Dalam rangka menyambut milad 1 tahun, tanwir.id mengadakan webinar tafsir dengan tema “Pengarusutamaan Tafsir Maqashidi di Dunia Digital”. Acara ini mengundang dua narasumber ahli, Prof. Abdul Mustaqim, guru besar ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, serta Dr. Hamim Ilyas, wakil ketua majlis tarjih pp Muhammadiyyah.
Tafsir Maqashidi dan Media Digital
Belakangan ini, tafsir maqashidi mulai marak didiskusikan. Namun, banyak pula yang belum memahami, apa dan bagaimana metode tafsir ini. Melihat fenomena ini, tema ini menjadi penting untuk diangkat dan diperbincangkan lebih lanjut.
Di sisi lain, perkembangan tafsir semakin mengikuti zaman. Terlebih, media tafsir di era digital ini menjadi beragam. Produk tafsir tidak hanya disampaikan melalui kitab saja, melainkan melalui aneka platform digital, seperti youtube, website, telegram, whatsup dan media lainnya. Artinya, semakin mudah mengakses dan menyebarkan tafsir Al-Qur’an.
Namun, dengan kemudahan ini banyak pula dampak yang negatif. Yaitu tatkala mereka yang tidak mendalam ilmunya menjadi figur yang menyampaikan tafsir Al-Qur’an. Alih-alih menyampaikan tafsir yang maslahat, justru mereka menyampaikan nilai-nilai yang bersebrangan dengan tujuan utama Al-Qur’an. Di sinilah pentingnya memahami maksud-maksud utama (maqāshid) dari Al-Qur’an.
Sekelumit Tentang Tafsir Maqashidi
Berkenaan dengan definisi, Prof. Mustaqim menerangkan secara bahasa dan istilah. Menurutnya, tafsir maqashidi adalah satu dari model penafsiran Al-Qur’an yang selain membahas makna teks, juga menggali maksud di balik teks, baik secara partikular ataupun universal. Secara sederhana, tafsir maqashidi adalah tafsir yang bergerak dari menjelaskan cara (kaifiyyah al-Wasfiyyah) menuju menjelaskan maksud (maqāshidiyah al-Ghāyatiyah) ayat.
Kemudian, ia menjelaskan contohnya. Menjelaskan ayat salat atau puasa, tafsir maqashidi tidak berhenti pada bagaimana cara salat dan puasa. Melainkan, bergerak menuju apa tujuan dari salat dan puasa. Misal, salat bertujuan mencegah perbuatan keji dan untuk mengingat Allah. Kemudian mengingat Allah agar hati tenang. Begitu pula dengan puasa, tujuannya agar bertakwa. Seperti itu penjelasan ringkas dari Prof. Mustaqim.
Selain itu, ia juga menjelaskan tentang 5 nilai fundamental maqashidi. Pertama, keadilan. Kedua, kesetaraan. Ketiga, moderasi. Keempat, kemanusiaan. Kelima, kebebasan disertai dengan tanggung jawab. Adapun adapula lima aspek penting yang disebut dengan ushulul khamsah yang berkaitan dengan maksud dalam syariat.
Secara umum, Al-maqāshid Asy-Syarī’ah memiliki lima pokok. Lima pokok itu adalah menjaga akal (hifdz al-‘aql), menjaga agama (hifdz al-Dinn), menjaga keturunan (hifdz al-Nasl), menjaga jiwa (hifdz an-Nafs) dan menjaga harta (hifdz al-Māl).
Yang menarik, ia menjelaskan bahwa pentingnya menjaga agama. Satu dari tindakannya adalah dengan menghargai kebebasan beragama orang lain. Artinya, kita tidak boleh menghina agama orang lain. Bahkan kita harus menghormati apa yang menjadi kehormatan bagi agama lain. Karena, hal ini, hematnya, dapat menjaga kerukunan umat beragama dan memberi maslahat bagi setiap pemeluk agama.
Tujuan Utama Al-Qur’an
Setelah Prof. Mustaqim, kini giliran Dr. Hamim yang merespon tafsri maqashidi. Menurutnya, tafsir maqashidi adalah tafsir yang otentik dalam Islam dan digunakan oleh Al-Qur’an. Dengan demikian, tafsir maqashidi menjadi penting untuk dikaji dan dikembangkan kedepannya.
Betapapun ia setuju dengan tafsri maqashidi, ia memberi catatan penting. Poin ini terkait denga napa sebenarnya maksud dari tafsir maqashidi, apa tujuannya. Sejauh yang ia kaji, selama ini tafsir maqashidi hanya berputar-putar pada kajian saja. Dengan begitu, harus ada tujuan umum yang jelas menjadi pedoman tafsir maqashidi. Artinya, harus menjadi kenyataan hidup yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, ia mejelaskan bahwa tujuan utama Al-Qur’an adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’ālamin). Kemudian, ia menjelaskan dengan merujuk kepada kamus, kitab hadith dan ayat Al-Qur’an. Secara umum, ayat ini harus menjadi tujuan utama dari setiap penafsiran Al-Qur’an. Namun, pertanyaannya ap aitu rahmat bagi alam semesta?
Secara global, rahmat adalah cinta yang diekspresikan untuk memenuhi kebutuhan yang dicintai. Dalam konteks ini adalah al-‘ālamin. Adapun al-‘ālamin, secara bahasa berarti yang dengannya sesuatu diketahui. Sementara secara istilah, adalah segala sesuatu selain Allah. Dengan demikian, konsekuensi dari diturunkannya Al-Qur’an adalah dengan memenuhi kebutuhan seluruh makhluk-Nya.
Nah, kebutuhan utama segala sesuatu adalah hidup yang baik, damai dan sejahtera. Baik hidup baik dari sisi fisik maupun sisi batin. Oleh karena itu, penafsiran maqashidi harus melahirkan produk yang memberi maslahat, kehidupan yang baik untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Begitu kira-kira penjelasan dari Dr. Hamim Ilyas.
Tantangan Tafsir Maqashidi di Era Digital
Setelah kedua narasumber mengurai dan mengelaborasi, muncul pertanyaan dari peserta soal bagaimana menyederhanakan tafsir maqashidi. Mengingat, di media digital perlu ada penyampaian yang sederhana, mudah dipahami dan kontekstual. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi penafsiran di dunia digital.
Prof. mustaqim merespon, bahwa baginya memang perlu ad acara khusus untuk menyederhanakan istilah dan penyampaian dari tafsir ini. Hematnya, memang belum memiliki konsep untuk mempermudah penjelasan, namun car aitu harus digali dengan pintar melihat konteks dan audience.
Terlepas dari itu, prinsip utama dalam menyampaikan tafsir adalah tidak mengina orang lain. Kemudian, harus berbicara sesuai dengan kadar kemampuan pendengar. Dan ini merupakan kunci dari berhasilnya dakwah para nabi kepada umatnya.
Alhasil, diskusi ini berjalan lancar dan direspon baik oleh para narasumber dan peserta. Acara ini semoga menjadi diskusi yang “profokatif” bagi para peserta untuk terus mengkaji dan mengembangkan tafsir maqashidi. Dan yang terakhir, semoga tanwir.id menjadi kanal tafsir yang dapat mencerahkan semesta bersama Al-Qur’an.
Bagi Anda yang ingin melihat diskusi ini, silahkan kunjungi kanal youtube tanwir.id dengan mengikuti, klik di sini.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.