Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

QS. An-Nisa: 79: Makna dan Sumber Baik dan Buruk?

baik dan buruk
Sumber: https://www.wallpaperflare.com/

Sudah tak asing lagi telinga kita mendengar ungkapan ‘kebaikan datang dari Allah, keburukan disebabkan perbuatan kita sendiri’. Hal ini rupanya tertera dalam surah An-Nisa ayat 79. Baik dan buruk.

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS. An-Nisa ayat 79).

Menurut syaikh  as-Sa’di, Allah membukakan pintu kebaikan bagi para hamba-Nya dan memerintahkan mereka untuk masuk dalam kebaikan dan rahmat-Nya. Dia juga mengabarkan bahwa kemaksiatan akan menjadi penghalang dari rahmat-Nya. Maka jika seorang hamba bermaksiat, tidak sepatutnya ia menyalahkan siapapun melainkan dirinya sendiri. (Tafsir as-Sa’di: 188).

Hal senada diungkapkan dalam tafsir Ibnu Katsir, kebaikan datangnya dari Allah, yaitu berupa rahmat dan anugerah-Nya. Keburukan datang dari dirimu, yaitu disebabkan dosamu. Qatadah berkata dalam menafsirkan keburukan datang darimu: ayat ini yakni sebagai hukuman untuk bani adam karena dosanya.

Makna Baik dan Buruk dalam ayat

Dari segi lafaz, ada rahasia mengapa Allah menggunakan kata ma ashabaka (ماأصابك), dan bukan ma ashabta (ما اصبت). Ulama yang mengkritisi ini di antaranya Syaikh Ibnul Qayyim dalam kitab Madarij as-Salikin. Rahasia digunakannya fiil mudhari dan bukan fiil madhi adalah karena makna kebaikan di ayat itu adalah nikmat dan keburukannya adalah musibah. Sedangkan kita sendiri tahu, kaidah fiil mudhari menunjukan istimrar (terus menerus), sebagaimana dalam hal kenikmatan dan musibah yang berlangsung selama hidup.

Baca Juga  Meninjau Good Governance dalam Ayat-Ayat Al-Qur'an

Syaikh ‘Utsaimin menjelaskan dalam tafsirnya, yang dimaksud kebaikan di sini adalah berupa kesehatan, rezeki, dan lain-lain yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sebagai karunia dari Allah. Sedangkan yang dimaksud keburukan adalah ketetapan Allah berupa takdir buruk, dan diri sendiri adalah penyebab dari takdir ini. Sedangkan al-Qurthubi memaknai kebaikan sebagai keluasan rezeki yang merupakan karunia dari Allah, sedangkan keburukan sebagai sempitnya rezeki disebabkan perbuatanmu, yakni akibat dosa-dosa yang diperbuat olehmu.

Ayat di atas semakna dengan surah asy-Syura ayat 30 :

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Dan tidaklah musibah menimpamu kecuali disebabkan perbuatanmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Oleh karena itulah, kebaikan yang berupa kenikmatan yang diberikan Allah menuntut kita untuk bersyukur. Sedangkan keburukan yang berupa musibah yang disebabkan dosa-dosa, menuntut kita untuk bertaubat dan istighfar. (Majmu Fatawa, 16/187). Begitulah makna baik dan buruk.

Faidah Ayat

Berikut intisari yang bisa kita ambil dari penafsiran para ulama tentang baik dan buruk dalam ayat:

Pertama, ada banyak kenikmatan Allah yang seharusnya membuat kita menjadi orang yang pandai bersyukur. Allah adalah sebab dari segala kenikmatan yang kita peroleh, maka di samping mengingat nikmat untuk disyukuri, kitapun harus mengingat penyebab nikmat, yakni mengingat Allah dengan selalu merutinkan dzikir kepada-Nya.

Kedua, bila kita ditimpa musibah, hendaknya memperbanyak istighfar dan taubat. Sebab kita tak pernah tahu barangkali musibah itu datang disebabkan dosa-dosa kita. Memang takdir buruk adalah bagian dari ketetapan Allah. Namun ada yang di antara penyebabnya disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri.

Ketiga, dengan mengetahui sebab musibah, maka kita tidak memiliki hujjah untuk menyalahkan takdir Allah. Justru Allah mengingatkan hamba-Nya agar musibah menjadi wasilah seorang hamba untuk kembali dan menyadari dosa-dosanya.

Baca Juga  Mengenal Mukhbitin dan Kriterianya dalam Al-Qur'an

Penyunting: Ahmed Zaranggi