Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Intertekstualitas Al-Qur’an dan Tasawuf tentang Waḥdat al-Wujūd

Tasawuf
Sumber: id.pinterest.com

Pembacaan Sufistik: Intertekstualitas dan Penyingkapan Batin Teks

Pendekatan intertekstual pada hakikatnya bukan semata-mata warisan hermeneutika modern, melainkan telah terartikulasi secara mendalam dalam tradisi penafsiran sufistik (tafsīr isyārī). Ibnu ‘Arabi (w. 638 H), misalnya, tidak memosisikan ayat Al-Qur’an dan sunnah sekadar sebagai doktrin normatif-hukum, melainkan sebagai media untuk menyingkap realitas metafisik melalui kepekaan spiritual (dzawq), intuisi batin (kashf), serta pemaknaan simbolik.[1] Dalam kerangka ini, teks hadis mengemban fungsi ontologis sebagai landasan metafisika tafsir, sekaligus fungsi epistemologis yang melandasi keabsahan otoritas tasawuf dalam mengartikulasikan kedalaman makna Al-Qur’an. Kendati pembacaan “mata batin” ini kerap dipertanyakan oleh kalangan rasionalis karena dinilai subjektif, bagi tradisi sufi, metode ini justru merupakan puncak pencerahan intelektual dan spiritual.

Genealogi Epistemik dan Akar Historis Doktrin Waḥdat al-Wujūd

Secara historis, nomenklatur waḥdat al-wujūd (kesatuan wujud) tidak secara eksplisit digunakan dalam karya-karya Ibnu ‘Arabi.[2] Istilah tersebut baru mengemuka secara pejoratif dalam wacana kritis Ibnu Taimiyah beberapa dekade pascakematian Ibnu ‘Arabi.[3] Kendati demikian, hakikat doktrin ini telah mengakar kuat dalam memori kolektif tasawuf klasik. Sufi awal, seperti Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H), telah mengartikulasikan konsepsi kesatuan ini melalui reformulasi kalimat tauhid: “Tidak ada dalam wujud selain Tuhan”.[4] Sejalan dengan itu, al-Ghazali (w. 505 H) dalam Mishkāt al-Anwār menegaskan bahwa para gnostik (‘ārifīn) menyaksikan secara langsung bahwa tiada wujud sejati selain Allah.[5] Ibnu ‘Arabi kemudian memformulasikannya secara komprehensif dalam Al-Futūḥāt al-Makkiyyah dengan menyatakan bahwa “wujud adalah satu dalam realitas, tidak ada sesuatu pun yang menyertainya”.[6]

Baca Juga  Struktur Dasar Weltanschauung Al-Quran

Epistemologi Qur’ani: Dialektika Ayat-ayat Manifestasi

Bangunan pemikiran waḥdat al-wujūd secara konsisten ditopang oleh jalinan ayat-ayat Al-Qur’an. Penafsiran atas QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 88—“Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya”—menjadi artikulasi utama bahwa hanya Allah yang memiliki wujud hakiki, sedangkan entitas selain-Nya sekadar bayangan atau manifestasi (tajallī).[7] Kehadiran Ilahi yang melingkupi realitas ditegaskan melalui QS. Al-Baqarah [2]: 115 (“Ke mana pun kamu menghadap, di situ wajah Allah”), serta QS. Al-Ḥadīd [57]: 3 yang mengintroduksi Tuhan sebagai Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin.[8] Sementara itu, dimensi kefanaan makhluk dan keabadian Ilahi ditarik dari QS. Ar-Raḥmān [55]: 26–27. Ibnu ‘Arabi juga mengaitkan prinsip asal-usul dan muara kembalinya keberadaan melalui QS. Ṭāhā [20]: 55 (“Dari bumi Kami menciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu”) untuk menguraikan siklus ontologis dari kesatuan awal menuju manifestasi dan kembali pada Kesatuan Tunggal.[9]

Kontestasi Epistemologis: Antara Tuduhan Panteisme dan Dialektika Tanzīh-Tasybīh

Konstruksi pemikiran ini tidak sepi dari resistensi teologis. Tokoh-tokoh ortodoksi, seperti Yusuf al-Qaradawi, mengkritik doktrin ini karena dinilai memiliki kemiripan dengan konsep Trinitas Kristen maupun panteisme Hindu.[10] Sementara itu, Ibnu Taimiyah secara tajam mengategorikannya sebagai bentuk kekufuran.[11] Keberatan utama terletak pada kekhawatiran terkikisnya batas ontologis antara Khāliq (Pencipta) dan makhlūq (ciptaan), yang dianggap mencederai prinsip kesucian Tuhan sebagaimana tertuang dalam QS. Asy-Syūrā [42]: 11 (“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”).

Sebaliknya, para pembela doktrin ini—seperti Syed Naquib al-Attas—menolak keras penyamaan waḥdat al-wujūd dengan panteisme Barat maupun Trimurti Hindu.[12] Al-Attas menjelaskan bahwa dalam tasawuf Islam, prinsip transendensi Ilahi tetap terjaga mutlak meskipun alam semesta dipandang sebagai penampakan (tajallī) karya-Nya. Ibnu ‘Arabi sendiri menegaskan sintesis ini dengan menyatakan bahwa Tuhan senantiasa berada dalam kedudukan transenden (tanzīh), meskipun fenomena alam tampak menyerupai penampakan-Nya (tasybīh), sebab Ia tidak pernah serupa dengan apapun kecuali dengan Diri-Nya sendiri.

Baca Juga  Sembahyang

Dekonstruksi Simbol dan Unsur Emansipatif Teks

Melalui pendekatan intertekstual, pemaknaan waḥdat al-wujūd membuktikan bahwa penafsiran simbolik merupakan sarana sufistik untuk menyelami hakikat Ketuhanan tanpa terjebak dalam kekakuan literalisme. Ibnu ‘Arabi menandaskan bahwa simbol-simbol dalam wahyu adalah petunjuk sejati bagi makna yang tersembunyi dalam hati, seraya menegaskan bahwa “jika bukan karena teka-teki (riddle), pernyataan itu akan menjadi kekufuran”.[13] Pada akhirnya, keabsahan doktrin waḥdat al-wujūd sangat bergantung pada kerangka epistemologis yang digunakan pembaca. Bagi kalangan sufi, ia menduduki puncak pencapaian spiritual (ma’rifat); sedangkan bagi mazhab ortodoks, ia berisiko mengaburkan tauhid murni. Dinamika ini memperjelas bahwa Teks Suci senantiasa hidup dan terbuka bagi pengayaan makna lintas zaman.


Daftar Pustaka

[1] Ibnu Arabi, Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-’Arabiyyah al-Kubra., 1911).

[2] W. C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn Al-’Arabi’s Metaphysics of Imagination. (New York: State University of New York Press., 1989).

[3] Ibn Taimiyyah, Majmū’ Al-Fatāwā (Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thiba’at al-Mushaf al-Syarif., 1995). hlm. 68-72.

[4] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, The Intuition of Existence (International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC)., 1990). hlm. 45.

[5] A. H. Al-Ghazali, Mishkāt Al-Anwār (Cairo: Al-Dar al-Qawmiyyah li al-Thiba’ah wa al-Nashr., 1964). hlm. 55.

[6] Arabi, Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah. hlm. 645.

[7] Arabi. hlm. 210.

[8] Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn Al-’Arabi’s Metaphysics of Imagination. hlm. 132.

[9] Arabi, Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah. hlm. 182.

[10] Yusuf Qardhawi, Fatawa Mu’asirah (Kuwait: Dar al-Qalam, 1996). hlm. 102.

[11] Taimiyyah, Majmū’ Al-Fatāwā. hlm 75.

[12] Al-Attas, The Intuition of Existence. hlm. 62.

[13] Arabi, Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah. hlm. 301.

Baca Juga  Nilai-Nilai A-Qur'an dalam Pandangan Hidup Bangsa

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID

Mahasiswa Magister Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta