Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Al-Baqarah Ayat 23: Tantangan Allah Untuk yang Meragukan Al-Qur’an

tantangan
Sumber: https://www.nytimes.com/2

Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi umat manusia. Kitab ini memiliki prinsip-prinsip dasar dalam segala kehidupan manusia dan merupakan kitab universal. Petunjuk ini tentunya menjadi sebuah pilar utama agama Islam. Yaitu sebagai way of life yang menjamin kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat kelak (Muhammad Chirzin, Permata Al-Qur’an, 03). Tulisan ini mengkaji ayat yang berisi tantangan kepada mereka yang meragukan Al-Qur’an.

Segenap manusia yang menghayati dan memahami firman Allah dengan seksama. Secara implisit akan mengetahui bahwasannya Al-Qur’an tidak menyerupai ajaran tentang dirinya dan ucapan orang lain. (M. Izzuddin Taufiq, Dalil Afaq Al-Qur’an dan Alam Semesta, 78). Perlu diketahui pula, hal demikian tentu tidak ada bekas sedikit pun di benak hatinya yang terkukung dari keraguan.

Lain halnya bilamana di dalam benak hati setiap hamba terkukung oleh keraguan. Tentu dengan jelas akan sulit mengimani keaslian Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi. Hal ini, termaktub dalam firman Allah yang berbunyi:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang AlQuran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal AlQuran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 23).

Tantangan Allah Bagi yang Meragukan

Ayat di atas, menjelaskan bahwa jika meragukan wahyu yang Kami turunkan kepada Muhammad, hamba Kami, dan menuduh Al-Qur’an sebagai buatan manusia, maka coba buatlah yang semacam Al-Qur’an. Kamu tidak sanggup mengerjakan apa yang bisa diperbuat orang lain (M. Hasbi Ash-Shiddieqiy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur, 01/41).

Baca Juga  Kemukjizatan al-Qur’an dalam Aspek Bahasa dan Balaghah

Sungguh tantangan ini sangat gamblang. Tidak usah semua Al-Qur’an. Satu bagian saja, walau yang satu bagian ini tidak sepenuhnya sama. Demikian ayat ini mengajak siapapun agar membuat semacam Al-Qur’an lalu membiarkan mereka memutuskan sendiri. Memang, betapapun kukuhnya kemusyrikan mereka, tak seorang pun yang akan berani berkata bahwa ucapan sastrawan mereka dapat menandingi Al-Qur’an (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, 01/126).  

Sejalan dengan itu, dalam Tafsir Al-Azhar juga menjelaskan bahwa bilamana kamu ragu terhadap sabda yang disampaikan Rasulluah itu benar-benar dari Tuhan. Maka cobalah mengemukakan agak satu surat yang sebanding dengan apa yang dibawakan Muhammad itu! Cobalah. Dan jika tidak sanggup, maka: “Dan panggilah saksi-saksimu selain Allah, jika adalah kamu orang-orang yang benar” (ujung ayat 23) (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 01/141).  

Lantaran demikian, tentunya Allah memberi ancaman kepada siapa pun yang mengingkari janjinya perihal mengarang sebuah kitab yang serupa dengan kualitas Al-Qur’an, hal ini dijelaskan dalah firman Allah yang berbunyi:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Artinya: “Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 24).

Ancaman Neraka untuk Orang Kafir

Ayat فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا menunjukkan terbuktinya ketidaksanggupan secara total untuk menyaingi Al-Qur’an. Sekaligus menunjukkan bahwa orang-orang kafir pantas disiksa ke dalam neraka lantaran mereka mengingkari kenabian Muhammad saw dan tidak mengimani Al-Qur’an. Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang takut kepada neraka pasti tidak menentang seruan Islam (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, 01/74).

Baca Juga  Keistimewaan Al-Qur'an: dari Otentisitas Hingga Sastranya

Sementara luas dari pada neraka sendiri, dengan merujuk sebuah perkataan Ibnu ‘Umar yang dikutip al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani ketika menafsirkan QS. al-Baqarah [2]: 24. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Ya’la bin Umayyah ra bahwasannya Rasulluah saw bersabda, “Lautan adalah Neraka Jahanam (al-Bahr huwa Jahanam)”. Imam Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir meriwayatkan dengan redaksi, “Lautan adalah bagian dari Neraka Jahannam (al-Bahr min Jahannam)” (Muhyiddin Ibn Al-‘Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah, 04/363).

Kesimpulan

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwasannya Al-Qur’an adalah kalamullah, dan yang menjadi hambatan seseorang untuk beriman adalah meragukan wahyu Ilahi. Semoga kita semua yang terlibat menghayati dan memahami Al-Qur’an, dikuatkan hatinya oleh Allah. Akhir kata, wallahu a’lamu bishawab.

Semoga Bermanfaat!