Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Idulfitri: Menyadari Kembali Fitrah Manusia

Fitrah
Gambar: https://www.diadona.id/

Manusia diciptakan oleh Yang Maha Suci. Ruh manusia ditiupkan oleh Yang Maha Suci. Manusia pada dasarnya suci dan ia pun berupaya untuk selalu menyucikan diri. Sebab, ia berasal dari Yang Maha Suci dan pasti ia kembali pada-Nya yang diharapkan dalam keadaan suci kembali.

Idulfitri diraih manusia setelah proses penyucian diri. Puasa Ramadan menjadi wahana pelatihan untuk menyucikan diri. Dengan ibadah puasa dan pengiringnya, manusia sedang dalam proses penyucian diri. Ramadan telah membakar dosanya. Rasa lapar mendekatkan diri pada-Nya. Ibadah yang dilakukannya menjadi tahapan dan aktivitas penyucian diri.

Kata idulfitri dibentuk dari dua kata, yaitu ‘id yang berarti hari raya atau ada pula yang mengartikan kembali dan al-fitr yang salah satunya artinya adalah suci. Dari arti ini, secara bahasa, ada yang berpendapat bahwa idul fitri diartikan kembali pada kesucian.

Kata ini diidentikan pada sebuah proses dan waktu setelah puasa Ramadan. Sepanjang penelusuran referensi, Idulfitri hanya dihubungkan dengan proses setelah Ramadan. Ramadan yang dinyatakan selesai, esoknya masuk 1 Syawal dan disitulah Idulfitri berlaku.

Kata fitri bisa berbentuk kata lain yaitu fitrah. Kata ini sering dikaitkan dengan kejadian awal manusia dengan ruhnya yang suci. Lantas, apa makna fitrah bagi kehidupan manusia?

Makna Fitrah

Fitrah berasal dari kata fathara dengan rangkaian huruf fa, tha, dan ra. Kata ini diartikan sebagai bentuk kejadian awal, kesucian, dan ciptaan pertama yang belum ada contoh sebelumnya.  Dalam Kamus al-Maany (2022) disebutkan bahwa kata fitrah bermakna fitrah, sifat, watak dasar, karakter, dan naluri. Adapun kata fathara bermakna menciptakan, membuat, dan menimbulkan. Secara istilah fitrah diartikan sebagai kejadian awal yang sempurna atau kodrat yang lurus yang manusia diciptakan di atasnya (Dorar, 2022).

Baca Juga  Pemahaman Muslim Moderat tentang Jalan Keselamatan Non-Muslim

Fitrah dalam bahasa Arab berarti bentuk ciptaan pertama (al-khalqah) atau celupan atau blueprint (al-shibgah) penciptaan manusia. Manusia diciptakan memiliki karakter dasar yang melekat bahwa ia adalah manusia. Inilah yang membedakan antara bentuk ciptaan awal manusia dengan makhluk lainnya.

Fitrah bermakna pula kesucian. Hal ini menguatkan bahwa manusia pada dasarnya suci. Manusia dilahirkan ke dunia telah membawa kesucian. Manusia tidak berdosa ketika ia pertama kali lahir ke dunia. Ketika ia berhubungan dengan dunia, timbullah proses yang mengganggu kesuciannya karena terkadang ia diliputi oleh dosa. Lingkungan dalam hal ini sangat berpengaruh terhadap terganggungnya kesucian manusia.

Abdul Mujib (1999) dalam buku Fitrah dan Kepribadian Islam berpendapat arti fitrah yang berarti penciptaan merupakan makna yang lazim dipakai dalam penciptaan manusia, baik penciptaan fisik maupun psikis.  Menurutnya,  kata fitrah biasanya disejajarkan dengan kata al-‘amr, al-bad’, al-ja’l, al-khalq, al-shum’u, dan al-nasy’. Semua term tersebut secara umum memiliki makna yang sama yakni penciptaan.

Akan tetapi masih menurut Abdul Mujib (1999) untuk menggeneralisasi proses penciptaan manusia menurut para ahli lebih tepat digunakan kata fitrah. Di samping cakupannya luas, yang mencakup semua term di atas, fitrah juga menunjukan kekhasan penciptaan manusia, baik penciptaan fisik, psikis, maupun psikofisik.

***

Senada dengan makna fitrah yang dihubungkan dengan kesucian, setidaknya terdapat dua hal yang melandasinya. Pertama, manusia cenderung untuk mencari kebenaran, meskipun kebenaran bersemayam dalam hati. Dengan dorongan ini, manusia ingin menjadikan dirinya suci. Hatinya berkecenderungan untuk mencari kebaikan, kebenaran, dan kesucian. 

Kedua, manusia pada dasarnya ingin ikhlas dan suci dalam perilakunya. manusia ketika dilahirkan membawa atau dilengkapi dengan berbagai sifat yang melekat pada dirinya. Salah satu diantaranya adalah kemurnian atau keikhlasan dalam menjalankan amalan atau aktivitas.

Baca Juga  Sebab Ramadan Menjadi Bulan Ampunan dan Keberkahan

Dalam al-Qur’an kata fitrah ditemukan pada QS ar-Rum: 30. Pada ayat ini disebutkan Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (al-Qur’an Kemenag RI, 2022).

Pada ayat ini kata fitrah diwakili oleh redaksi fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu (فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ). Kata ini disebut setelah pernyataan untuk menghadapkan wajah pada agama yang lurus yaitu Islam.  Kata fitrah pada ayat ini bermakna ciptaan Allah Swt. Manusia diciptakan Allah Swt. dengan naluri beragama, yaitu agama tauhid. Jadi, manusia yang berpaling dari agama tauhid telah menyimpang dari fitrahnya. (Al-Qur’an Kemenag RI, 2022).

***

Terkait ayat ini, dalam Tafsir al-Jalalain (1998) disebutkan bahwa Maka hadapkanlah bermakna cenderungkanlah dirimu kepada agama Allah. Hal ini dilakukan dengan mengikhlaskan diri dan orang-orang yang mengikuti di dalam menjalankan agama-Nya sesuai dengan fitrah Allah yaitu ciptaan-Nya. Maknanya adalah tetaplah atas fitrah atau agama Allah.  Itu adalah agama tauhid yang lurus. Janganlah kalian menyekutukannya. Namun kebanyakan manusia) tidak mengetahui) ketauhidan atau keesaan Allah seperti halnya orang-orang kafir Mekah.

Senada dengan Tafsir al-Jalalain, dalam Tafsir Kementerian Agama (2022) disebutkan pula bahwa Nabi Muhammad diperintah untuk meneruskan tugasnya dalam menyampaikan dakwah, dengan membiarkan kaum musyrik yang keras kepala itu dalam kesesatannya.

Kalimat “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah”, mengandung perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengikuti agama yang lurus yaitu agama Islam, dan mengikuti fitrah Allah.

Baca Juga  Mengendalikan Hawa Nafsu: Jihad Akbar dalam Islam

Masih dalam Tafsir Kementerian Agama (2022), bahwa kalimat ini berarti juga bahwa Allah memerintahkan agar kaum Muslimin mengikuti agama Allah yang telah dijadikan-Nya bagi manusia. Kata fitrah di ayat ini yang diartikan agama karena manusia diperintah untuk melaksanakan agama.

Hal ini selaras dengan maksud firman Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS Adz-Dzariyat/51: 56). Selain itu, penyebutan kata wajah atau muka karena merupakan tempat berkumpulnya semua panca indera, dan bagian tubuh yang paling terhormat.

Makna Idul Fitri

Idul fitri bukan hanya Hari Raya setelah melaksanakan puasa Ramadan sebagai simbol kemenangan jiwa. Idulfitri menyiratkan makna mendalam bagi kehidupan manusia. Idulfitri mengingatkan kembali manusia akan fitrahnya. Apa yang ada di dalamnya memantik kembali kesadaran.

Pertama, puasa Ramadan merupakan wahana untuk meraih kembali proses untuk menyucikan diri. Ramadan melatih manusia untuk meninggalkan kekotoran dan dosa, lalu diganti dengan menghiasi diri dengan segenap kebaikan. Ramadan membakar dosa manusia sehingga ia dapat menampilkan kembali diri yang penuh kesucian. Kedua, idulfitri mengingatkan kembali manusia bahwa dirinya berasal dari kesucian, menjalani kehidupan harus tetap berproses pada meraih kesucian, dan kembali kepada-Nya dengan penuh kesucian. Wallahu A’lam.

Penyunting: Bukhari