Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Semantik Qur’an: Syukr dan Implikasinya dalam Kehidupan

syukr
Sumber: dok pribadi

Ajaran tentang kewajiban bersyukur merupakan hal penting dalam ajaran Islam. Imam al- Ghazali menegaskan bahwa perintah bersyukur bergandengan dengan perintah berdzikir menunjukkan betapa penting kedudukan itu.

Etimologi kata Syukur

Kata syukur yang sudah menjadi bagian dari kosakata dalam bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa asalnya, syukur ditulis dengan syukr (شكر) yang merupakan bentuk masdar. Kata kerja (fi’il)nya adalah syakara (madhi), dan yasykuru (mudhari’). Di samping itu, ada pula kata syukur (شكور) yang dua kali disebut dalam al-Qur’an, yakni dalam surah al-Furqan [25]: 62 dan surah al-Insan [76]: 9. Menurut penulis kamus Mukhtar as-Shihah, kata syukur dimungkinkan sebagai bentuk masdar, sama dengan kata syukr. Di samping itu, dimungkinkan pula sebagai bentuk jamak (plural) dari kata syukr.

Terdapat suatu kata yang oleh para ulama seringkali dijadikan bandingan bagi kata syukur, yakni kata hamd (حمد). Ibn Jarir at-Tabari menganggap keduanya sebagai sinonim, dengan alasan bahwa orang Arab sering menggunakan keduanya dalam satu ungkapan:

الحمد الله شكرا

Artinya: Segala puji bagi Allah sebagai ungkapan rasa syukur”.

Terminologi kata Syukur

Al-Qurtubi menolak pendapat at-Tabari ini. Menurut Al-Qurtubi, pengertian kedua kata itu berbeda. Beliau berpendapat bahwa pengertian hamd lebih luas dan umum dibandingkan dengan arti syukr. Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa justru pengertian syukr yang lebih luas daripada hamd. Hal itu dikarenakan syukr dilakukan dengan lisan, anggota- anggota tubuh yang lain dan hati. Sementara memuji (hamd) hanya khusus dilakukan dengan lisan. Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang persamaan dan perbedaan antara hamd dan syukr di atas. Yang sudah pasti di antara keduanya terdapat kaitan yang sangat erat. Ibn ‘Abbas mengatakan,

Baca Juga  Mencermati Ayat-Ayat Kauniyah di Dalam Al-Qur'an

“Alhamdulillah adalah kalimat ucapan setiap orang yang bersyukur.”

Kebenaran pernyataan Ibn ‘Abbas ini dapat ditelusuri dari firman-firman Allah pada QS. al-Mu’minun [23]: 28, QS. Ibrahim [14]: 39, QS. an-Naml [27]: 15, QS. Fathir [35]: 34. Firman-firman Allah ini menunjukkan bahwa ucapan alhamdulillah merupakan bentuk pujian (hamd) kepada Allah. Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur hamba kepada Tuhan-Nya atas segala kebaikan yang telah diberikan oleh-Nya. Dengan kata lain, memuji Allah merupakan cara hamba bersyukur secara lisan kepada Tuhannya.

Kata Syukur dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an kata syukur dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 75 kali. Dalam ayat-ayat itu syukur tidak hanya dipakai dalam rangka perbuatan manusia dalam mensyukuri nikmat. Tetapi juga dalam rangka mengungkapkan sikap Allah terhadap apa yang dilakukan hamba-Nya. Ar-Raghib al-Isfahani menyatakan bahwa syukur berarti menggambarkan nikmat dan menampakkannya (tasawwur an-ni’mah wa izharuha). Juga merupakan lawan dari kufur (kufr) yang berarti melupakan nikmat dan menutupinya (nis- yan an-ni’mah wa satruha). Syukur, menurut Al-Raghib ada tiga macam: syukurnya hati (syukr al-qalb) berupa penggambaran nikmat. Lalu syukurnya lisan (syukr al-lisan) berupa pujian kepada sang pemberi nikmat. Serta syukurnya anggota tubuh yang lain (syukr sair al-jawarih) dengan mengimbangi nikmat itu menurut kadar kepantasannya.

Kata syukur seringkali disandingkan dengan istilah-istilah atau kata dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan sebab-sebab manusia harus bersyukur kepada Allah. Yaitu di antaranya kata syukur digandengkan dengan kata nikmat, rezeki, suatu karunia, petunjuk, penciptaan manusia, pergantian siang dan malam. Juga kebangkitan dari kematian, memberi maaf, kebaikan, kenikmatan, bersabar dan bagaimana cara bersyukur kepada Allah. Salah satu contoh ayatnya yaitu mengenai kata syukur yang digandengkan dengan kata rezeki, “…Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya” QS. AlAnkabūt [29]: 17).

Baca Juga  Pergeseran Makna Mahram dalam Safar Wanita: Pembacaan Baru

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa hanya Allah lah yang dapat memberikan rezeki kepada manusia, tidak ada selain Allah yang mampu mendatangkan rezeki. Maka hendaklah manusia bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada manusia dan menyembah hanya kepada-Nya.

Penafsiran Syukur

Menurut A. Malik Madany [Syukur dalam Perspektif al-Qur’an]  medan semantik kata syukur berdasarkan pemaparan makna relasional dalam sebuah skema atau bagan dapat menghasilkan kesimpulan. Yaitu terdapat 4 aspek yang dapat dicapai dari kata syukr dalam Al-Qur’an, di antaranya yaitu: Pertama, mengenai sebab-sebab yang menjadikan manusia harus bersyukur. Kedua, mengenai cara-cara bersyukur kepada Allah. Ketiga, mengenai balasan-balasan bagi orang-orang yang bersyukur kepada Allah Swt. Dan yang keempat, mengenai balasan terhadap orang-orang yang tidak mau bersyukur kepada Allah Swt. Akan tetapi, amat sedikit orang yang mau bersyukur, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:

وَقَلِیل مِّنۡ عِبَادِیَ ٱلشَّكُورُ

“..Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’ [34]: 13).

Menurut ar-Raghib, ayat ini mengandung peringatan bahwa memenuhi secara sempurna kewajiban bersyukur kepada Allah sangatlah sulit. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila hanya ada dua hamba Allah yang mendapat pujian lantaran syukur yang telah ditunjukkannya. Yakni nabi Ibrahim seperti dalam QS.an-Nahl [16]: 120-121 dan nabi Nuh dalam QS. al-Isra’ [17]: 3. Namun kita harus tetap berusaha untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Kesimpulan

Al-Qur’an telah menyebutkan bagaimana caranya manusia bisa bersyukur kepada Allah.Yaitu dengan cara menyembah Allah semata, berbuat baik kepada sesama. Juga mengingat nikmat-nikmat yang Allah berikan dengan melalui lisan, pikiran, hati dan anggota badan lainnya. Serta bersabar saat ditimpa ujian maupun saat mendapatkan kenikmatan.

Baca Juga  Kajian Makna Kata “al-Maut” dalam Al-Qur’an

Kemudian dengan cara berbuat baik kepada kedua orang tua, karena mereka telah bersusah payah merawat dan membesarkan anaknya. Maka hendaknya kita bersyukur kepada mereka, karena mereka sebagai perantara hadirnya kita di bumi ini. Jika kita tertimpa perbuatan yang tidak mengenakkan. Kemudian membalasnya dengan bersabar dan berbuat baik, maka secara tidak langsung kita juga telah bersyukur kepada Allah.

Tujuan bersyukur dalam Al-Qur’an secara umum adalah suatu upaya untuk meningkatkan kebaikan di sisi Allah. Juga mewujudkan perdamaian dengan menolong sesama yang sedang membutuhkan. Semoga kita selalu diberikan rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan pada kita semua. Amiin.

Penyunting: Ahmed Zaranggi