Kebahagiaan meruapakan tujuan besar yang ingin diperoleh setiap manusia dalam kehidupannya. Sebagian besar manusia hidup akan berusaha seamaksimal mungkin supaya kebahagiaan yang mereka impikan dapat terwujud. Mereka akan menghalalkan segala cara supaya bisa terhindar dari kecemasan yang berlebihann ataupun hal-hal lain yang bisa menghambat misinya dalam memperoleh kehidupan dengan suasana tenang dan damai agar selalu bertemu dengan kebahagiaan. Oleh karena itu, pada zaman milenial ini orang-orang yang menjadikan stoikisme sebagai prinsip hidup sudah tidak jarang ditemukan. Lalu, bagaimana sebenarnya kebahagian yang dimaksud oleh al-Qur’an dan filsafat stoikisme?
Konsep Kebahagiaan Menurut Al-Qur’an
Agama dan filsafat merupakan salah satu sumber yang digunakan oleh manusia; dalam menemukan kebenaran dalam kebahagiaan. Dilihat dari cara dan metode dianatara keduanya, tentunya terdapat perbedaan dalam menememukan kebenaran dalam kebahagiaan itu sendiri. Sudah dipastikan, agama memperioritaskan Kitab suci al-Qur’an sebagai kalam Tuhan; yang berfungsi menunjukkan manusia kepada hakikat kebenaran.
Secara umum, banyak sekali ayat al-Qur’an yang berbicara tentang prinsip hidup dengan kebahagiaan. Karena memang pada dasarnya, fungsi al-Qur’an sendiri memang sebagai petunjuk bagi manusia. Sedangkan filsafat menggunakan rasionalitas sebagai alat dalam menemukan kebenaran secara menyeluruh. Secara menyeluruh konsep kebahagiaan dalam al-Qur’an dan filsafat stoikisme meiliki perbedaan dalam pendekatan dan pemahaman. Tetapi, dalam mencapai tujuan kebahagiaan antara al-Qur’an dan Filsafat Stoikisme memiliki kesamaan konsep yang dapat dipertemukan.
***
Konsep kebahagiaan dalam Al-Qur’an dianjurkan untuk mengejar kebahagiaan akhirat dan ditekankan sebagai keadaan jiwa yang berasal dari hubungan yang benar dengan Allah SWT mencapai tujuan hidup yang mulia. Dalam upaya meraih kebahagiaan, sering kali kita keliru dalam membedakan mana kebahagiaan dan mana yang hanya sekedar kesenangan. Hal ini, menyebabkan kita terjebak pada kesenangan yang tidak kunjung menemukan kebahagiaan. Beberapa prinsip dan faktor yang menjadi syarat agar manusia mampu meraih kebahagaiaan yang diinginkan. Hal tersebut sudah disebutkan dalam al-Qur’an, antara lain:
- Iman dan takwa menjadi indikator utama dalam meraih kebahagiaan hidup, sebab iman dan takwa mampu membawa manusia untuk berorientasi kepada kebahagiaan yang hakiki. Bagi hamba yang sepenuhnya mampu melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya merupakan langkah menuju kebahagiaan yang sejati.
- Tawakkal (percaya sepenuhnya kepada Allah) mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup adalah takdir Allah, dan mengandalkan-Nya sepenuhnya untuk mencapai kebahagiaan dan keberhasilan.
- Ikhlas (ketulusan): Melakukan segala sesuatu dengan niat yang tulus dan murni untuk mendapatkan keridhaan Allah, bukan untuk mencari pujian atau pengakuan manusia.
- Sabar merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri, mentaati perintah Allah dalam menghadapi ujuan dan cobaan dari Allah SWT.
- Berbuat baik kepada sesama, memberikan manfaat kepada orang lain, berbagi dengan mereka yang membutuhkan, dan menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar dipercaya bisa menumbuhkan kebahagiaan dalam diri manusia.
***
Dalam perspektif al-Qur’an, kebahagiaan yang sejati adalah mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, di mana seseorang merasa tenang dan damai dengan kedekatan kepada Allah serta hidup sesuai dengan ajaran-Nya.
Konsep Kebahagiaan Menuurt Stoikisme
Konsep kebahagiaan dalam filsafat Stoikisme kebahaiaan dapat diperoleh dengan cara yang sederhana. Yakni manakala manusia dapat terbebas dari segala macam bentuk emosi negatif dan perasaan yang mengganggu. Dalam filsafat Stoikisme, kebahagiaan ditekankan sebagai keadaan jiwa yang didasarkan pada pemahaman dan penerimaan atas alam semesta dan nasib manusia. Stoikisme mengajarkan bahwa manusia harus menerima dengan lapang dada segala kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Kunci kebahagiaan dalam filsafat stoikisme adalah ketika manusia mampu terlepas dari segala macam jenis nafsu abstrak.
***
Stoikisme menuntun bahwa sebagai manusia, saat menjalani kehidupan kita harus mampu memisahkan sesuatu yang baik dari yang buruk; serta tetap fokus pada apapun yang dapat dikendalikan. Selain itu, stoikisme juga menuntut akan adanya rasa tanggung jawab; untuk tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berada diluar kendali dirinya. Beberapa prinsip dan ajaran yang terkait dengan kebahagiaan dalam Stoikisme antara lain:
- Stoikisme mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan hidup sesuai dengan alam dan mengikuti hukum alam semesta. Manusia harus menerima bahwa ada hal-hal di luar kendali mereka dan fokus pada apa yang dapat mereka kendalikan, yaitu sikap dan tindakan mereka sendiri. Dengan kita menerima nasib secara lapang dada maka akan tercapailah ketenangan dan kebahagiaan yang abadi.
- Stoikisme mendorong manusia untuk merenung dan merefleksikan hidup mereka, memahami nilai-nilai yang benar dan mengarahkan perhatian mereka pada hal-hal yang berharga secara moral. Didunia ini kita mengenal sesuatu yang bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kontrol. Fokus kepada hal yang tidak bisa kontrol justru akan menimbulkan kesedihan dan membawa kita pada kekecewaan. Sebaliknya, apabila kita fokus terhadap apa yang bisa kontrol maka akan menciptakan kebahagiaan pada diri.
- Stoikisme mengajarkan pentingnya memisahkan pikiran dan emosi. Manusia harus belajar mengendalikan emosi mereka dan menerima segala sesuatu dengan kedamaian batin. Karena, manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki hati nurani dan berakal budi.
- Kekayaan internal: Stoikisme menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak melulu tergantung pada kekayan materi. tetapi sebaliknya, kebahagiaan sejati dapat dicapai melalui kekayaan internal. Seseorang harus fokus kepada pengembangan kualitas dan nilai-nilai dalam diri mereka, bukan karena pencapaian materi atau penghargaan dari orang lain.
***
Pada dasarnya banyak kemiripan konsep antara al-Qur’an dan filsafat stoikisme terkait hakikat kebahagiaan. Sebab, al-Qur’an adalah petunjuk yang mendorong manusia untuk menggunakan akal sehatnya, terlihat pada kalimat afala tatafakkarun, afala ta’qilun, afala yatadabbarun, yang semua itu adalah jargon al-Qur’an terkait betapa pentingnya penggunaan akal. Filsafat memprioritaskan akal sebagai metode dalam memperoleh kebahagiaan dan hal ini memiliki titik temu dengan al-Qur’an yang mendorong pentingnya penggunaan akal.






























Leave a Reply