Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kisah Rasulullah Bermuka Masam dalam Surah ‘Abasa

Sumber: https://seeislamicsurah.blogspot.com/

Kisah Rasulullah bermuka masam, sepatutnya untuk dipahami secara menyeluruh. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di balik sikap Rasulullah yang mendapat teguran Allah. Sebab jika dikaji lebih lanjut, kisah ini justru semakin memunculkan kemuliaan akhlak yang terpatri dalam kepribadian Rasulullah. Beliau tak segan menyampaikan kisah ini kepada umatnya meski dalam keadaan beliau ditegur Allah.

Di sisi lain, hikmah surah ‘abasa menunjukan sisi manusia biasa yang ada pada diri Rasulullah saw yang bisa keliru, namun kekeliruannya tentu tidak akan dibiarkan dan senantiasa ditegur Allah. Meski pada hakikatnya, Rasululllah adalah seorang yang ma’shum. Namun adakalanya ijtihad beliau bisa keliru, sehingga turunlah wahyu yang meluruskan ijtihad beliau tersebut.

Kronologi Rasulullah Bermuka Masam

Kisah ini tidak sepatutnya didengar secara sepintas. Bahwa Rasulullah pernah bermuka masam, sama seperti kita, yang menunjukan bahwa beliau adalah manusia biasa. Pemahaman semacam ini perlu diberi tambahan pengetahuan, sebab ia baru melihat kisah dari luar dan cangkangnya, belum sampai menelusuri aspek historisnya dengan baik.

Yang menjadi alasan mengapa Rasulullah bermuka masam adalah sebagaimana dikatakan dalam surah ‘abasa ayat 2:

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى

Karena seorang buta telah datang (kepadanya).”

Para mufassir sepakat bahwa kisah ini berkenaan seorang yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Di dalam tafsir ath-Thabari diceritakan bahwa ketika itu nabi saw sedang berdakwah kepada para pembesar quraisy. Mendakwahi para pemuka kaum adalah sebagai bagian dari strategi dakwah, karena mereka adalah kuncinya. Bila mereka sampai masuk Islam, maka para pengikutnya pun akan melakukan hal yang sama.

Baca Juga  Mengapa Engkau Menangis?

Saat Rasulullah sedang fokus berdakwah itulah, Abdullah bin Ummi Maktum memotong pembicaraan seraya berkata “arsyidni”. Beliau meminta agar Rasulullah memberinya petunjuk. Konsentrasi nabi yang dipotong itulah yang membuat beliau bermuka masam dan berpaling. (Tafsir At-Thabari, 24/102).

Jika harus digambarkan, Rasulullah sedang berada di situasi momentum emas untuk mendakwahi pembesar quraisy yang jika berhasil, maka akan berdampak pada banyaknya yang akan masuk Islam. Namun momentum itu harus terganggu dengan kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum, sehingga Rasulullah pun merasa kesal. 

Penyebab Rasulullah Bermuka Masam

Mengajari Abdullah bin Ummi Maktum dapat dilakukan di lain waktu, sebab yang menjadi prioritas beliau saat itu adalah para pembesar quraisy. Rupanya, ijtihad beliau keliru. Kemudian turunlah surah ‘abasa yang menyampaikan teguran sekaligus pencerahan, bahwasanya seorang buta itulah yang justru lebih berhak mendapatkan ilmu dari pada para pembesar quraisy yang sombong. Ekspektasi Rasul terhadap pembesar quraisy pada akhirnya mendapat teguran Allah, bahwa tidaklah berdosa jika mendakwahi mereka namun mereka tetap kafir, karena hidayah adalah urusan Allah. Allah pun memberi tahu rasul bahwa tidak perlu melakukan pendekatan pada kaum kafir yang sombong dan angkuh.

Justru Abdullah bin Ummi Maktum perlu dijadikan perhatian Rasul, dengan sebab “wa amma man jaaka yas’a” yakni kedatangannya dengan usaha dan semangat menuntut ilmu serta “wa huwa yakhsa”, yakni penuh rasa takut kepada Allah. Sifat-sifat mulia ini dimiliki Abdullah bin Ummi Maktum hingga Rasul pun diberi teguran Allah karena tidak memperhatikannya.

Di sisi lain, Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan buta, sehingga menjadi sebuah permakluman ketika dia tidak mengetahui bahwa Rasulullah sedang sibuk mendakwahi para pembesar quraisy. Ia bahkan tidak mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah memotong pembicaraan.

Baca Juga  Dilema Hermeneutika dalam Tafsir al-Quran

Rasulullah Memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum

Dalam konteks ketika ditegur, itu artinya memang Rasulullah keliru sehingga Allah meluruskannya. Allah berfirman:

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan.”

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini untuk menyamakan antara pembesar maupun yang miskin dalam hal penyampaian ilmu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/322). Dengan kata lain, hikmah dari kisah ini adalah agar tidak pandang bulu dalam hal objek dakwah.

Tersampaikannya ayat ini menunjukan betapa Rasulullah adalah seorang yang amanah. Surah ‘Abasa yang hanya turun di hadapan Rasul seorang, dan seseorang membuatnya ditegur adalah seorang yang buta sehingga tidak mengetahui jika Rasul bermuka masam, sangat mungkin bagi Rasulullah untuk menyembunyikan ini. Namun yang dilakukan Rasul adalah tetap amanah menyampaikan wahyu, meski berisi teguran untuknya.

Sejarah mencatat betapa Rasulullah amat sangat memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Diantaranya sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Abdullah bin Ummi Maktum dipercaya Rasul menjadi kepala madinah selama nabi meninggalkan kota tersebut karena dua kali peperangan, padahal ia dalam keadaan buta, sebab ini adalah diantara bentuk penghargaan dan pemuliaan Rasul kepadanya. (Tafsir al-Baghawi, 8/332).

Itulah yang menyebabkan pentingnya memahami kisah ini secara utuh, agar tidak hanya fokus pada diksi manusia biasa yang disematkan kepada Rasul, serta memahami motif bermuka masam yang bukan karena keburukan akhlak beliau, melainkan karena ijtihadnya yang keliru.

***

Semenjak kejadian itu, di dalam tafsir al-Baghawi diceritakan bahwa setiap kali Rasul berjumpa dengan Abdullah bin Ummi Maktum, maka Rasul senantiasa memyambutnya seraya mengatakan:

مَرْحَبًا بِمَنْ عَاتَبَنِي فِيهِ رَبِّي

Selamat datang wahai orang yang Rabbku menegurku karenanya.” Tak lupa Rasul pun senantiasa menanyakan keperluannya. (Tafsir al-Baghawi, 8/332).

Baca Juga  Memahami Kemukjizatan Al-Qur’an Secara Ontologi dan Epistemologi

Tidak cukup sampai di situ, Rasul pun tetap amanah menyampaikan wahyu meski menyangkut teguran untuk dirinya, bahkan Rasulullah justru senantiasa memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum dan senantiasa memperhatikannya meski seorang buta tersebut pernah menjadi alasan Allah menegurnya.

Hal yang juga perlu dicatat oleh kita semua adalah agar tidak pandang bulu dalam berdakwah. Sebab kisah ini bisa memberi kita pelajaran, bahwa yang kaya terkadang tidak menerima dakwah karena kesombongannya, dan yang miskin justru yang semangat menerima dakwah, sehingga dapat menjadi wasilah pahala yang mengalir karena ilmu yang kita sampaikan bermanfaat dan diamalkan.

Wallah a’lam.

Editor: An-Najmi