Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Refleksi Cerita Nabi Yusuf: Menghadapi Ujian Hidup dan Isu Unprivileged

Kisah Nabi Yusuf a.s. yang terkandung dalam surah Yusuf merupakan kisah dalam Al-Qur’an yang memiliki banyak pelajaran dan pesan moral. Terutama dalam cara menghadapi ujian dan takdir. Nabi Yusuf a.s. telah mengalami banyak ujian dalam hidupnya sejak kecil. Namun hal ini tidak membuatnya putus asa dan kehilangan arah. Di era sekarang, isu unprivileged sering dianggap sebagai penghalang untuk mencapai kesuksesan.

Unprivileged merupakan kondisi seseorang yang yang tidak memiliki akses atau kesempatan yang sama seperti orang lain dikarenakan berbagai faktor. Seperti kondisi ekonomi, status sosial, ras, atau latar belakang tertentu, sehingga dinilai lebih sulit untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan hak-hak yang dimiliki oleh kelompok masyarakat yang lain. Namun, jika direfleksikan dengan kisah Nabi Yusuf a.s. dalam menghadapi berbagai ujian ataupun keadaan, hal ini bukanlah unprivileged penghalang menuju kesuksesan.

Allah Swt. adalah Sebaik-baiknya Perencana

وَقَالَ الَّذِى اشْتَرٰىهُ مِنْ مِّصْرَ لِامْرَاَتِهٖٓ اَكْرِمِيْ مَثْوٰىهُ عَسٰىٓ اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا ۗوَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِۖ وَلِنُعَلِّمَهٗ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۗ وَاللّٰهُ غَالِبٌ عَلٰٓى اَمْرِهٖ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗٓ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: Orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Demikianlah, (kelak setelah dewasa,) Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir) dan agar Kami mengajarkan kepadanya takwil mimpi. Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti. Ketika dia telah cukup dewasa, Kami berikan kepadanya kearifan dan ilmu. Demikianlah, Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Yusuf [12]: 21-22)

Baca Juga  Tafsir Q.S Yusuf Ayat 53: Kisah Nabi Yusuf Dalam Melawan Hawa Nafsu

Dalam Tafsir Al-Mishbah (6/417-420) disebutkan bahwa yang membeli Yusuf sangat bergembira, mengingat bahwa ia belum dikaruniai seorang anak. Disebutkan pula, bahwa yang membelinya adalah seorang kepala pengawal raja. Jika demikian, pastilah dia seorang yang sangat kuat dan berpengaruh, serta memiliki banyak fasilitas dan kemudahan. Karena perasaan suka citanya itu, setelah kembali ke rumah dan menemui istrinya, ia meminta istrinya untuk memberikan tempat dan pelayanan yang terbaik, agar Yusuf senang dan betah tinggal bersama mereka. Boleh jadi istrinya kebingungan dengan tingkah suaminya karena mengapa ada perintah khusus untuk menyangkut seorang budak yang baru dibeli. Lalu, suaminya menjelaskan bahwa ia melihat tanda-tanda keistimewaan pada Yusuf dan berharap semoga Yusuf bermanfaat bagi mereka atau bahkan benar-benar dijadikan anak angkat bagi mereka.

***

Tafsir Al-Mishbah juga menyebutkan, Allah Swt. berfirman menyangkut hal tersebut, sebagaimana Kami atur perjalanan hidupnya sejak kecil hingga sampai dibeli oleh orang Mesir. Demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di bumi, yakni di Mesir sehingga ia dapat tidur tenang, terhormat, dan memenuhi segala kebutuhannya, dan Kami anugerahkan kepadanya banyak hal yang lain sehingga agar pada masanya nanti Kami ajarkan kepadanya penakwilan peristiwa-peristiwa, yakni penafsiran tentang makna mimpi dan dampak peristiwa-peristiwa yang terjadi. Perjalanan kehidupan Nabi Yusuf a.s. penuh dengan tantangan dan ujian hingga ia berhasil. Tidak ada yang mustahil bagi Allah Swt., Tuhan Pemilik dan Pengatur alam semesta dan Maha Berkehendak, Allah Swt. berkuasa terhadap urusan yang dikehendaki-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui hakikat tersebut.

Perjalanan kehidupan Nabi Yusuf a.s. bukan penuh dengan keberuntungan ataupun unprivileged, melainkan penuh dengan berbagai ujian. Dia dibenci saudara-saudaranya, dilempar ke sumur saat masa kecilnya, dipisahkan dari keluarganya, dijual sebagai hamba sahaya, mendapat godaan dari perempuan cantik, hingga berada dalam penjara, tetapi justru Allah Swt. mengantarnya ke tangga pertama kesuksesan yang direncanakan Allah untuknya. Hal ini tidak lepas dari keyakinannya kepada Allah Swt..

Baca Juga  Bolehkah shalat Tahajud Meski Sudah Teraweh?

Dari Kehidupan Pahit Menuju Kemuliaan

Allah Swt. berfirman dalam surah Yusuf ayat 56 sebagaimana berikut.

وَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِ يَتَبَوَّاُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاۤءُۗ نُصِيْبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَّشَاۤءُ وَلَا نُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: Demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir) untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Yusuf [12]: 56)

Tafsir Al-Azhar (5/3680-3682) menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan pujian terhadap Nabi Yusuf a.s. yang selama hidupnya selalu menjadi muhsinîn; orang yang selalu berbuat kebajikan. Nabi Yusuf a.s. telah berhasil melalui segala ujian dan tanggung jawabnya, modal utamanya ialah iman dan takwa, sehingga karena iman dan takwanya ia selalu ingin berbuat kebajikan. Kebajikan sudah menjadi kesenangan jiwanya sejak ia masih kecil.

Banyak sekali cobaan yang diterimanya sejak kecil, mulai dari dibenci lalu dimasukkan ke sumur hingga masuk dalam penjara. Semua ini menambah kuat pribadinya dan teguh imannya akan pertolongan Tuhannya. Dia bukan hanya mengingat hidup yang sekarang saja, tetapi ia juga mengingat kehidupan akhirat, yakni tempat ia mempertanggungjawabkan segala apa yang dia usahakan dan kerjakan di hadapan Tuhan.

Dalam menghadapi ujian dan takdir, kita perlu percaya dengan segala ketetapan Allah Swt.. Ujian hidup merupakan proses pembelajaran dalam pengembangan diri. Setiap individu dapat meraih kehidupan yang lebih baik melalui keimanan, kesabaran, dan usaha. Kisah kehidupan Nabi Yusuf a.s. memberikan pelajaran; bahwa meskipun kita tidak bisa memilih bagaimana dan dimana kita memulai hidup, kita selalu bisa memilih untuk berusaha meraih akhir kehidupan yang lebih baik. Ujian-ujian dalam kehidupan dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga  Wajah Kemajuan Peradaban Islam di Baghdad

Editor: An-Najmi