Ketika kita mengkaji kemukjizatan al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW adalah tokoh sentral yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun ummiy dan tanpa pendidikan formal, dia menyampaikan berbagai pengetahuan, termasuk yang bersifat ghaib, mengenai masa lalu, masa depan, dan alam semesta dalam al-Qur’an. Bahkan, banyak pengetahuan modern tersirat dalam al-Qur’an meskipun belum dikenal pada zamannya.
Kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek Aspek Bahasa
Secara etimologis, “al-Bayani” berasal dari kata “bayān” yang berarti “penjelasan”. Kata “al-Bayani” merujuk pada segala bentuk penyampaian informasi dengan cara yang sangat jelas, efektif dan menggugah pemahaman. Dengan menggabungkan pengertian i’jâz (mukjizat), maka I’jaz al-Bayani dalam konteks al-Qur’an mengacu pada kemampuan luar biasa gaya bahasa al-Qur’an dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi dengan cara yang sangat jelas, indah, dan kuat dalam membuktikan kebenaran al-Qur’an (Nasir, 2012).
Kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek bahasa al-Qur’an dapat dilihat dari nada dan langgam al-Qur’an, pilihan kalimat yang singkat tapi padat, pemuasan para pemikir dan orang kebanyakan, keindahan dan ketepatan maknanya, dan pemuasan akal dan jiwa (Ilyas, 2013).
Dalam hal nada dan langgam al-Qur’an, ketika ayat-ayat al-Qur’an dilantunkan, akan terasa keharmonisan dan ritme yang mengalun dengan indah. Salah satu contohnya adalah Q.S. Al-Qari’ah ayat 1-11. Bacalah, ayat 1-3 dengan langgam sendiri, ayat 4-5 dengan langgam sendiri kemudian ayat 6-11 dengan langgam yang berbeda, tetapi kedua-duanya indah didengar telinga.
***
Al-Qur’an memiliki keistimewaan pada pilihan kalimat yang singkat tapi padat. Salah satu contohnya adalah pada Q.S. Ar-Ra’d ayat 26. Di dalam Tafsir Jalalayn dijelaskan bahwa Allah meluaskan rezeki, melebarkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Inilah pilihan kalimat yang singkat dan padat, tiada yang berhak mempertanyakan kenapa Allah SWT memperluas rezeki kepada seseorang dan mempersempit kepada yang lainnya.
Ayat-ayat al-Qur’an dapat memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan, baik orang awam maupun para ilmuwan. Salah satu contoh adalah pada Q.S. Al-Waqi’ah ayat 71. Orang awam sudah faham bahwa dari zaman sebelum ditemukan korek api, kayu terbakar dengan cara menggosok-gosokkannya. Ahli fisika dapat menerima hal ini karena dengan menggosok-gosokkannya, panas akan terjadi dan akhirnya dapat membakar kayu.
Al-Qur’an menggambarkan sesuatu dengan indah dan maknanya tepat, diantanya pada Q.S. As-Saffat ayat 6. Tentulah sangat indah ketika kita melihat langit yang terdekat dengan bumi dengan hiasan berupa planet dan bintang yang bersinar, dengan ukuran dan posisi yang berbeda-beda dalam pandangan mata di bumi.
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (Q.S. As-Saffat ayat 6)
وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ (Q.S. An-Nahl ayat 6)
Dengan menelaah tafsir Quraish Shihab, pandangan yang indah pada Q.S. An-Nahl ayat 6 tersebut, maknanya tepat, yaitu kesenangan ketika melihat hewan-hewan ternak itu memakan makanannya dengan cepat, dan ketika melihat mereka tempat penggembalaan dalam keadaan kenyang dan penuh dengan susu.
Al-Qur’an dapat memuaskan akal dan pikiran sekaligus. Sebagai contoh pada Q.S. Al-Baqarah ayat 179, yaitu tentang perintah puasa. Tentunya masuk akal bahwa orang yang sakit, atau dalam perjalanan yang melelahkan boleh tidak berpuasa, namun tetap wajib menggantinya. Bahkan orang yang mempunyai riwayat sakit berat, maka kewajiban puasa dapat diganti dengan membayar fidyah. Sehingga benar-benar perintah Allah dapat dijalankan dengan ikhlas dan puas baik akal maupun pikiran.
Kemukjizatan al-Qur’an dalam Aspek Balaghah
Dalam ilmu balaghah, ada tiga cara untuk menganalisis keindahan al-Qur’an, yaitu melalui ungkapan-ungkapan yang bermakna sama, ungkapan-ungkapan yang disesuaikan dengan kondisi di sekitar pengucapnya, dan ungkapan-ungkapan yang indah kata dan maknanya. Dalam konteks kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek I’jaz al-Bayani, maka cara pertama inilah yang digunakan, dengan bentuk tasybih, majaz dan kinayah.
Menurut istilah, tasybih berasal dari kata syabbaha-yusyabbihu-tasybihan, yang memiliki makna menyerupakan seperti lafaż at-Tamsil dengan kata lain pada satu sifat atau beberapa sifatnya. Hal ini dilakukan dengan menggunakan huruf “kaf” atau yang sejenisnya, baik secara tertulis maupun tersurat (Assarwani, 2013). Salah satu contoh ayat al-Qur’an yang mengandung tasybih, adalah Q.S. Al-Baqarah Ayat 74.
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
(Q.S. Al-Baqarah Ayat 74)
Pada Q.S. Al-Baqarah Ayat 74 tersebut, Allah SWT menggambarkan kerasnya hati orang Yahudi dan menyerupakannya seperti batu (كَالْحِجَارَةِ) yang merupakan benda yang keras. Unsur tasybihnya terletak pada lafaż lafaż qulub (hati) disamakan dengan batu, dan termasuk tasybih mursal (tasybih yang disebutkan adat tasybihnya). Titik persamaan sifatnya (wajhu al-syabah) adalah pada batu karena hati mereka tidak mau menerima kebenaran.
***
Selanjutkan Allah SWT menambahkan ungkapan “bahkan lebih keras lagi” yang maksunya lebih keras dari batu. Hal ini dengan adanya kata قَسْوَةً sebagai wajhu al-syabah yang disebutkan tasybih mufassal. Tasybih mufasshal adalah tasybih yang wajh al-syibhnya (kesamaan sifat yang dibandingkan) jelas di sebutkan (Rachim & Nuruddien, 2023).
Majaz secara etimologi berasal dari kata “Jaaza-wajuuzu-majazan”, dan bentuk masdar dari kata tersebut adalah majaz. Namun, dalam istilah, majaz merujuk pada lafaż yang digunakan dalam arti yang bukan aslinya, karena ada hubungan (alaqah) tertentu serta adanya indikator (qariinah) yang menghalangi pemahaman makna sebenarnya (Bahrudin dkk., 2022). Salah satu contoh ayat al-Qur’an yang mengandung unsur majaz adalah Q.S. Yusuf ayat 82.
وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
(Q.S. Yusuf ayat 82)
Di dalam ayat ini tersimpan lafaz yang tersembunyi sebelum lafaz ٱلْقَرْيَةَ (negeri), yaitu lafaz أهل (penduduk). Bentuk ini termasuk pada majaz Al-hadzfu atau an-naqsu, yaitu majaz yang mengandung lafadz yang disembunyikan.
Isti’arah secara etimologi, berasal dari kata “ista’ara-yasta’iru-isti’aran”, yang berarti meminjam, atau penggunaan kata-kata di luar konteksnya yang seharusnya, karena adanya keterkaitan makna (Assarwani, 2017). Salah satu contoh ayat al-Qur’an yang mengandung unsur ini adalah Q.S. Ali Imran ayat 106.
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
(Q.S. Ali Imran ayat 106).
Pada Q.S. Ali Imran ayat 106 terdapat pada lafaż ذُوقُوا الْعَذَابَ di mana orang-orang kafir diancam dengan adzab, namun menggunakan bahasa yang sebenarnya digunakan untuk merasakan hidangan, yaitu ذُوقُو. Mereka diberi adzab seakan-akan merasakan hidangan, tetapi digantikan oleh adzab yang sangat mengerikan. Hal termasuk isti’arah al-Tabi’iyyah al-Makniyyah, yang merujuk pada penggunaan kata-kata yang dipinjam berupa isim musytaq atau isim mubham.
Editor: An-Najmi


























Leave a Reply