Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

QS. Al-Lail: Meniti Jalan Kemudahan Hidup

al-lail
Sumber: https://www.strategy-business.com

Al-Quran menyampaikan pesan yang bukan hanya menggungah pikiran namun juga jiwa pembacanya, seperti keindahan bahasanya yang terdapat dalam QS. al-Lail. Juga tiap qasam atau sumpah Allah pasti memiliki keterkaitan indah dan memuat pesan dengan jawab qasamnya.

Surat ini membicarakan perbuatan dan amal manusia yang bermacam-macam. Perbedaan amal tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda pula. Pada artikel ini akan membahas orang yang berusaha konsisten dalam amal kebajikannya akan dibentangkan kepadanya jalan kemudahan.

Siang Malam Manusia Selalu Berusah

Pada ayat pertama Allah bersumpah dengan malam kemudian diikuti dengan lawannya yaitu siang hari. (QS. al-Lail [92]: 1-2)

وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰى “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), menggunakan fi’il mudhari Sedangkan ayat {وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰى} “Demi siang apabila terang benderang,” menggunakan fi’il madhi. Dikatakan oleh Syeikh Fadhil as-Sya’rawi bahwa Allah mengungkapkan ketika datang malam dengan pelan-pelan hingga gelap pekat, kemudian saat menceritakan siang langsung tampak dan kegelapan hilang tanpa berbekas.

Disambung dengan sumpah tentang penciptaan laki-laki dan perempuan ya. (QS. al-Lail [92]: 3) Bahwa makhluk secara fitrah adalah berpasangan dan saling melengkapi sebagaimana siang malam dan siang. Semua saling melengkapi bukan hanya fisiknya namun juga ruhani, psikologi, dan lain sebagainya.

***

Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menyebutkan korelasi tiga ayat pertama yang isinya sumpah Allah atas makhluk-Nya untuk menegaskan perbedaan amal yang dilakukan oleh setiap hamba. Ada yang diberi anugerah untuk bisa beramal baik, ada juga yang sebaliknya. Sama seperti perbedaan malam dan siang, serta perbedaan penciptaan laki-laki dan perempuan. (Tafsir al-Qur’an al-Adzim, juz VII, halaman 417)

Baca Juga  Peringatan Ulama tentang Nestapa Kekuasaan

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda”. (QS. al-Lail [92]: 4)

Ibnu ’Asyur, sesungguhnya perbuatan buruk dan baik, keduanya memiliki persamaan dengan malam yang gelap dan siang yg terang benderang. Perbedaan amal tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda pula, yaitu kebahagiaan dan kesengsaraan. Pada akhirnya semua bermuara pada ridha Allah yang dibalas dengan surgaNya atau kemurkaan Allah yang diturunkan melalui nerakaNya.

Memberi, Bertakwa dan Membenarkan Kebajikan

“Adapun orang yang memberi dan bertakwa. Dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik. Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang paling mudah”. (QS. al-Lail [92]: 5-7)

Kata “A’thâ” dimaksud adalah orang yang berani menginfakkan hartanya dalam jumlah banyak. Ia tak pernah khawatir sedikit pun akan ditimpa kebangkrutan. Lalu ia juga bertakwa dan menjaga diri dari yang diharamkan Allah. Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas ra. Dan ia meyakini bahwa yang dilakukannya tidaklah sia-sia, Allah telah menjanjikan balasan yang sangat luar biasa. Menurut Imam al-Alusi kata “al-Husnâ” ditafsirkan sebagai kalimat terbaik lâ Ilâha illalLâh (Ruh al-Maani, Vol. 30, hlm. 266)

A’thâ adalah buah dari takwa yang merupakan kesadaran yang menghujam ke dalam hati dan melahirkan rasa takut kepada Allah, kemudian menjadikan seorang taat dan beramal, dan dasar dari ketaqwaan itu adalah keimanan. Sebagai konsekuensi dari semua itu, yaitu kemudahan dalam membiasakan amal kebaikan serta kemudahan memperoleh kebahagiaan dan kelapangan hidup dan kelak dimudahkan kepada ridhaNya yang direprentasikan surga.

***

Keutamaan Abu Bakar as-Shiddiq dan Abu Dahdah al-Ansari, Sebab Turunnya Ayat

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini dirujukkan kepada Abu Bakar yang memiliki pribadi yang mulia. Diriwayatkan oleh Amir bin Abdillah bin Zubair, ia adalah sahabat nabi yang paling banyak memerdekakan budak dan yang dibebaskannya adalah budak yang lemah, sepuh, dan dari kalangan perempuan. Suatu waktu ayahnya Abu Kuhafa’ berkata kepadanya, “Wahai anakku, aku telah melihatmu memerdekakan kaum lemah.

Baca Juga  Kikir Kunci Kesukaran Hidup: Kisah Qur'ani

Bagaimana jika kamu memerdekakan kaum lelaki yang kuat. Sehingga mereka akan membantumu, mengawal dirimu dan membelamu.’ Lalu Abu Bakar berkata, ‘Wahai ayahku, sungguh aku hanya ingin –aku mengira ia berkata- pahala di sisi Allah.”

Menurut riwayat lain ayat ini diturunkan untuk mengapresiasi Abu Dahdah al-Anshary yang suatu hari berada di kediaman seorang munafik yang memiliki kurma. Ia melihat kurma-kurma tersebut berjatuhan ke rumah tetangganya yang yatim. Orang munafik tersebut mengambili kurma-kurma tersebut, khawatir akan diambil oleh anak-anak yatim tetangganya. Abu Dahdah al-Anshary kemudian mengadu kepada Rasulullah. Kemudian Rasul mengabarkan kepada pemilik kurma itu untuk memberikan kepada si-yatim, “Biarkan saja itu untuk mereka maka engkau akan mendapat gantinya di surga”.

Namun sang munafik tersebut tidak menggubrisnya. Abu Dahdah kemudian menanyakan kepada Rasul jika ia membeli pohon itu apa akan mendapatkan ganjaran serupa dan Rasulullah mengiyakan. Lalu bergegaslah Abu Dahdah kepada orang munafik tersebut, setelah menawar timbul kesepakatan satu pohon kurma dibeli dengan 40 pohon kurma. Kemudian diserahkan itu kepada Rasul dan menghibahkannya untuk anak-anak yatim tersebut. (Tafsir Ruh al-Maani, Vol. 30, hlm. 264)

Terminal Kepuasan yang Kekal

“Kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus di-balasnya”. (QS. al-Lail [92]: 17-19).

Menurut Imam al-Qurtubi dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, orang yang sangat bertaqwa yaitu ia yang takut kepada Allah dan menginfakkan hartanya untuk tazkiyah an-nufus. Ia bersedekah bukan karena untuk membalas budi orang lain atau supaya kelak jika dalam kesulitan akan ada yang membantu mengelurkannya dari kesusahan. Kedermawanannya tersebut dilandaskan pada keikhlasan yang sangat dijiwainya. Allah menuturkannya, “Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari ridha Tuhannya Yang Maha Tinggi.” (QS. 92: 20).

Baca Juga  Yang Kurang dari Kajian Kisah Al-Qur'an Menurut Ahmad Khalafullah

Figur yang terekam dalam ayat tersebut tidak lain, lagi-lagi adalah Abu Bakar As-Siddiq yang memerdekakan Bilal bin Rabah tanpa syarat apapun. Ibnu Abbas menceritakan bahwa Bilal terus menerus disiksa oleh dari Umayah bin Khalaf dan Bilal hanya berkata, “Ahad, ahad.” Di bawah matahari yang panas wajah Bilal dijerembabkan ke pasir oleh tuannya dan di perutnya di tindihi batu yang besar dan diseret pula tubuhnya.

Rasulullah mengetahui itu dan mengatakan kepada Abu bakar, ia pun mengetahui apa maksud Rasul yaitu untuk membebaskan Bilal. Kemudian ia membelinya dari Umayyah dengan harga yang sangat tinggi dan memerdekakannya. Bilal kemudian bertanya kepada Abu Bakar, “Kamu membebaskanku untuk kepentinganmu atau untuk kepentingan Allah?” Dan jelas bahwa apa yang dilakukan Abu Bakar as-Siddiq itu adalah semata-mata untuk mencari ridha Tuhannya. (Tafsir Ruh al-Maani, Vol. 30, hlm. 267)

Orang yang ‘Athqâ’ kelak ia akan puas dan takkan merasa rugi. “Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. 92: 21) Dan kepuasan yang demikian itu bersifat kekal. Maka ia menjadi orang yang paling beruntung, sebagai balasan atas upayanya untuk menjaga diri dan menjadi hamba-Nya yang paling bertakwa. []