Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengkaji Ayat-Ayat tentang Bidadari dalam Perspektif Al-Qur’an

bidadari
Sumber: m.caping.co.id

Sebagaiman Allah SWT telah menjanjikan bahwa bidadari surga bagi setiap hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Bidadari berada di surga, sebagai tempat terindah yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT bagi hamba-Nya yang lulus dari cobaan kehidupan di dunia. Dan bidadari diciptakan tanpa celah, tiada bandingannya jika bersanding dengan perempuan-perempuan di dunia.

Perihal penggambaran bidadari surga, mengkin logika manusia tidak akan mampu untuk melukiskannya. Bidadari yang menyinari dunia jelas berbeda dengan matahari yang sinarnya masih mampu menggelapkan sebagian wilayah bumi. Jadi bidadari adalah makhluk yang sangat cantik dan rupawanyang telah diciptakan oleh Allah SWT sebagai kenikmatan di surga bagi para penghuninya.

Gambaran Bidadari Surga dalam Al-Qur’an

  • Perempuan Suci

Dalam surah Al-Baqarah ayat 25 telah menjelaskan bahwa bidadari surga adalah perempuan suci yang tidak mengalami menstruasi, nifas, buang air kecil – besar, meludah, keluar ingus, ataupun kotoran lainnya. Selain itu hatinya suci dari akhlak buruk, lisannya terjaga dari kata-kata kotor.

  • Berbadan Indah dan Sebaya

Bidadari surga berdasar surah An-Naba ayat 31-33, menggambarkan perumpamaan mereka berbadan indah dan diciptakan dengan umur yang sebaya pada usia puncak kematangan sekira usia 33 tahun. Mereka adalah gadis-gadis yang diciptakan selalu perawan yang sama umurnya dan tidak pernah tua.

  • Menjaga Kehormatan Diri

Para bidadari surga adalah perempuan-perempuan yang selalu menjaga kehormatan dirinya, tidak memandang laki-laki kecuali suami mereka. Ibarat Mutiara yang tersimpan, bermata indah, lebar, dan berbinar. Ini semua termaktub dalam surah Ash-Shaffat ayat 48-49.

  • Harumnya Semerbak

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,digambarkan bahwa bidadari penghuni surga baunya harum semerbak. Bisa diibaratkan seorang bidadari surga bila diturunkan ke bumi, maka harum tubuhnya akan memenuhi langit dan bumi.

Baca Juga  Tafsir Q.S. Al-Mu’minun Ayat 27: Hikmah Peristiwa Banjir Nabi Nuh

Ayat-ayat tentang bidadari dalam perspektif Al-Qur’an

Lafad yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan pendamping di surga – bidadari sangat beragam. Lafad-lafad tersebut diantaranya hur’in, qasiratu tarf, kawaiba atraba, khairatun hisan, lu’lu al-maknun,abkara,baidu maknun, ‘uruban atraba, dan azwajun muthaharatun. Lafad tersebut tersebar dalam beberapa surah dalam Al-Qur’an diantaranya Q.S Shad : 52, Al-Waqiah : 22, Ash- Shaffat : 48-49, Ad-Dukhan : 54, At-Thur : 20, An-Naba : 33, Al-Baqarah : 25, Ali Imran : 15, An-Nisa : 57, dan Ar-Rahman : 56.

Tetapi perbedaannya dari lafad hur’in yang mewakili lafad yang telah diturunkan di Makkah, dan lafad Azwajun muthaharatun yang mewakili lafad yang diturunkan di Madinah. Lafad hur’in  dalam Q.S Al-Waqiah : 22

وَحُورٌ عِينٌ

Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah

Lafad Azwajun muthaharatun salah satunya dalam Q.S Al-Baqarah : 25 :

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu’. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan disana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”

Pendapat Mufasir Klasik

At-Thabari memaknai lafad hur’in dengan perempuan yang memiliki mata putih bersih, kulit bersih dan  memiliki bola mata lebar yang sangat indah. Terdapat dalam kitab At-Thabari, bahwa nanti orang-orang yang masuk surga dinikahkan dengan bidadari yang bermata putih, tulang betisnya terlihat dibalik busana yang dikenakan. Bahkan, orang bisa melihat wajahnya dari balik jantung karena kulitnya yang bersih dan tipis (Jami’ al-Bayan, Juz 22, 51)

Sementara itu, lafad Azwajun muthaharatun ditafsirkan At-Thabari dengan sosok perempuan yang memiliki kesucian dari segala kotoran yang ada pada kaum perempuan di dunia. Kotoran tersebut seperti menstruasi, nifas, buang air kecil maupun besar, dan segala sesuatu kotoran.

Baca Juga  Bolehkah Mengkonsumsi Khamar untuk Pengobatan?

Pendapat Mufasir Modern Kontemporer

Pada masa modern-kontemporer, ayat tentang bidadari ditafsirkan apa adanya sesuai lafadnya, akan tetapi beberapa tafsir seperti tafsir Al-Misbah menjelaskan keterangan lebih lanjut mengenai pemaknaan bidadari surga. Menurut Quraish Shihab lafad hur’in berasal dari lafad Haura yang bisa dimaknai sebagai sesuatu yang maskulin.

Dan menurut Quraish Shihab Azwajun muthaharatun adalah pasangan yang berulang kali disucikan dari segala jenis kotoran. Pengertiannya disini bahwa laki-laki dan perempuan memiliki pasangannya masing-masing. Penyucian dalam lafad tersebut bukan hanya dari haid, melainkan dari segala yang mencakup kotoran jasmani dan jiwa seperti halnya dengki, cemburu, bohong, khianat dan sebagainya.

Sementara itu, mufasir klasik menyuguhkan konstruksi penafsiran yang terkesan diskriminatif terhadap perempuan dalam perspektif gender. Menurut beberapa aktifis gender dalam beberapa tafsir panjang lebar menjelaskan sifat dan karakteristik kecantikan bidadari tanpa memperhatikan konteks ayat saat diturunkan.

Seiring perkembangan zaman pada saat ini, kesadaran kesetaraan laki-laki dan perempuan lebih disuarakan, oleh sebab itu penafsiran bidadari pun mengalami perkembangan.  Beberapa pengkaji Al-Qur’an mulai memperhatikan aspek-aspek baru dalam memahami ayat Al-Qur’an terutama disini terhadap konsep bidadari

Amina Wadud mencoba membaca ulang ayat-ayat ini dengan pendekatan hermeneutik berkeadilan gender. Gambaran mengenai teman disurga bagi kaum beriman dimunculkan dalam tiga tingkatan. Pertama, sebutan hur al-ayun yang berarti pasangan untuk laki-laki beriman (bidadari). Kata ini mencerminkan tingkat berpikir Makkah Jahiliyyah. Kedua, istilah zawj yang menggambarkan periode Madinah yang bermakna pasangan yang diidamkan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dan ketiga, al-Qur’an menyebutkan sesuatu yang melebihi kedua peringkat sebelumnya yaitu kedekatan di sisi Allah SWT.

Demikian ragam pemaknaan bidadari surga dari tafsir klasik hingga modern-kontemporer. Hal tersebut menjelaskan kepada kita proses usaha manusia untuk memahami kalam ilahi, ilmu Allah SWT yang tiada batas. Sebenarnya masih banyak diskusi perihal bidadari surga ini, namun penulis ingin menjelaskan dalam suguhan yang singkat, setidaknya sebagai pemantik diskusi selanjutnya.

Baca Juga  Risalah Keadilan Dalam Al-Qur'an

Wallahu’alam.

Editor: An-Najmi