Al-Qur’an merupakan mukjizat yang paling istimewa dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat lain yang diberikan Allah SWT kepada para Nabi. Salah satu keistimewaan Al-Qur’an ialah terdapat pada lafaz atau kosakata yang melimpah dan kaya akan makna. Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa yang dipakai Al-Qur’an menggunakan Bahasa Arab. Menurut pendapat ahli, Al-Qur’an memakai bahasa Arab karena salah satunya merupakan bahasa yang banyak akan kosakata, didalamnya terurai berbagai sinonim kata yang menakjubkan. Contoh saja seperti lafaz makna melihat dalam bahasa Arab memiliki banyak istilah lafaz yang semakna dengan kata tersebut bahkan didalam Al-Qur’an pun demikian.
Sebelum mengkaji lebih lanjut perlu kita ketahui sekilas arti dari melihat dalam bahasa Arab salah satunya ialah nadhara, terbentuk dari sighot fi’il madhi (kata kerja lampau) dari kata dasar nadhara-yanduru. Oleh sebab itu pada artikel ini akan dibahas dan dikaji lafaz nadhara dan hanya terfokus pada lafaz tersebut yang terdapat didalam QS. At-Taubah ayat 127.
Makna Lafaz Nadhara
Menilik dari kitab kamus lisanul Arab menjelaskan bahwa kata نَظَرَ memiliki arti حِسُّ الْعَيْنِ yaitu perasaan mata. Al-Jauhari dalam kitab kamus tersebut juga mengatakan النَّظَرُ (melihat) adalah melihat dengan penuh perhatian menggunakan indra mata, melihat dari keduanya yaitu indra mata dengan bergerak. Dalam penjelasannya juga al-Jauhari memeragakan sebagaimana tertulis dalam perkataannya وَقَدْ نَظَرْتُ إِلَى الشَّيء (dan saya telah melihat ke sesuatu). Maka dapat disimpulkan dari penjelasan kitab kamus tersebut bahwa Nadhara adalah melihat menggunakan indra mata dengan menggunakan keduanya indra tersebut. Adapun perasaan, yakni reflek dari indra mata yang merasakan bahwa ia dalam keadaan melihat.
Lafaz نَظَرَ dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak empat kali yaitu terdapat dalam QS At-Taubah ayat 127, QS. Muhammad ayat 20, QS. As-Shaffat ayat 88, dan QS. Al-Mudatsir ayat 21. Adapun istilah lain yang semakna dengan lafaz ini yaitu بَصَرَ- يَبْصُرُ atau بَصَرُ yang artinya penglihatan dan رَأَى – يَرَى.
Makna Lafaz Nadhara dalam QS. At-Taubah: 127
﴿وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ نَّظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُم مِّنْ أَحَدٍ ثُمَّ انصَرَفُواۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ (١٢٧) ﴾
“Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.”
Surat At-Taubah ayat 127 diatas menjelaskan bahwa setiap kali diturunkan surat, orang-orang munafik selalu berbuat yang tidak senonoh melakukan pengingkaran terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dalam ayat ini memaparkan perbuatan-perbuatan yang dilakukan orang-orang munafik ketika petunjuk itu datang dihadapan mereka. Dengan perilaku mereka perihal ketidakpercayaan dan pemahaman terhadap petunjuk itu maka Allah memalingkan hati mereka.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir memberikan penjelasan bahwa hal ini merupakan pemberitahuan orang-orang munafik, dimana jika diturunkan suatu surat kepada Rasulullah mereka saling melihat satu sama lain seraya berkata: هَلْ يَرَاكُم مِّنْ أَحَدٍ ثُمَّ انصَرَفُوا “Adakah seorang dari (orang-orang beriman) yang melihat kalian? Setelah itu mereka beranjak pergi.” Yaitu, mereka berpaling dan menjauhkan diri dari kebenaran. Maka itulah keadaan orang-orang munafik ketika didunia, mereka tidak teguh dengan kebenaran.
Dari penjelasan tafsir Ibnu Katsir tersebut letak lafaz nadhara dalam ayat ini yaitu tertuju kepada orang-orang munafik dimana ketika Allah SWT menurunkan suatu surat sebagai petunjuk mereka tidak peduli seolah mereka tidak butuh petunjuk kebenaran dan pertolongan Allah SWT lantas mereka melihat satu sama lain dan kemudian berpaling. Untuk memperjelas dari letak makna nadhara dalam QS. At-Taubah: 127 maka dipaparkan lagi melalui munasabat ayat.
Munasabat Ayat Lafaz Nadhara
Munasabat yang dipakai dalam mengkaitkan makna lafaz nadhara ini memakai dua ayat sebelum ayat yang dikaji tepatnya pada QS. At-Taubah ayat 125-126.
﴿وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ (١٢٥) أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ (١٢٦) ﴾
Kandungan kedua ayat ini menjelaskan bahwa sebagian orang-orang munafik didalamnya terdapat penyakit hati. Sehingga apabila ada seruan dari Allah SWT akan bertambah kekafirannya dan mereka akan mati dalam keadaan kafir. Ketika mereka diuji oleh Allah dengan berbagai cobaan, tidak juga bertaubat dan mengambil pelajaran.
Kedua ayat tersebut memiliki keterkaitannya dengan ayat yang lafaznya dikaji yakni pada lafaz نَظَر ini tertuju kepada orang-orang munafik. Dimana telah disinggung pada kedua ayat tersebut bahwa orang-orang munafik didalam dirinya terdapat penyakit hati sehingga ketika Allah SWT menurunkan surat (petunjuk) mereka berpaling. Kemudian kaitannya yaitu apabila diturunkan suatu surat maka diantara mereka saling berpandangan (melihat satu sama lain), disinilah letak munasabatnya. Saling berpandangan ini seolah mereka tidak mempercayainya lantas mereka pergi meninggalkan. Disini Allah memalingkan hati mereka karena mereka adalah kaum yang tidak paham akan petunjuknya. Wallahua’lam bisshawab.
Editor: An-Najmi


























Leave a Reply