Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Proses Pewahyuan Al-Qur’an: Dari Lauhul Mahfudz hingga ke Dunia

Sumber: istock[hoto.com

Dalam perjalanannya terkait dengan proses pewahyuan al-Qur’an, masih menjadi suatu pertanyaan besar di kalangan para sarjanawan muslim maupun non muslim. Setidaknya ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pewahyuan al-Qur’an. Seperti kondisi masyarakat Mekkah menjelang Al-Qur’an diturunkan,dan tahapan penurunannya.

Kondisi Masyarakat Mekkah Menjelang Al-Qur’an Diwahyukan

Masyarakat Arab khususnya kota Mekkah menjelang diturunkannya al-Qur’an, tidak merasa aman dan akrab melihat perubahan–perubahan yang terjadi pada saat itu terutama perubahan di bidang Agama. Sudah berabad-abad mereka menyembah berhala–berhala, baik pada waktu pemukiman Yahudi maupun upaya–upaya kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir. Kehadiran kaum Yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisir tersebarnya ajaran Injil dengan melalui dua tahapan yaitu :

1. Dengan memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan Arab, untuk itu, mereka membuat penghalang antara ekspansi kristen ke utara dan penghuni kaum penyembah berhala di sebelah selatan.

2. Para penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama yahudi dalam memasukkan cerita–cerita legendaris ke dalam agama mereka.

Pada abad keempat masehi masuklah agama kristen ke tanah arab melalui Syiria dan Ethiopia. Agama Yahudi pun mendapatkan pengikut di tanah Arab. Kondisi bangsa Arab sebelum Al-Qur’an diturunkan sangat memprihatinkan sekali karena sebagian suku Arab menyembah berhala dengan bentuk yang berbeda-beda. Jumlah berhala yang bangsa arab sembah sekitar 360 berhala yang semuanya itu terletak di sekeliling Ka’bah. Setiap suku mempunyai berhalanya sendiri. Selain itu terdapat juga patung Nabi Ibrahim as dan Nabi Isa Al Masih, Dan Hubal sebagai berhala suku Quraisy. Berhala – berhala itu terbuat dari batu akik (safir/giok/intan) dan batu hitam.

Baca Juga  Perkembangan Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir di Indonesia

Sebelum Al-Qur’an diturunkan para pakar mensepakati bahwasanya zaman bangsa arab dahulu bisa disebut sebagai zaman jahiliyah. Zaman jahiliyah ini meliputi dua priode yaitu zaman jahiliyah pertama meliputi waktu yang sangat panjang. Tetapi tidak banyak diketahui tentang hal ini yang dikarenakan sejarah pendukungnya yang sudah lenyap. Dan adapun pada Zaman jahiliyah kedua yang diperkirakan 150 tahun sebelum Islam dilahirkan.

Masa Jahiliah Ketika Al-Qur’an Mulai Diturunkan

Kata jahiliah berasal dari kata jahl tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ‘ilm, melainkan lawan dari hilm. Dan pengertian hilm yang dipaparkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa al-Hilm adalah seseorang mengendalikan dirinya ketika marah. Jika terkena marah dan dia dalam keadaan kuasa, maka dia berlaku hilm, tidak menghukum dan terburu-buru menghukum.

Sehingga pernyataan  tersebut bisa kita pahami bahwa secara fisikal bangsa Arab mempunyai kualitas otak yang tidak bodoh dalam arti sempit, hal ini bisa dibuktikan dengan tradisi hafalan yang kuat dan tradisi membuat syair indah. Sehingga definisi jahiliyah ini dimaknai dari perspektif yang berbeda. Dan para pakar sepakat bahwa kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam arti khusus tentang keyakinan terhadap ketuhanan yang salah.

Kalau kita mengulang kisah bahwa keyakinan bangsa arab dulunya merupakan penganut ajaran Tauhid dari nabi Ibrahim, karena sebagian besar bangsa Arab mengikuti dakwah Ismail as. yang menyeru kepada agama bapaknya, Ibrahim as. yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan-Nya.  Setelah Nabi Ibrahim as. meninggal Bangsa Arab mulai berantakan mereka mulai menyembah berhala dan meninggalkan ajaran Nabi Ibrahim as. Dan disebutkan bahwa lama kelamaan banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran agama Ismail as. putra dari Nabi Ibrahim as. meskipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim as.

Baca Juga  Rabiul Awal sebagai Momentum Kemanusiaan

Tahapan Turunnya Al-Qur’an

Allah SWT menurunkan wahyu Al-Qur’an dengan tiga tahapan yaitu : 1. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus ke lauhul mahfudz tanpa terpisah – pisah. 2. Dari Lauhul mahfudz diturunkan ke baitul ‘izzah (langit dunia) ulama menafsirkan diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhul mahfudz ke Baitul ‘Izzah pada malam lailatul Qadr. 3. Dari langit dunia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril as dengan cara berangsur – angsur agar memudahkan Nabi dan para umatnya untuk menghafalnya dan Al-Qur’an itu turun sesuai dengan kejadian yang sedang terjadi.

1. Tahap Pertama

Diturunkan dari lauhul mahfudz menurut cara dan waktu yang mengetahuinya hanya Allah dan siapa yang diperlihatkannya akan hal-hal yang ghaib. Al-Qur’an diturunkan sekaligus dan tidak terbagi-bagi. Yang demikian terlihat dari lafadznya dan dalil dari Al-Qur’an, karena firman-Nya:

وَاللهُ مِن وَّرَاءِهِم مُحِيط بَل هُوَ قُراَنُ مَّجِيدٌ فِي لَوحِ مَّحفُوظ.(البروج:20-23)

Artinya: “ (20). Padahal Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga tidak dapat lolos), (21). Bahkan (yang didustakan) ialah al-Qur’an yang mulia, (22). Yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga ( Lauhul Mahfudz)”. (QS. Al-Buruj: 20-23)

2. Tahap kedua 

Proses pewahyuan selanjutnya dari lauhul mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Berdasarkan hasil bacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dibaca, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa ia diturunkan dalam suatu malam ke langit dunia. Ia disifatkan oleh al-Qur’an dengan Lailati Mubaarakatin (malam yang diberkahi Allah). Malam itu kadang-kadang dinamakan malam Qadar. Kejadian itu pada bulan Ramadhan dan diturunkan sekaligus, diantara ayat-ayat itu ialah:

 اِنَّا اَنزَلنَاهُ فِي لَيلَةِ القَدرِ 

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam Qadar”.

Baca Juga  Harta Rampasan dalam Al-Quran: Mengenal Jenis-Jenisnya

شَهرُ رَّمَضَا نَ اَّلذِي اُنزِلَ فِيهِ القُراَنَ

Artinya: Bulan Ramadhan yang telah diturunkan padanya Al-Qur’an

***

3. Tahap Ketiga:

Al-Qur’an diturunkan dari Baitul ‘Izzah (langit dunia) ke bumi kehati para Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Rasul SAW. Proses pewahyuan Ini ialah tahap terakhir yang bercahaya padanya kemnausiaan, secara keseluruhan, bagi semua manusia di bumi. Ia dibawa oleh malaikat jibril. Ia dinamakan al-Amin atau terpercaya kedalam hati Rasulullah SAW. Pewahyuan al-Qur’an dilakukan secara berangsur-angsur kurang lebih dalam masa 23 tahun, sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Termasuk dalilnya ialah:

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الاَ مِينِ ( الشعراء   

Artinya: “Turun dengannya (Al-Qur’an) malaikat jibril ke dalam hatimu (Muhammad), supaya engkau jadi pemberi nasihat, dari hadirat yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Malaikat Jibril, sebagaimana telah kami katakan, bahwa dia adalah pengantara. Diwahyukan Allah kepadanya Al-Qur’an menurut cara yang mengetahuinya hanya Allah saja dan siapa yang diizinkan-Nya mengetahuinya. Sudah itu, maka Jibril turun dengannya kepada Rasul SAW.

وقرانا فرقنه لتقراه على الناس على مكث ونز لنه تنزيلا

Artinya: “Al-Qur’an itu kami turunkan ia berangsur-angsur, supaya engkau (Muhammad) bacakan ia kepada manusia perlahan-lahan dan kami turunkan ia sebenar-benarnya atau kesemuaanya.

Editor: An-Najmi