Berstatus sebagai pelajar merupakan suatu kenikmatan yang tak ternilai harganya. Menjadi pelajar adalah sesuatu yang diidam-idamkan oleh orang lain. Betapa banyak kalangan yang kurang mampu tidak bisa mengenyam pendidikan formal maupun informal disebabkan keterbatasan biaya dan kemampuan.
Karena itu, menjadi pelajar adalah sesuatu yang harus disyukuri. Tidak semua orang dapat menyandung status tersebut. Juga, keberhasilan menyandang status sebagai pelajar atau mahasiswa tidak lepas dari karunia dan rahmat Allah swt sebagaimana firman-Nya berikut:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: “…. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi, Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Nur [24]: 21)
Tafsir Surah An-Nur ayat 21
Dalam hal ini, kami akan fokus pada redaksi “Kalau bukan karunia dan rahmat Allah kepadamu, niscaya tak seorang pun di antara kamu yang bersih selama-lamanya”. Syaikh al-Mufassirin, al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsiri redaksi tersebut dengan mengutip riwayat Ibn Abbas yang berbunyi,
مَا اهْتَدَى مِنْكُمْ مِنَ الْـخَلاَئِقِ لِشَيْءٍ مِنَ الْـخَيْرِ يَنْفَعُ بِهِ نَفْسِهِ، وَلَـمْ يَتَّقِ شَيْئاً مِن َالشَّرِّ يَدْفَعُهُ عَنْ نَفْسِهِ
“Orang-orang di antara kamu yang telah mendapat kebaikan akan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan mereka sekalian akan takut dari suatu keburukan yang akan menjauhkan dirinya dari Allah swt”.
Jadi, menurut Ibn Abbas seperti yang dikutip al-Tabari, yang dimaksud karunia dan rahmat Allah di sini adalah nikmat kebaikan yang bermanfaat baginya. Serta timbul rasa takut akan suatu keburukan yang akan menjauhkan dirinya dari Allah swt. Kemudian, makna ma zaka adalah ma aslama (tidak akan selamat) sebagaimana penafsiran Ibn Zaid. Artinya, kalau bukan karena karunia Allah swt, niscaya tentu kamu tidak akan selamat dari perbuatan keji dan munkar. Ibn Zaid berkata,
كُلُّ شَيْءٍ فِـي الْقُرآنِ من «زَكِى» أو «تَزَكِّي» فَهْوَ الْإِسْلَامُ
“Segala sesuatu di dalam Al-Qur’an adalah sebagian dari sesuatu yang suci atau disucikan itulah Islam”.
Menurut kami, ayat-ayat di dalam Al-Quran adalah bagian daripada kesucian dan mengandung keselamatan bagi mereka yang membaca dan mengamalkan isinya. Tidak jauh berbeda dengan al-Tabari, Al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf menafsirinya sebagai berikut,
وَلَوْلَا أَنَّ اللهَ تَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ بِالتَّوْبَةِ الْمُمَحِّصَةِ، لِمَا طَهَرَ مِنْكُمْ أَحَدَ آخِرِ الدَّهْرِ مِنْ دَنَسِ إِثْمِ الْإِفْكِ، وَلَكِنَ اللهَ يَطْهُرُ التَائِبِيْنَ بِقْبُوْلِ تَوْبَتِهِمْ إِذَا مَحْضُوْهَا
“Seandainya Allah swt tidak mengkaruniakan taubat yang sungguh-sungguh. Niscaya tidak seorang pun di antara kamu yang dapat menyucikan dari noda (dosa) kebatilan di hari kiamat, tetapi karena karunia Allah. justru Dia menyucikan orang-orang yang bertaubat dengan menerimanya jika ia benar-benar murni bertaubat”.
Kesucian Sebagai Maqom Ridha
Senada dengan Al-Zamakhsyari, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib mengatakan bahwa ketahuilah mereka yang telah suci (al-zaki) adalah mereka yang mencapai maqam ridha di dalam ketaatannya kepada Allah dan beserta takdirnya. Al-Razi melanjutkan,
فَإذَا بَلَغَ الْمُؤْمِنُ مِنَ الصَّلاَحِ فِي الدِيْنِ إِلَى مَا يَرْضَاهُ اللهُ تَعَالَى سُمِّىَ زَكِياً
“Jika seorang mukmin telah mencapai kebaikan dalam agama dengan apa yang diridhai Allah ta’ala. dia akan disebut mukmin yang bersih nan suci (zakiyyan)”.
Lanjut al-Razi, tidak dikatakan bahwa dia suci kecuali dia dalam keadaan suci. Sebagaimana tidak dikatakan bahwa dia yang meninggalkan hidayah, melainkan ia dibimbing dan diberi petunjuk oleh Allah ta’ala.
Dalam tafsir yang lain, Ibn Katsir, misalnya, menjelaskan bahwa seandainya Allah tidak memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk bertobat kembali kepada-Nya. Dan membersihkan dirinya dari keburukan, kekotoran, dan semua akhlak yang rendah. Semua masing-masing orang disesuaikan dengan keadaannya, tentulah tidak akan ada seorang pun yang bersih dan tidak (pula) memperoleh kebaikan. Akan tetapi, Allah membersihkan dan menyucikan siapa yang dikehendaki-Nya dari kalangan makhluk-Nya. Dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya pula, lalu menjerumuskannya ke dalam kesesatan yang membinasakan dirinya.
Lebih jauh, Ali al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir, mengatakan bahwa jikalau bukan karena karunia dan keutamaan Allah yaitu taufik-Nya. Tentu manusia tidak akan bertaubat dengan taubatan nasuha (sebenar-benar taubat) dari belenggu dosanya. Tujuan Allah swt membersihkan manusia tidak lain, menurut al-Qurtubi, adalah untuk membersihkan dirinya. Kemudian menyucikan dan memberi hidayah Allah swt kepadanya dengan fadhal (karunia) Allah, tidak dengan amal manusia itu sendiri.
Mensyukuri Nikmat Pelajar
Dari ayat di atas, kami mengkontekstualisasikan makna karunia dan rahmat Allah swt dengan status pelajar. Jikalau bukan karunia dan rahmat Allah swt, niscaya tidak mungkin seseorang menyandang status sebagai pelajar, santri atau mahasiswa sekalipun. Bagi pelajar dan santri, menjadi pelajar atau santri adalah sesuatu yang harus disyukuri.
Bentuk syukur tersebut harus diwujudkan dengan rajin belajar dan mengutamakan adab dalam belajar. Hadratus Syeikh (maha guru), KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim berpesan kepada pelajar agar mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dan mengutamakan akhlak atau adab. Sebagaimana yang beliau kutip dari pernyataan Ruwaim,
يَابُنَيَّ اِجْعَلْ عِلْمِكَ مِلْحًا وَأَدَبَكَ دَقِيْقًا
“Wahai anakku! Jadikanlah ilmumu ibarat garam yang tersebar di lautan dan jadikanlah budi pekertimu ibarat tepung yang berterbangan di daratan”.
Lebih dari itu, KH. Hasyim Asy’ari menuturkan bahwa derajat ulama atau orang yang berilmu itu jauh di atas orang-orang mukmin. Seperti yang ia kutip dari perkataan Ibn Abbas,
دَرَجَاتُ الْعُلَمَاءِ فَوْقَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِسَبْعِ مِائَةِ دَرَجَةٍ مَابَيْنَ الدَرَجَتَيْنِ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ
“Derajat ulama itu jauh di atas orang mukmin dengan selisih tujuh ratus derajat. Sedangkan jarak antara dua derajat kira-kira perjalanan lima ratus tahun”.
Hadis Nabi
Bahkan, Rasulullah saw bersabda,
اَلْعَالِمُ وَالْمُتَعَلِّمُ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ وَجَمْعِ بَيْنَ الْمُسَبِّحَةِ وَالَتِيْ تَلِيْهَا شَرِيْكَانِ فِيْ الْأَجْرِ وَلَا خَيْرَ فِي سَائِرِ النَّاسِ بَعْدَ
“Orang yang mengajarkan ilmu dan orang yang mempelajarinya seperti ini dari ini. Sembari Nabi saw mengumpulkan (mendekatkan) antara dua jari telunjuk sehingga berdampingan adalah dua jari yang saling bersekutu dalam hal kebaikan. Dan tidak ada satupun kebaikan di kalangan seluruh manusia setelah proses belajar mengajar”.
Dalam hadits yang lain, Nabi saw mengumpamakan majelis ilmu (halaqa al-dzikr) adaah taman surga (riyadhul jannah). Adapun yang dimaksud majelis ilmu, sebagaimana dituturkan Imam Atha’ yang dikutip KH. Hasyim Asy’ari, “Yang dimaksud majelis ilmu (halaqa al-dzikr) adalah majelis-majelis yang digunakan untuk membahas masalah halal dan haram (majalis al-halal wa al-haram). Bagaimana cara engkau melakukan jual beli (kaifa tasytari), cara melakukan shalat (kaifa tushalli), cara mengeluarkan zakat (kaifa tuzakki). Kemudian, cara menunaikan ibadah haji (kaifa tahajji), cara menikah (kaifa tankaha), dan semacamnya”.
Semoga kita semua mampu mensyukuri karunia Allah berupa status pelajar, santri atau mahasiswa. Kemudian, mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk tekun belajar dan mengutamakan adab atau akhlak dalam menuntut ilmu. Wallahu a’lam.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.