Al-Qur’an juga sangat memperhatikan hubungan (sebelum dan sesudah) antara satu huruf dengan huruf lainnya. Antara satu ayat dengan ayat lainnya, agar interpretasi yang dilakukan tidak terburu-buru pada kesimpulan penafsiran yang menguraiakan tentang munasabah. Persoalan yang berpusat pada susunan dan urutan penutup ayat dengan isi kandungan ayat di dalam mushaf. Karena adanya keterkaitan antara ayat Al-Qur’an yang memiliki kandungan isi terhadap ayat tersebut. Contohnya di dalam Qs. At-tin
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ. وَطُورِ سِينِينَ. وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ. فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ. أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Artinya : “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?, Bukankah Allah hakim yang paling adil?”
Allah memberikan penetapan terhadap apa yang dikandung di dalam surah tersebut; berupa kenabian, tauhid, dan persoalan akhirat yang menjadi tempat kembali manusia. Allah telah membuat keputusan tentang apa yang termasuk dalam bab-bab berupa Nabi, Tauhid dan urusan akhirat kembalinya manusia. Al-Qur’an memiliki adanya keterkaitan antara ayat-ayat itu sendiri, menemukan semantik terindah dari bahasa yang ada. Kehadiran munasabah dalam konteks tafsir dan sifatnya telah memicu berbagai komentar yang saling bertentangan. Namun, pada akhirnya diakhiri dengan kesepakatan “peringatan” yang menyerukan kehati-hatian saat menghubungkan ayat atau surat.
***
Dalam Tafsir Ruhul Ma’ani di jelaskan bahwa (والتين والزيتون); merupakan sebuah kelompok diriwayatkan dari Qatada bahwa yang pertama adalah gunung tempat Damaskus berada. Dan yang kedua adalah gunung tempat baitul maqdis berada. Dan dikatakan menurut apa yang dibawa Saeed bin Mansour dan Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Abi Habib Al-Harith bin Muhammad, untuk yang pertama, buah tin, dan yang kedua, buah zaitun, karena keduanya tumbuh padanya buah tin dan zaitun. Di dalam Al Kasysyaf dikatakan karena dia memisahkan 2 keberkahan dari tanah suci yaitu duniawi dan agama dengan menyebutkan dua pohon atau buahnya, dan Ath Thur (thursina) di mana Musa diseru (oleh Allah) darinya.
Dan pendapat ijma’ menggantikannya dengan “demi bumi yang di berkahi” dengan mengambil teori kinayah. Sehingga tampaklah tanasub (munasabah) didalam Athaf ( و ) dengan jelas; ketika kata “balad”(negara) di-athafkan pada bagian yang ke 3 seolah-olah dia individu ( berdiri sendiri) dengan pertimbangan ini, seolah-olah itu dikatakan. Demi tanah yang kami berkahi dalam agama dan di dunia, demi Balad Amin dari memasukinya di dua tempat (mekah & madinah), dan itu adalah keberkahan yang tanpanya setiap keberkahan akan berkurang, dan termasuk juga di dalam keberkahan tempat tersebut adalah dengan pertolongan Allah terhadap Musa selama beberapa hari, dan berapa banyak yang telah diselamatkan oleh Allah di negara yang aman yaitu (mekah).
***
Pada firman Allah لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ yang dimaksud manusia adalah jenis nya, bersifat umum untuk orang yang beriman dan kafir, tidak khusus untuk yang kedua. Yang menunjukkan hal tersebut (dalilnya) adalah adanya pengecualian (pada ayat setelah nya); yang pada dasarnya saling bersambung/memiliki hubungan. Dan firman Allah فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ Adalah keadaan dari manusia dari bentuk nya yang sebaik-baik bentuk, diberikan kecerdasan dan keadilan.
Dan itu adalah perbuatan Tuhan Yang Maha Esa, jadi makna manusia dalam hal itu adalah seperti yang dikatakan bahwa dia memiliki nya hal tersebut. Mirip dengan perkataan Anda fulan dalam keridhaan Zaid dalam artian bahwa dia senang dengannya, Al-Khafaji berkata, “Ini ditafsirkan dalam arti kekuatan atau perhitungan, dan didalamnya terdapat mudhaf muqaddar, yaitu bentuk dengan sebaik-baik bentuk, atau dalam penambahan dan yang mengikutinya, di posisi objek absolut (maf’ul muthlaq), maka dia menggantikan di dalamnya sifat asal yang dimilikinya.
Taqdirnya adalah: kami bentuk dia dalam bentuk yang terbaik, dan yang dimaksud dengan itu adalah menjadikan yang terbaik dari bentuk tubuhnya dan maknanya (sifatnya), jadi termasuk di dalam nya (yg mereka miliki) dari Tegaknya perawakan, tubuh yang baik, akal, kualitas pikiran, dan sebagainya. (Tafsir Ruhul Ma’ani, Imam Al-Alusi). Sedangkan di akhir ayat Qs At-Tin, ayat tersebut merinci apa yang terkandung dalam surat tersebut berupa para nabi, tauhid, dan pertanyaan akhirat tentang kembalinya manusia. Berisi informasi tentang Allah menolong Rasul-Nya dari orang-orang yang mengingkari dan menentang-Nya dan berisi informasi tentang penghakiman Allah di akhirat.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.