Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Millah Ibrahim: Kerangka Keberagamaan dan Implementasinya

millah
Sumber: https://voxpop.id/

Sosok Nabi Ibrahim dikenal dengan sebutan  Abul Anbiya’ atau bapak para Nabi. Julukan tersebut muncul karena banyak keturunan dari Nabi Ibrahim lahir para Nabi dan Rasul yang menjadi pemimpin umat. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abi Ammar bin Syaddad dikatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan keturunan Nabi Ismail yang tidak lain anak dari keturunan Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim AS dipilih oleh Allah SWT sebagai pembawa risalah ketauhidan yang murni karena memiliki keimanan dan ketundukan yang luar biasa kepada Allah. Dan oleh sebab itu, Allah SWT memilih Nabi Ibrahim sebagai tonggak kerangka dasar ketauhidan yang nantinya terpancar agama Islam yang kita yakini sampai sekarang.

Penjelasan millah Ibrahim disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 130-134. Mengandung pesan bahwa nilai tauhid merupakan fondasi kerangka keberagamaan agama-agama yang menginduk pada millah Ibrahim. Karena agama-agama sebelum datangnya Islam yakni Yahudi dan Nasrani, pada awalnya adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim yang berakidah tauhid. Sebelum agama-agama tersebut pada masa Nabi Muhammad SAW, amalan mereka tidak sesuai lagi dengan ajaran (millah) garis keturunan Nabi Ibrahim AS.

Hal ini disampaikan oleh Ustad Aly Aulia, Lc. M.Hum dalam pengajian tarjih edisi 120, pembasan Tafsir At-Tanwir surah al-Baqarah ayat 130-134. Pengajian yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh jemaah online melalui virtual zoom meeting dan streaming youtube (3/3/21).

Tafsir At-Tanwir Surah al-Baqarah ayat 130-131

Pada ayat 130 dijelaskan, Allah SWT telah memilih Nabi Ibrahim di dunia sebagai Rasul dan di akhirat akan termasuk orang-orang saleh yang dekat dengan Tuhannya. Sehingga adapun orang-orang yang berpaling dari ajaran Nabi Ibrahim AS ialah orang-orang yang merendahkan derajat kemanusiaan dan akalnya sendiri. Maka menurut Ustad Aly aulia, dalam ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim adalah manusia pilihan yang menjadi pemimpin dan teladan bagi umat manusia.

Baca Juga  MAARIF Institute dan P3M Gelar Pelatihan Literasi Digital untuk Ulama Muda

“Tafsir At-Tanwir dalam ayat ini menjelaskan, bagaimana Allah SWT memilih dan menyucikan Nabi Ibrahim menjadi imam/pemimpin yang memiliki kriteria kebaikan untuk generasi selanjutnya. Dan Nabi Ibrahim pun lulus akan ujian yang telah Allah berikan. Karena itu ia menjadi teladan bagi umat manusia dalam ketaatannya, ketundukannya dan kepasrahan kepada Allah SWT”, jelasnya.

Selanjutnya ayat 131, Ustad Aulia mengatakan ayat ini menjelaskan bahwa berserah dirinya (aslim) Nabi Ibrahim telah memenuhi perintah Allah untuk tunduk kepada-Nya. Berdasarkan ini pula dengan kesalehan sosial dan spritualnya baik pemikiran serta perenungannya, Nabi Ibrahim telah menemukan Tuhan yang bukan bangsa tertentu, tetapi Allah SWT Tuhan semesta alam. Maka inilah yang dinamakan ketundukan totalitas.

Tafsir At-Tanwir Surah al-Baqarah ayat 132-133

Pada ayat 132 dan 133, menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim tidak hanya melaksanakan perintah dengan tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT. Namun, Nabi Ibrahim juga memikirkan generasi penerusnya untuk meniti jalan yang sama yaitu dengan mewasiatkan ketauhidan kepada anak cucunya. Allah SWT pula menganugerahkan Nabi Ibrahim mempunyai keturunan-keturunan yang tunduk dan patuh kepada-Nya, salah satunya Rasulullah SAW yang merupakan keturunan Nabi Ismail yang menghuni Mekkah.

Ustadz Aly Aulia mengatakan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad adalah pembimbing dan teladan bagi kita. Oleh karena itu, Ustadz Aly juga menyampaikan hendaknya kaum muslimin menjadi teladan di kalangan umat manusia dan saksi terhadap kebenaran agama Allah.

“Ini yang disebut sebagai implementasi dalam fondasi keberagaman milah Ibrahim. Jadi ketundukan yang luar biasa dan penyerahan yang luar biasa. Bagaimana sosok Ibrahim memperlihatkan sosok ketauladanan dan contoh kepada anak cucunya”, jelasnya.

Selain itu ayat ini menegaskan bahwa Ibrahim, Ya’kub, Ismail dan Ishaq bukanlah Yahudi, melainkan penganut keyakinan agama tauhid yaitu pada kalimat ilahan wahidah. Tetapi orang Yahudi dan Nasrani tetap menganggap mereka sebagai Yahudi dan Nasrani.

Baca Juga  Piet Hizbullah Sebut IMM Ushuluddin Kembali Hidupkan Tradisi Islam Mazhab Ciputat

Tafsir At-Tanwir Surah al-Baqarah ayat 134

Terakhir ayat 134, Direktur Mu’allimin Yogyakarta ini juga menyampaikan kata ummah pada ayat ini bermakna kelompok orang yang diikat oleh suatu persamaan, misalnya suku, bangsa, bahasa, ideologi dan agama. Kesamaan ini terikat pada kesamaan akidah tauhid yaitu Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Ya’qub serta anak cucunya adalah satu umat.

“Maka dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa tauhid merupakan kerangka keberagamaan agama-agama yang menginduk pada millah (ajaran) Nabi Ibrahim AS”, jelasnya.

Di samping itu Ustadz Aly juga menyampaikan dalam ayat ini bahwa keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah milik orang beriman dan beramal shaleh. Jiwa mereka tenram, serta tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT, sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim dan nabi-nabi sesudahnya sampai Nabi Muhammad SAW.

Reporter: An-Najmi Fikri R