhkan inovasi kepada anak-anak muda era sekarang. Maka, coba mulai dari hari ini menata kembali niat juang belajar agar kelak mendapatkan kesuksesan.

Sayyidina Ali pernah berkata: “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan di hari esoknya, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok.”

Kemudian pada momen tahun baru 2022 ini, marilah kita mulai dari diri kita masing-masing untuk selalu mengevaluasi aktivitas dan perbuatan yang kurang di tahun lalu. Agar kita tidak merasakan kerugian dan penyesalan di waktu akhir kehidupan, karena pada hakikatnya kita tidak tahu sampai kapan umur kita dan kapan ajal menjemput kita.

Baca Juga  Proses Hujan dalam Tafsir Ilmiah: Tantawi Al-Jauhari

Maka dari itu, waktu harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Apabila tidak diisi dengan aktifitas dan hal-hal yang positif, maka kita akan merugi. Karena Rasulullah pernah bersabda: “Dua nikmat yang sering dilupakan atau disia-siakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu.”