Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan seseorang yang menyadari akan potensi yang ada dalam dirinya. Serta dapat mengatasi tekanan dalam kehidupannya. Kesehatan mental ini, sudah dikenal sejak abad ke-19 di Jerman. Dan pada pertengahan abad ke-20 kesehatan mental ini mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern.
Awal mulanya, kesehatan mental hanya terbatas pada individu yang mengalami gangguan kejiwaan dan tidak diperuntukkan bagi setiap individu pada umumnya. Namun, pandangan tersebut mulai mengalami pergeseran. Bahwa kesehatan mental tidak terbatas pada individu yang mengalami gangguan kejiwaan saja. Akan tetapi, diperuntukkan juga bagi individu yang mentalnya sehat. Di mana individu tersebut dapat mengeksplor dirinya sendiri dengan berinteraksi di lingkungan sekitarnya.
Kesehatan mental memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, bagaimana psikoterapi kesehatan mental dalam Islam?.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Kesehatan Mental
Kesehatan mental pada manusia dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain sehingga dapat menyebabkan mental yang sakit.
- Faktor Internal
Faktor internal yaitu faktor yang terdapat dalam diri seseorang. Seperti sifat, bakat, keturunan dan lain sebagainya. Contoh sifat yaitu sifat jahat, baik, pemarah, dengki, dan pemalu. Sedangkan contoh dari bakat yaitu bakat bernyanyi, melukis, akting, bermain musik dan mencipkan lagu. Dan contoh dari keturunan yaitu seperti turunan emosi, intelektualitas, dan potensi diri.
- Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi mental. Seperti lingkungan (kerja, keluarga, dan sekolah), sosial, budaya, dan pendidikan.
Ciri-Ciri Mental Yang Sakit
Mental yang sakit memiliki ciri yang berkebalikan arah dengan karakteristik mental yang sehat. Dan seseorang yang gagal dalam beradaptasi secara positif dengan lingkungannya, maka ia akan dikatakan mengalami gangguan mental.
Gangguan mental sendiri dipahami sebagai perilaku abnormal (perilaku yang menyimpang) dari norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga dapat diketahui bahwa gangguan mental adalah menurunnya fungsi mental yang akan sangat berpengaruh terhadap ketidak wajaran seseorang dalam berperilaku. Dengan demikian, ciri-ciri mental yang tidak sehat di antaranya:
- Perasaan tidak aman yang akan menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman
- Kurang mendapat kepuasan dalam hubungan sosial
- Tidak dapat memahami dirinya sendiri sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri
- Tidak dapat mengendalikan emosi
Ibadah Sebagai Psikoterapi Kesehatan Mental
Ibadah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena pada dasarnya tujuan Allah Swt menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Sehingga ibadah dijadikan sebagai tujuan dalam penciptaan manusia.
Ibadah juga memiliki banyak manfaat salah satunya dalam aspek psikis, maka seringkali ibadah ini dijadikan sebagai psikoterapi kesehatan mental melalui beberapa amalan ibadah. Di antaranya bentuk ibadah yang dijadikan sebagai psikoterapi yaitu:
- Shalat
Shalat merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah yang harus dilakukan secara khusyu’, karena shalat yang dilaksanakan dengan khusyu’ dapat menjadi terapi tersendiri bagi jiwa, dengan kata lain jiwa akan merasa lebih tenang. Dan melalui sholat, kepribadiaan seseorang dapat terbimbing untuk menyikapi berbagai macam persoalan dalam kehidupan. Sehingga seseorang tidak akan mudah berputus asa jika mengalami setiap kegagalan.
Gerakan-gerakan dalam shalat juga memiliki manfaat bagi kesehatan jasmani, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh H.A. Saboe dalam bukunya yang berjudul “Hikmah Kesehatan Dalam Shalat”, bahwa setiap perubahan dalam gerak dan sikap tubuh pada waktu melaksanakan shalat merupakan hal yang paling sempurna dalam memelihara kondisi kesehatan tubuh.
Shalat memiliki berbagai macam simbol yang diambil dari irama dan gerak ritme tubuh seperti berdiri, takbir, ruku’, sujud, dan salam yang menjadi sebuah simbol dari siklus kehidupan yang berupa daur kehidupan yang sifatnya dinamis. Sehingga gerakan dalam shalat dianggap sebagai sesuatu yang sangat proposional bagi anatomi tubuh manusi.
Dzikir Sebagai Penenang Jiwa
- Dzikir
Ibadah yang satu ini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab secara harfiah dzikir adalah mengingat Allah Swt. Sebagaimana firman Allah dalam surah ar-Ra’ad ayat 28.
الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَّ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ (28)
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa hati mereka akan merasa senang dan tenang apabila berada disisi Allah, dan merasa tentram dengan mengingat-Nya. Bahkan Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tidaklah suatu kelompok yang duduk berdzikir melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Mereka mendapat limpahan rahmat dan mencapai ketenangan. Dan Allah Swt akan mengingat mereka dari seseorang yang diterima disisi-Nya” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Sedangkan dalam ilmu kesehatan dzikir menjadi sebuah terapi psikiatrik, sebab dzikir mengandung unsur kerohanian yang dapat membangkitkan rasa percaya diri orang yang sedang sakit. Sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan dapat mempercepat proses dalam penyembuhan.
- Puasa
Hal ini merupakan sebuah sarana latihan bagi seorang muslim untuk menguasai serta mengontrol dorongan emosi. Puasa juga dapat menguatkan keinginan dan menumbuhkan jiwa manusia untuk mengalahkan hawa nafsu syahwatnya. Selain itu, kesabaran menahan rasa lapar dan dahaga dalam puasa dapat membuat orang yang sedang berpuasa merasakan rasa lapar dan haus yang sering kali dialami oleh orang-orang yang tidak mampu atau serba kekurangan.
Sehingga hal tersebut akan memunculkan rasa kasih sayang terhadap sesama serta dapat mendorong seseorang untuk membantu orang-orang fakir dan miskin. Maka perasaan dan sikap peduli terhadap orang lain di masyarakat inilah yang disebut oleh Utsman dapat menciptakan rasa kedamaian serta kelapangan jiwa.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply