Indonesia adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan beberapa perjuangan dari kaum perempuan. Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April adalah sebuah hari yang sangat sakral bagi seluruh perempuan di Indonesia. Raden Adjeng Kartini merupakan Tokoh Perempuan Emansipasi yang lahir di Kota Jepara. Beliau terkenal dengan Buku tulisannya berjudul “Habis Gelap, Terbitlah terang” , Hal ini Tentu juga mengingatkan kita pada perjuangan kedua adiknya. Bahkan hampir dalam catatan sejarah sangat melupakannya jasa dan perjuangan kedua adik RA. Kartini, mempunyai dua adik yakni: RA. Kardinah, dan RA. Roekmini.
Mengenal Sosok RA Kardinah
Salah satu adik RA. Kartini adalah RA Kardinah, siapakah beliau? RA. Kardinah merupakan istri dari Raden Mas (RM) Rekso Harjono; Patih Pemalang yang kemudian dipromosikan menjadi Bupati Tegal yang mempunyai gelar Reksonegoro X pada tahun 1908. Bersama dengan Kartini dan Roekmini, putri Bupati Sosroningrat tersebut merupakan putri bupati. Beliau terlahir pada hari Selasa pahing, 30 Maulud 1311 atau 1 maret 1881. Darah biru membuatnya menyandang gelar Raden Ajeng sebagaimana layaknya seorang putri bupati, yakni putri seorang bupati Jepara R. Arya Sosroningrat. Sejak kecil Kardinah mendapatkan pendidikan rakyat modern. Dia mendapatkan pendidikan ala Belanda. Kecerdasan dan kesempatan yang dimilikinya tersebut membuat kemampuan baca-tulis, termasuk juga bahasa Belanda sebagai salah satu ciri masyarakat elit yang dikuasai dengan baik. (Dilansir dari: Daryono.2014:126)
RA. Kardinah pun harus mengikuti suaminya pindah ke Tegal. Nah, saat beliau sampai di Tegal kemudian mendirikan sebuah sekolah untuk mendidikan para masyarakat pribumi. Hal ini beliau dedikasikan karena RA Kardinah tidak puas dengan pemerintah Belanda yang membatasi pendidikan pada kaum pribumi. Pada saat itu hanya orang-orang dari kalangan atas saja, terutama laki-laki, yang boleh bersekolah tinggi.
Selanjutnya, RA. Kardinah bersama kakak laki-lakinya, Raden Sosrokartono, mendirikan sebuah perpustakaan dari dana swadaya bernama “Panti Sastra”. Sama seperti ketika membangun sekolah, tujuan mulia Kardinah ini dimaksudkan agar siapa saja bisa mencicipi pendidikan; terutama bagi masyarakat kelas bawah. Dan hebatnya lagi, perpustakaan ini tidak dibangun dengan pembiayaan Pemerintah Belanda. Akan tetapi dengan biaya swadaya dan uang pribadi miliknya.
Emansipasi Perempuan RA Kardinah
RA. Kardinah yang namanya sekarang diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Daerah Umum Kardinah Kota Tegal. Jadi pada tahun 1927, Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan Kardinah Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kardinah. Pendirian rumah sakit itu karena rasa simpatinya pada kesehatan masyarakat miskin di Tegal. Dana pembangunan rumah sakit ini pun dari royalti penjualan buku-bukunya dan ditambah dari hasil penjualan kerajinan tangan murid-murid Wisma Pranowo. RA. Roekmini, lahir pada 4 Juli 1880, Beliau bergabung dengan organisasi pejuang hak pilih perempuan Eropa bernama Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht (VVV).
Emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan yang berkaitan dengan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Emansipasi itu harus memberikan hak yang sepantasnya diberikan kepada seseorang atau kumpulan orang yang telah dirampas atau diabaikan sebelumnya.
Dalam artikel yang berjudul Kardinah Sisi Kemanusian dari Tiga Serangkai. Dalam penulisan tersebut berisikan tentang garis perjuangan RA. Kardinah dibentuk oleh RA. Kartini dengan pola kehidupan seharihari dalam masyarakat jawa, yaitu sisi kemanusiaan Tiga Serangkai tertanam pada RA. Kardinah dan Roekmini seorang adik yang senantiasa hormat kepada kakanya, adik-adik RA. Kartini mulai keluar dari adat feodal setelah menikah dan mampu menata kembali cita-cita Tiga Serangkai, RA. Kardinah adalah bentuk nyata dari cita-cita Tiga Serangkai yang selama ini menjadi impiannya. Pemikiran Kardinah juga banyak dipengaruhi Kartini, yaitu dengan pendidikan maka pola pikir masyarakat tidak akan menjadi feodal.
Perempuan dalam Perjuangan
Yono Daryono beranggapan bahwa perjuangan emansipasi wanita bukan hanya Kartini saja yang dikenal, tetapi Kardinah juga. Ia sebagai tokoh emansipasi dalam menyejahterkan masyarakat Tegal, yaitu dengan mendirikan sekolah kepandaian putri Wismo Pranawa dan rumah sakit Kardinah. Persamaan nasib dan cita-cita menjadikan Kardinah tetap berpegang teguh untuk mewujudkan cita-citanya. Sehingga muncul pergolakan batin setelah Peristiwa Tiga Daerah menghilang dan kembali lagi setelah dicari oleh Bu Sarjoe istri walikota Tegal tahun 1967-1979 (Dilansir dari Daryono, 2014 : 116)
Caroline Moser dalam Moser framework menganggap, bahwa kebanyakan masyarakat, perempuan memiliki tiga peran. Yakni dalam mengurusi kegiatan-kegiatan produktif, reproduktif dan pengaturan masyarakat, sedangkan laki-laki mengurusi kegiatan produktif dan politik dalam masyarakat. Kerja reproduktif sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia dan pelestarian reproduktif angkatan kerja. Namun, hal itu jarang dianggap sebagai pekerjaan yang benar-benar pekerjaan. Di masyarakat miskin pekerjaan reproduktif adalah kerja kasar yang intensif dan menyita waktu.
Hal-hal tersebut hampir selalu menjadi kewajiban para perempuan dan anak-anak perempuan melibatkan produksi barang dan jasa untuk dikonsumsi dan diperdagangkan berupa hasil pertanian dan perikanan. Pekerjaan produktif perempuan seringkali lebih tidak terlihat dan lebih tidak dihargai, jika dibandingkan produktif laki-laki. Melibatkan pengorganisasian kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas sosial secara bersama dalam masyarakat dapat meningkatan partisipasi dalam kelompok dan organisasi kegiatan politik.Namun, jenis pekerjaan ini jarang dipertimbangkan atau dilihat dalam analisis ekonomi suatu masyarakat. Jenis pekerjaan ini melibatkan perkembangan spiritual dan budaya masyarakat dalam kegiatan pengaturan penentu nasib masyarakat, baik perempuan atau laki-laki (Dilansir dari Soekanto,2009 :305).
Perempuan sebagai Penentu Nasib
Kegiatan-kegiatan yang ditangani oleh perempuan di tingkat masyarakat. Sebagai peluasan dari peran reproduktif mereka untuk menjamin ketersediaan dan pelestarian sumber-sumber daya konsumsi kolektif. Seperti air, perawatan kesehatan, dan pendidik Kegiatan-kegiatan yang ditangani oleh perempuan di tingkat masyarakat. Yaitu sebagai peluasan dari peran reproduktif mereka untuk menjamin ketersediaan dan pelestarian sumber-sumber daya konsumsi kolektif seperti air, perawatan kesehatan, dan pendidikan.
Kegiatan yang ditangani oleh laki-laki pada tingkat masyarakat, pengaturan pada tingkat politik formal yang seringkali berada dalam suatu kerangka politik nasional. Pekerjaan ini biasanya dibayar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pekerjaan laki-laki terlihat lebih sedikit dalam pekerjaan reproduktif dibandingkan perempuan yang mengerjakan hampir sernua pekerjaan reproduktif dan banyak pekerjaan produktif (Dilansir dari Soekanto,2009: 306).
RA. Kardinah dan Ayat Al-Qur’an
Melihat perjuangan serta kerja keras RA. Kardinah apakah ada erat kaitannya di dalam Al-Quran mengenai emansipasi yang di lakukannya?
Perempuan merupakan mahluk yang memiliki segudang kemuliaan. Hal ini telah dijelaskan dalam ayat Al-Quran yang menyebut bahwa perempuan sebagai mahluk yang setara dengan laki-laki. Jika banyak orang berpendapat bahwa perempuan hanyalah mahluk kelas dua. Ayat Al-Quran justru membantah pendapat tersebut dalam suatu konteks tertentu.Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:
اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
Artinya: ‘’Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya. Laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar. Kemudian Laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya. Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah. Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.’’ (QS. Al- Ahzab: 35)
Kesimpulan
Kesuksesan dalam diri seseorang sesungguhnya adalah ketika kita mampu memberi manfaat bagi orang lain. Dan ketika kita bisa berguna bagi orang lain, salah satu caranya adalah dengan membagikan pengalaman kita tanpa harus membuat orang tersebut mengalaminya dahulu. Sehingga, pembelajaran hidup kita tidak hanya berhenti di kita saja, tapi juga bisa dipelajari orang banyak. Sosok RA. Ajeng Kardinah memberikan kita banyak pengalaman dan pengetahuan dalam perjuangannya mendidik dan mengorbankan seluruh kehidupannya untuk kegiatan sosial. Pada akhirnya kita dapat mengambil pelajaran dari seorang wanita memiliki hak yang sama seperti halnya laki laki. baik dalam pendidikan, pekerjaan ataupun yang lainnya.
Namun, juga harus sesuai dengan derajat seorang wanita sebagai seorang Muslimah. Yakni dapat menyesuaikan dengan tugas sebagai seorang istri atau ibu rumah tangga dan sekiranya tidak dapat memberikan mudharat yang besar. Karena sesungguhnya didalam Al-Quran terdapat banyak solusi yang paling ideal bagi kehidupan sepanjang masa. Dan yang terpenting adalah jangan menutup diri dari kemungkinan untuk terus belajar. Belajarlah dari setiap kejadian dan kenyataan yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Semoga bermanfaat.




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.